Halaman

Selasa, 15 Januari 2013

JONGKEY / YAOI / DONT SAY GOODBYE TO ME (PART 3)

“Drrrtttt. .drrttttt. .” HP key bergetar di atas meja ruang tamu. Saat ini key sedang menata meja makan dengan sangat indah, di hiasi lilin-lilin dan berbagai masakan yang menggugah selera. Tak lupa bunga mawar putih yang beberapa jam sebelumnya ia beli di toko, terpasang serasi dengan vas kristal bening. Ia berencana meminta maaf pada jonghyun dengan mengajaknya makan malam romantis.

“Semua sudah siap” kata key puas, mendapati kini meja makan telah disulap indah. Tersungging senyum tipis di bibir mungilnya. Ia buru-buru berlari ke ruang tamu, karena HP nya terus bergetar seakan tak sabar untuk segera diangkat.

“Yeoboseo” key mengangkat HPnya.

“Ku tunggu ditaman kota, sekarang” kata seseorang dari seberang telepon, tak lain adalah jonghyun.

“Jjong, mian. .” belum selesai key bicara, sambungan telepon telah terputus.

Key menunduk lesu. Merasa bersalah. Mungkinkah jonghyun masih marah padanya? tanya key dalam hati. “Anni, kalau dia masih marah tak mungkin menelepon dan menganjak ku bertemu” key mencoba menghibur dirinya sendiri.  Diliriknya jam yang melingkar di tangan kirinya, pukul 23.37. Dengan segera, key berlali ke luar rumah takut jonghyun menunggunya lama. Bahkan ia tak sempat memakai mantelnya, ia hanya mengenakan kaos tipis dan jeans, padahal udara sangat dingin. Benar saja, baru beberapa langkah dari keluar rumah tubuh key menggigil, udara dingin tak segan menabrak kulitnya yang pucat. Key tak menghiraukan keadaanya saat ini, ia hanya berharap segera sampai ke taman kota bertemu jonghyun dan meminta maaf.

**********

“Hosh. .hosh. .hosh” uap putih mengepul keluar dari mulut key, yang segera berpendar dan menyatu dengan udara dingin. Key masih mengatur nafasnya yang tersengal. Ia berlari dari rumah jonghyun sampai ke taman kota, karena ia tak menemukan taxi, mengingat ini sudah larut malam. Bukannya tak ada taxi hanya saja itu memerlukan waktu untuk menunggu. Jarak rumah jonghyun dengan taman tak begitu jauh, hanya perlu berjalan 30 menit sudah sampai. Tapi kali ini berbeda, key menempuhnya dalam waktu 15 menit, karena ia berlari. Tak mau mengecewakan jonghyun lagi, pikir key. Ia pendarkan pandangannya menyapu setiap sudut taman, mencari sesosok namja yang ia cintai. Mata key menyipit, seolah menemukan siluet yang ia cari. Siluet itu berdiri memunggunginya. Hanya berjarak beberapa meter. Segera ia menghampiri.

**********

Key POV

“Jjong, apa kau lama menunggu ku?” tanyaku setelah tepat berada di belakang namja, yang bisa kupastikan itu adalah jonghyun. Jujur, kusedikit takut.

Seketika jonghyun menoleh, ia tersenyum. Ya Tuhan mimpikah aku? tanyaku dalam hati.

“Anio key, ayo kita duduk” kata jonghyun, mengajakku duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini.

Hening beberapa saat, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Dulu. .sebelum aku bertemu dengan mu, ku pernah punya namjachingu. Ia bernama taemin. Aku sangat menyayanginya. Hingga suatu ketika karena kecerobohanku, ia menghilang” akirnya jonghyun memulai pembicaraan.

Kumiringkan kepalaku menyimak setiap ceritanya. Ia mengulum senyum, entah mengapa aku merasa aneh. Tak seperti biasa.

“Tapi hari ini aku bahagia, karena akan segera bertemu dengannya lagi” ucap jonghyun lagi.

Keningku mengkerut, benar-benar tak paham dengan apa yang di bicarakan jonghyun saat ini, “apa maksud mu jjong?” tanyaku.

Jonghyun menoleh, ia menatap wajahku lama. Bibirnya terbuka, seperti akan mengatakan sesuatu. Hingga sebuah mobil hitam terparkir di depan kami. Spontan kami berdua menoleh kearah mobil itu. Aku tak bisa melihat siapa yang berada di dalam mobil, karena kaca mobil yang gelap. Jonghyun bangkit dari duduknya, menatap lekat. Aku pun ikut bangkit, mengikuti arah pandang jonghyun. Akhirnya 2 orang namja keluar dari mobil itu. Salah seorang dari namja itu memakai setelan jas hitam, dan satunya memakai jaket dengan hodie menutup kepalanya.

**********

Author POV

Key mempertajam matanya. Tiba-tiba badan key bergetar, mundur beberapa langkah. Terlihat bias ketakutan diwajahnya. Matanya tak lepas memandang namja jangkung yang memakai setelan jas hitam. Dengan susah payah key menelan ludahnya. . .

“M. .minho” lirih key lemah.

**********

“Kajja” ucap jonghyun sembari menggandeng tangan key.

“Shireo” tolak key.

Jonghyun pun menoleh kearah taemin dan namja jangkung itu, ada perasaan ragu di hatinya. Benarkah ini akan menjadi pilihannya? Dilihatnya taemin sepintas, terlihat lebih kurus, wajahnya juga sedikit pucat. Tak ada ekspresi, wajahnya datar. Sementara namja jangkung itu memeluk bahu kurus taemin dengan salah satu tangannya yang kekar. Tersenyum, entah apa maksudnya. Terlihat mengerikan, walaupun wajahnya sangat tampan.

Jonghyun memejamkan matanya, sepenggal bayangan masa lalunya kembali berputar dalam ingatannya. . .

“hyung, kelak apakah kau akan terus mencintaiku?” tanya taemin lugu, bersandar pada bahu kekar jonghyun.

“tentu chagi, hari ini, besok, lusa, dan selamanya. .aku akan selalu mencintai mu” jawab jonghyun mantap.

Dibuka matanya perlahan, kembali pandangannya tertuju pada sosok key.

“Kajja” ucap jonghyun lagi.

“Shireo jjong” jawab key lagi, kali ini di peganginya pergelangan tangan jonghyun erat, mencoba menahannya agar tidak pergi.

Key menggelengkan kepala. Wajahnya benar-benar pucat. Dipandanginya wajah jonghyun, menatap kedalam manik mata hazelnya.

“Kau telah berjanji padaku jjong, kau akan melindungiku. .membahagiakan ku” lirih key menahan isak tangisnya.

“Jjong, kumohon. .” key mengiba, air matanya menggenang di sudut mata kucingnya.

Pandangan key dan jonghyun bertemu, saling berbagi rahasia hati yang sulit di ungkapkan. Tapi di luar dugaan, jonghyun melepaskan tangan key yang berusaha menahannya. Menyentaknya dengan kasar, hingga tautan tangan mereka terlepas paksa. Jonghyun berbalik, meninggalkannya. Menghampiri taemin, memeluknya erat. Seakan menumpahkan rasa rindunya selama ini, dibelainya rambut taemin dengan mesra.

“J. .jj. .jjong. .” ucap key terbata, tangannya memegang dada kirinya yang terasa sangat sakit.

**********

Jonghyun POV

Kupeluk bahu taemin, berjalan beriringan meninggalkan key di belakangku, dengan namja jangkung yang memaksanya masuk kedalam mobil. Key meronta, menjerit histeris. Masih bisa ku dengar dia memanggilku, meneriakkan namaku. Sungguh, entah mengapa hatiku terasa sangat sakit, mendengarnya menjerit pilu memanggil namaku. “Bukankah ini pilihanku? Keinginanku? Yah. .ini yang terbaik, aku bisa menebus rasa bersalah ku pada taemin” batinku. Ku menoleh untuk terakhir kalinya, kulihat key berontak dalam pelukan namja jangkung itu. Dia memandangku sedih, dapat kulihat jelas setetes air mata lolos menyapu kulit wajahnya. Tangannya terulur kearahku, seakan ingin menggapaiku. Segera ku palingkan wajahku, tak ingin melihatnya lebih. Tak lagi kudengar suaranya yang meneriakkan namaku, hanya deru mobil yang semakin menjauh dari tempatku berada.

**********

Author POV

Jonghyun memapah tubuh taemin masuk kedalam rumahnya. Didudukkannya tubuh kurus taemin di sofa ruang tamu. Ia hendak ke dapur mengambil air minum, tiba-tiba pandangannya terhenti pada meja makan. Lama, hanya terpaku. Diambilnya sebuah kartu berwarna merah muda berbentuk hati, tak berniat membuka dan membacanya, hanya memandang sekilas lalu di masukkannya lagi ke saku jaketnya. Dengan segera jonghyun menuang air minum ke gelas dan kembali ke ruang tamu, menyerahkannya pada taemin.

**********

Dipandanginya taemin yang saat ini tertidur pulas. Sejak awal bertemu taemin tak pernah bersuara, hanya terkadang mendengungkan sesuatu yang tak jelas. Mungkin masih shock, pikir jonghyun. Jonghyun beranjak bangkit dan menuju meja kerjanya, menyandarkan pantatnya pada pinggiran meja. Matanya menerawang keluar jendela, menatap langit berhiaskan bulan. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang.

**********

Keesokan harinya,

Jonghyun duduk berhadapan dengan taemin. Tapi masih sama, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut taemin. Pandangannya kosong. Bahkan makan pun, jonghyun yang menyuapinya, setelah terlebih dulu delivery.

“Minnie. .mian, apa kau masih marah hingga tak mau berbicara padaku? Aku tau, aku namja pabo yang tak bisa menjaga namjachingunya sendiri” sesal jonghyun sambil menangkup wajahnya, frustasi.

“Tapi. .tak bisakah kau memaafkan ku, memberiku kesempatan untuk memperbaikinya? pinta jonghyun memelas.

Tak ada tanggapan. Jonghyun menyadari, mungkin perlu waktu untuk taemin memaafkannya. Jonghyun bangkit dari duduknya, menatap taemin sendu.

“Istirahatlah, aku akan membereskan sisa makanan kita dulu” ucap jonghyun hendak meninggalkan taemin. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Jonghyun menoleh, didapatinya tangan taemin menahan pergelangan tangannya.

“Hyung” lirih taemin, memandang jonghyun dengan tatapan sendu.

“Minnie. .kau, kau memanggilku?” tanya jonghyun tak percaya.

Tak ada jawaban, hanya sebuah anggukan kecil dari taemin. Jonghyun segera menghambur, memeluk tubuh kurus taemin, erat, seakan tak ingin kehilangannya lagi.

Sementara itu di lain tempat. . .

Sesosok namja tangannya terikat di pegangan kursi, dengan mulut terbungkus plester. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang menyeruak masuk ke dalam pupil matanya. Beberapa saat, setelah nyawanya terkumpul, menyadari keberadaan dirinya di sebuah gudang tua.

“Sweety, kau sudah bangun eum?” tanya sesosok namja yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.

“Mian. .kemarin aku terpaksa membius mu karena kau terus berontak” ucapnya lagi.

Key menoleh, ekor matanya mengikuti arah gerak namja itu. Mata key mendelik, marah. Ditatapnya sesosok namja itu tanpa berkedip. Kini namja itu tepat dihadapan key, memandangnya sesaat, lalu membuka plester di mulutnya.

“Kenapa matamu melotot sweety? Tak rindukah kau dengan ku eum?” tanya namja itu sambil tersenyum.

“Aku merindukan mu. .mata, hidung, pipi, dagu dan bibirmu” kata namja itu lagi, mengelus tiap bagian yang ia sebutkan.

Perlahan namja itu mendekatkan wajahnya, jaraknya hanya beberapa senti dari wajah key. Bahkan nafas hangatnya terasa dipermukaaan kulit key. Key terhenyak dengan perbuatan namja itu. Wajahnya melengos. Tapi dengan segera ditahan namja itu, agar kembali memandangnya.

“Terutama bibir mu sweety” ucap namja itu seduktif. Menahan dagu key, lalu memagut bibirnya.

Tak ada suara. Hanya tetes air mata yang keluar dari sudut mata key. Namja itu menyadari, dan menghentikan kegiatannya. Diusapnya lembut permukaaan wajah key yang basah dengan ibu jarinya.

“Kenapa menangis sweety?” tanya namja itu lembut.

“Apa kau masih marah? Baiklah aku berjanji tak akan main-main dengan namja lain lagi. Kau sendiri lihat kan? Aku sudah mengembalikan salah satu namja pada pemiliknya?” jelas namja itu panjang lebar.

“Kau bilang apa? Salah satu? Lalu bagaimana dengan namja lainnya yang masih kau sekap? Dan aku tak pernah melupakan perbuatanmu terhadapku waktu itu!!” sengit key.

“Sweety. .‘mereka’ adalah asetku. Tapi aku berjanji mulai sekarang hanya kau yang aku cintai, tak ada namja lain. Kau juga bukan salah satu dari ‘mereka’, jadi aku tak berniat mengulanginya lagi” ucap namja itu sambil mencium punggung tangan key yang terikat.

“Kita akan segera pergi dari korea sweety, kita akan hidup bahagia bersama” ucap namja itu sembari bangkit dan meninggalkan key.

“Kau. .b*jing*n! aku membenci mu MINHO!!!” umpat key, mendelik tajam.

Namja yang merasa namanya dipanggil, menoleh dengan senyum terkembang.

“Saranghae sweety” katanya, sebelum benar-benar meninggalkan key sendiri.

Kembali, air mata menetes di wajah cantik key.

“Kau gila minho” ucap key di sela isak tangisnya.

 

>flashback on<

Key POV

“Minho, apa yang kau lakukan!! Kenapa kau menjualku pada pria tua brengsek itu!! Teriak ku tepat di muka minho.

“Ssssstttttt. .pelankan suara mu sweety, kau bisa membuat rencana ku berantakan! bujuk minho.

“Kau bercanda kan? Kau tak berencana menjual kekasihmu sendiri hanya karena tawaran uang dari pria brengsek itu kan?? tanya ku, tapi lebih mirip seperti bentakan.

Yak, bahkan aku baru tau beberapa waktu yang lalu kalau minho, namjachinguku ternyata seorang bos besar dalam kasus perdagangan manusia. Ia sangat rapi menutupi identitasnya dariku. Aku mengenalnya pertama saat tiba di seoul, dia menawariku bekerja sebagai pelayan di sebuah kapal, yang ternyata adalah miliknya sendiri. Ia sendiri berpura-pura sebagai ABK di kapal. Aku pun tak menaruh curiga. Hingga suatu hari ia menyatakan cintanya padaku, dan bodohnya aku menerimanya hanya karena sikap palsunya itu. Hingga suatu saat aku memergokinya disebuah kamar bersama namja lain sedang melakukan ‘itu’, tak perlu ku jelaskan tentu kalian sudah mengerti maksudku. Bahkan denganku sekalipun ia tak pernah melakukannya, bukan karena aku iri. Aku merasa terkhianati. Seketika itu seluruh rasa cintaku menguap tak bersisa, aku menyesal pernah mencintainya. Dia terlihat kaget ketika aku memergokinya. Aku berlari meninggalkannya. Ia beranjak dan mengejarku setelah sebelumnya memakai pakaiannya terlebih dulu. Entah bagaimana caranya, ia berhasil mengejarku. Ia bersujud dan menangis dihadapanku, meminta maaf. Setan apa yang merasuki pikiranku hingga dengan mudah ku terjerat kembali dalam perangkapnya. Tapi sekarang beda kasusnya, ia menjualku pada rekan bisnisnya dari prancis. Pria tua hidung belang.

“JAWAB AKU BR*NGS*K!! APA KAU BISU HAH!!” umpatku, entah sejak kapan aku bisa memaki orang seperti ini, ini bukan diriku .

“PLAKK!!” tiba-tiba minho menamparku dengan sangat keras, membuat tubuhku terpelanting ke lantai.

“Jangan bicara kotor padaku sweety, atau aku akan berbuat kasar padamu eum” seringai minho.

Kuseka ujung bibirku yang berdarah, sobek karena tamparannya tadi. Kutersenyum padanya, berniat meremehkan.

“Apa sekarang kau puas, minho? Hahahaa. . .” mungkin aku sudah gila, bukannya takut dan menangis, justru sekarang aku menertawakannya.

“Apa karena tamparanku, kau mendadak gila sweety?” hina minho padaku.

“Sepertinya begitu. .hahaha, sekarang aku tau siapa dirimu, kau tak lebih dari KO-TO-RAN!! kata ku penuh penekanan pada tiap bagiannya.

“Aku tak akan lagi tertipu, dan masuk perangkapmu!!” bentak ku kemudian.

Kulihat raut wajahnya berubah. Sorot matanya menatapku tajam, penuh kilat amarah. Rahangnya tertutup rapat. Tangannya terkepal, seluruh badannya pun ikut menegang. Tapi tiba-tiba ia tersenyum, membuatku sedikit ngeri.

“Bawa dia” perintah minho pada salah satu anak buahnya disudut ruangan.

“Sweety. .akan ku jadikan kau parsel untuk rekan kerjaku, aku yakin dia pasti sangat senang” ucap minho kemudian dengan senyum terkembang.

“Tidak! dia benar-benar gila. Apa maksud perkataannya barusan?” tanyaku dalam hati. Berganti, kini kurasakan tubuhku yang menegang.

Minho meninggalkanku, menyisakan kedua anak buahnya yang sekarang menatapku seolah ingin memakan ku hidup-hidup. Mereka semakin mendekat dan. . .

“Tidaaaaaakkkkkk” teriak ku sekuat tenaga.

>flashback off<

**********

Author POV

“Jjong. .”

“Jjong. .”

Kepala jonghyun bergerak kekiri dan kekanan, tak tentu arah. Keringat di kening jonghyun terlihat jelas, membanjiri permukaan kulit wajahnya yang kecoklatan. Terlihat mengkilap, dibawah terpaan sinar bulan yang menerobos masuk lewat celah ventilasi dan jendela yang tirainya dibiarkan terbuka. Keningnya mengkerut. Matanya masih terpejam, seolah menyatu dengan alam bawah sadarnya.

“Jjong. .”, kembali bisikan-bisikan itu terngiang di telinga jonghyun. Tak nyenyak. Bahkan dalam tidur pun jonghyun tak pernah bisa lepas dari bayangan key. Bagai penjahat yang di kejar rasa berdosa.

“Key. .” lirih jonghyun, masih dengan mata terpejam.

“Hyung. .hyung bangun!” ucap taemin yang tidur disamping jonghyun, sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya perlahan.

Jonghyun terperanjat dan segera membuka matanya, kembali ke dunia nyata. Dunia dimana tak ada lagi key disampingnya. Tak ada lagi ocehannya. Tak ada lagi sikap manjanya. Tak ada lagi. . .lenyap.

Jonghyun masih mengatur nafasnya yang tersenggal. Sementara taemin terus memperhatikan wajah jonghyun. Kini tangannya ia gunakan untuk menyeka keringat dipelipis jonghyun, kemudian turun menggengam erat salah satu tangan jonghyun, memberikan ketenangan.

“Kau mimpi buruk lagi hyung” ucap taemin.

**********

Sudah hampir seminggu jonghyun dan taemin tinggal bersama. Namun suasana rumah tak seramai ketika key disana. Walau begitu jonghyun tetap mencoba tersenyum, terlebih ia merasa sangat bersalah pada taemin selama ini. Hingga ia menyadari suatu hal penting dalam hidupnya, tapi sudah terlambat. . .

“Apa kau membenci ku hyung?” tanya taemin dengan suara parau.

Jonghyun masih terdiam. Pandangannya nanar. Tangannya membawa secarik kertas dengan kop bertuliskan “SAMSUNG MEDICAL CENTER”.

“Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?” lirih jonghyun dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Punggungnya ia sandarkan pada sofa.

“Selama aku diculik, aku tinggal bersamanya. Ia sangat baik padaku. Ia memberikanku kamar terpisah, berbeda dengan namja lain yang disekap. Bahkan ia sering mengajakku jalan-jalan. Ia memperlakukan ku berbeda, sangat spesial. Bahkan aku merasa tidak sedang diculik. Lambat laun, aku terbiasa akan kehadirannya dalam hidupku. Hingga ku yakin bahwa aku. .” kata taemin tertahan, kemudian ia melanjutkan perkataannya. .

“Aku. .aku mencintainya” taemin mulai terisak.

Jonghyun menoleh, matanya melotot seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

“Mian hyung, aku mengkhianati cintamu. .tapi sungguh, aku tak mampu tanpanya” kini air mata taemin mulai tertumpah.

“Bahkan, karena besarnya rasa cintaku padanya. .aku rela dijual pada banyak pria, asal dia tetap bersamaku. Entah sudah berapa banyak pria yang menyentuhku. Terkadang aku merasa marah dan jijik pada diriku sendiri, tapi ketika melihatnya tersenyum padaku semua rasa itu melebur. Hingga beberapa waktu lalu, ia bilang akan mengembalikanku padamu. Aku tak mau, bukan karena aku membenci mu tapi aku jauh lebih mencintainya dibanding dirimu hyung, egoiskah itu hyung?? mian. .” ucap taemin masih dengan air mata berderai.

 

>flashback on<

“Hyung, ku mohon. .aku tak mau kembali” bujuk taemin.

“Tapi aku tak punya pilihan lain honey” jawab namja itu.

“Aku harus mengembalikanmu, karena aku membutuhkan ‘orang’ itu. Dia sangat berharga” kata namja itu lagi.

“Tapi kenapa harus aku? Kenapa harus di tukar denganku? Kenapa tidak dengan namja lainnya?” rengek taemin.

“Karena hanya kau, alasan terkuat untuk memaksanya mengembalikan ‘orang’ itu pada ku lagi” jawab namja itu, kini dengan senyum terkembang.

Taemin menggeleng, “tidak hyung, aku tak mau. .aku janji akan bersikap lebih baik, aku akan menuruti perintahmu, aku tak peduli kau menjualku pada siapapun asal aku tetap bisa bersamamu” bujuk taemin lagi, kini air matanya mulai tertumpah mengharap iba dari namja yang dicintainya.

“Mianhe honey” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut sang namja.

“Kau. .kau tega hyung, padahal aku sangat mencintaimu, minho hyung” ucap taemin lirih.

>flashback off<

 

“Apa kau masih bisa mencintainya Minnie? Setelah kau baca ini!” bentak jonghyun dengan mengangkat kertas yang dipegangnya tadi keudara, tepat didepan wajah taemin.

Diambilnya kertas itu dari tangan jonghyun, dibuka dan dilihatnya lagi. Mengulum senyum, miris. Matanya berkaca-kaca. Entah sudah berapa kali lembaran kertas itu ia lihat sejak pulang dari Rumah Sakit, hasilnya tetap sama, tak berubah.

“AIDS” lirih taemin, kembali air matanya menetes.

“Tak banyak waktu yang kupunya hyung” kini taemin telah menangis tersedu-sedu, seakan tak bisa lagi menahan derita dan luka hatinya.

Jonghyun pun beranjak bangkit, direngkuhnya tubuh kurus taemin. Dipeluknya erat hingga menempel pada perutnya. Dielus perlahan helai rambutnya yang lurus. Air matapun berderai, seakan ikut merasakan sakit yang teramat. Marah, bukan karena taemin tak mencintainya lagi. Tapi kenapa takdir seolah mempermainkan hidup taemin, key dan dirinya?

“Aku akan menjagamu minnie” lirih jonghyun masih memeluk taemin.

**********

Awal musim semi,

Jonghyun berjalan masuk ke sebuah gerbang dengan ornament batu disisi kanan dan kirinya. Ia membawa sebuket mawar merah dengan kelopak yang masih segar dan basah. Langkahnya sangat teratur, sesekali ia tersenyum. Hingga tiba di tempat yang ia tuju, langkahnya terhenti. Dibawah pohon besar, dedaunan yang lebat dan menjuntai, rimbun. Menatap gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan ‘TAEMIN’. Ia berjongkok, salah satu kakinya ia tekuk untuk menopang berat tubuhnya.

“Bagaimana kabarmu Minnie? Jauh lebih bahagiakah?” sapa jonghyun dengan senyum tersimpul.

Tiba-tiba angin berhembus perlahan menggerakkan dedaunan, bergesek satu sama lain, melambai-lambai. Menerpa permukaan kulit jonghyun, seolah memberikan jawaban atas pertanyaan yang ia berikan. Sesaat tak ada suara, suasana kembali hening, hanya terdengar kicau burung samar-samar.

“Masih pantaskah aku, untuk sekedar mencari dan memintanya kembali Minnie?” mendadak suara jonghyun menjadi berat, menahan tangis mungkin.

 

>flashback on<

Jonghyun terduduk di kursi, tempatnya biasa bekerja ketika di rumah. Dipandanginya kartu ucapan berbentuk hati dan berwarna merah muda yang ia temukan di meja makan waktu itu. Mengumpulkan keberanian yang tersisa darinya untuk membaca. Ya, sejak pertama menemukan hingga saat ini jonghyun belum sekalipun membacanya. Ia takut. Takut dengan kenyataan yang akan ia dapat. Ia takut menyadari suatu hal yang akan membuatnya lebih terluka.

Dengan tangan gemetar ia memberanikan diri membuka kartu ucapan itu perlahan,

“Jjong, kau masih marah padaku? Aku tahu, aku keterlaluan. Tak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan seperti tadi. Sungguh, aku menyesal. Aku tak bisa tanpa mu. Aku tau kau sangat mencintaiku, jadi tak ada alasan untuk meragukan kesetiaanmu padaku. Mianhae jjong. .saranghae”

Kepala jonghyun tertunduk. Tangannya masih memegang erat kartu ucapan itu. Kini satu persatu air matanya seakan berlomba untuk segera keluar dari wadah yang menampungnya.

“Key. .mian, jeongmal mianhae” lirih jonghyun.

“Kau salah key, aku bukan namja yang baik, aku mengkhianatimu. Tak hanya itu, aku bahkan melupakan janjiku padamu”, mengingat lagi kata-kata yang pernah ia ucapkan pada key. . .

“Baby, jangan menangis lagi ne? mulai sekarang aku akan menjaga dan melindungimu, tak akan ku biarkan orang lain menyakitimu. Jadi berjanjilah padaku jangan biarkan air matamu jatuh mulai saat ini, kan ku buat kau bahagia”

“Justru akulah yang membuatmu menangis key” sesal jonghyun, pundaknya berguncang, tangisnya pecah.

Disudut lain ruangan itu, tampak sepasang mata memperhatikannya dari balik tembok tempatnya berdiri. Air matanya pun ikut mengalir, dengan punggung tangan menutup mulutnya, menahan suara isak tangis. Ia berjalan mendekat kearah jonghyun. . .

“Hyung. .” lirih taemin, saat sampai di hadapan jonghyun.

Jonghyun mendongak, didapatinya taemin menatapnya iba. Percuma untuk jonghyun menyembunyikan kondisinya saat ini, taemin terlanjur melihatnya menangis.

“Mian minnie, aku. .” ucap jonghyun sambil menyeka air matanya.

“Jujurlah hyung. .beberapa waktu aku tinggal bersama mu, setiap malam kau selalu mengigau dan menyebut nama ‘key’. Apakah dia namja waktu itu?” tanya taemin tanpa basa-basi, mendekat kearah jonghyun.

“Hyung, kau sangat mencintainya. Hanya saja kau tak menyadari itu. Tak mau mengakui, karena rasa bersalah mu padaku. Rasa bersalah yang membuat kau menutup hati dan melepaskannya” jelas taemin lembut.

“Aku tau, bahkan sejak awal. Sejak kau meninggalkannya waktu itu, walau kau tak bicara sepatah katapun, tapi tatapan mu mewakili semua perasaanmu. .kau mencintainya”

“Sekarang kita tau perasaan masing-masing, aku mencintai minho dan kau mencintai key. Belum terlambat bagimu hyung, kembalilah padanya. .”

“Tidak seperti aku, aku tak punya banyak waktu untuk memperjuangkan cintaku hyung. .seburuk apa pun pendapat orang tentang minho, dia segalanya bagiku. Aku. .aku tak pernah menyesal mencintainya” ucap taemin seraya membelai rambut jonghyun. Kembali air matanya tertumpah, seolah meluapkan seluruh isi hatinya dengan jujur.

>flashback off<

**********

TBC

1 komentar:

  1. Taeminnya mati?? Yeaeayyyy *dilempar taemints JONGKEY bersatu!!

    BalasHapus