Title
: Don’t Say Goodbye To Me
Author : Aquamarine
Cash :
Jongkey
Genre : Silahkan temukan
sendiri ^^
Ini FF pertamaku, jadi maaf bila banyak typo. Pada awalnya ni FF terinspirasi
dari MV nya Davichi, lalu alur berkembang sesuai kehendak Author :D. Ditunggu
kritik dan saran yang bersifat membangun. Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua
pencitraan tokoh berdasar kehendak penulis, tak ada sangkutpautnya dalam
kenyataan. Hehehe. Selamat membaca.
---------------------------------------------------------------------------------
Jonghyun POV
Huftt. .kuregangkan otot-otot kaku di tubuh ku setelah seharian
bekerja di kantor pengacara “SHinee”. Hari ini ada banyak kasus yang harus
segera dipelajari berkas-berkasnya. Ku tarik kursi duduk ku kebelakang menjauh
dari meja kerja agar menyisakan sedikit ruang untuk bernafas lebih luas. Ku
putar kursi ku 180 derajat hingga kini menghadap kejendela menyuguhkan
pemandangan kota Seoul dimalam hari, dengan menyisakan lampu beraneka warna
yang berkedip-kedip bila di lihat dari kejauhan seperti saat ini. Mata ku
menerawang jauh ke hamparan langit hitam berhiaskan titik-titik bintang.
“indah. .” gumam ku yang nyaris seperti berbisik sembari mulai memejamkan mata.
Author POV
Waktu menunjukan pukul 01.13 dini hari, dan sesosok namja masih
asik dalam dunia mimpinya, tertidur dengan posisi duduk mengadap kaca
transparan yang sangat lebar, membatasi dengan kondisi di luar sana, dimana
Seoul telah masuk musim dingin. “Enghh”. .dia mulai menggeliat, matanya mulai
mengerjap menyesuaikan dengan kondisi ruang yang terang. Setelah semua nyawanya
terkumpul dia pun mendesah pelan “huftt, aku ketiduran”.
Jonghyun POV
“Huftt, aku ketiduran”, itulah kata pertama saat mendapati diriku
masih di kantor dengan segala berkas yang acak di meja kerjaku. Ku lirik jam
dipergelangan tangan, menunjukan pukul 01.13, “aku harus pulang” gumam ku. Aku
pun sedikit tergesa membereskan tumpukan kertas ‘sial’ itu, merapikan dan
mengatur agar mudah kucari saat lusa masuk kerja lagi. Yahh, tepat sekali besuk
aku libur, sedikit senyum tersungging di bibir ku. “aku bisa istirahat
sepuasnya” batin ku. Setelah semua berkas ku simpan dan dimasukan ke laci meja,
beberapa lembar lainnya ku masukan ke dalam tas kerjaku, karena tetap saja
walaupun libur aku harus mempelajari kasus yang ku tangani. “selesai. .” ucap
ku senang seraya menjinjing tas kerja dan beringsut meninggalkan ruangan ku.
Kupencet angka 1 pada tombol lift, ku langkahkan kaki masuk kedalam hingga
pintu lift tertutup rapat. Sampai di lantai 1, ku masuk kedalam area parkir
dimana Black Audi R8 V10 ku menanti. Senyumku selalu terkembang setiap melihat
sahabat hitam ku ini, karena ini adalah hasil jerih payahku selama hampir 5
tahun bekerja sebagai pengacara. Banyak hal yang ku korbankan selama itu, waktu,
tenaga, pikiran dan “. . .” senyumku sedikit memudar, “anni. .”
kugeleng-gelengkan kepala ku ke kiri dan kekanan seolah mengusir pikiran buruk
yang baru saja terlintas. Segera ku masuk dan ku tancap gas keluar area
perkantoran. Kini si hitam sedang menerjang jalanan kota seoul yang lengang.
Sampailah di sebuah jalanan yang sepi, tiba-tiba mata ku terusik
dengan keberadaan sebuah plastik hitam besar yang tergeletak di pinggir jalan
di dekat tempat pembuangan sampah, sepintas ku melihatnya seperti bergerak-gerak.
Kuhentikan laju mobilku, kuparkiran beberapa meter di dekatnya. Lalu ku turun
untuk mengecek sekaligus menjawab rasa penasaran di hati. Dengan perlahan ku
dekati bungkusan itu, ku amati dengan seksama dari pangkal ikatan hingga
kebawah. Sedikit takut memang. Ku tendang pelan, dan ‘isi’ plastik itu bereaksi
yang membuat ku memundurkan langkah beberapa meter untuk antisipasi. Mata ku
tak lelah menyelidik, ternyata rasa penasaranku lebih besar dari rasa takut
yang ku punya. Hingga ku beranikan diri untuk mendekat lagi dan mencoba untuk
membuka ikatan dari plastik tersebut. Kedua kaki ku membuat ancang-ancang untuk
berlari sewaktu-waktu bila terjadi hal-hal yang tak di inginkan. Perlahan
ikatan plastik mulai terurai, kupertajam indra pengelihatan ku dan. . .
“Huaahhh. .” teriak ku sembari mundur beberapa langkah karena
kaget, hingga keseimbangan ku roboh, tubuh ku terjungkal kebelakang, dengan
pantat terduduk di terotoar. Mata ku membulat. Masih mencoba mencerna hal apa
yang baru saja kulihat, mengatur nafas ku yang tersengal tak beraturan “hosh.
.hosh. .hosh”. Mengerjapkan mataku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja
kulihat, lalu dengan sedikit gemetar ku dekati bungkusan itu lagi. Kutelan
ludah ku dengan susah payah, lalu membuka bungkusan itu agar lebih lebar,
menampakan ‘isi’ di dalamnya. Yahh. .di dalam bungkusan itu ada seorang namja
dengan tubuh kurus dan kotor dengan kondisi lemah tak berdaya, sepertinya tak
sadarkan diri. Ku tolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, melihat situasi di sekitar.
Sepi. Lalu ku jambak rambut ku frustasi, apa yang harus ku lakukan?? tanyaku
dalam hati, masih dengan menggigit kecil bibir bawah ku. Tak lucu kan kalau aku
sampai ketahuan orang menemukan “bungkusan” di jalan? “lalu apa kata
masyarakat, jika aku seorang pengacara muda terkenal di tuduh melakukan
tindakan pidana?”
“Heyy. .ini tak seperti yang kalian bayangkan!” jerit ku dalam
hati.
Kulihat sosok itu lagi, menatapnya lama. .”tapi aku tak bisa
membawanya ke Rumah Sakit ato Kantor Polisi sekarang, pasti urusannya akan
menjadi panjang, aku tak mau. .karir ku bisa hancur” gumam ku seraya
menggelengkan kepala.
“Arrgghhh. .” teriak ku tertahan, karena takut membuat keributan.
“Tak ada jalan lain. .” gumamku.
**********
Author POV
Sang Raja Pagi pun mulai beriring naik kesinggasana, berbagi
sedikit kehangatan di musim dingin ini. Pendar cahaya jingga melesat keseluruh
permukaan bumi. Disebuah rumah dengan gaya modern minimalis, sesosok namja
masih terlelap dengan balutan selimut yang hangat dan lembut. Terbungkus lucu
seperti seorang bayi. Di sekitarnya seorang namja lain sedang berkutat dengan
sebuah berkas dengan laptop dihadapannya dan terduduk di kursi kerjanya dengan
segelas kopi panas yang masih menyisakan uap yang mengepul. Sorot matanya
menampakan keseriusan terhadap apa yang di bacanya. Terkadang kepalanya
manggut-manggut tanda mengerti atas apa yang menjadi perhatiannya saat ini.
“Eungh. .” terdengar lenguhan dari bibir mungil seorang namja yang
sedang tertidur sambil sedikit menggeliat kecil, namja lain yang sedang fokus
pada pekerjaannya menoleh melihat kearah tempat tidurnya yang berukuran king
size tersebut. Ia pun mulai berjalan mendekati namja cantik itu, sembari
memperhatikan tingkahnya ketika bangun tidur. Namja yang menjadi pusat
perhatian itu pun perlahan membuka mata, menampakan sepasang biji mata yang
indah dan bening. Mengerjap lucu, dengan bibir sedikit mengerucut.
“Yeppeo” gumam jonghyun dalam hati.
Kemudian sesosok namja cantik itu pun menoleh kearah jonghyun berada,
sedikit terkejut.
“Tampan” itulah kata pertama yang keluar dari bibir manisnya,
namun tak cukup terdengar oleh jonghyun.
“Anyeonghaseyo” ucap jonghyun ketika mata mereka beradu untuk
pertama kalinya.
Namja cantik itu tak menjawab, masih betah menatap wajah jonghyun,
yang semakin terlihat kebingungan.
Jonghyun POV
“Yeppeo” gumam ku dalam hati, ketika melihat sesosok namja yang
kutemukan kemarin malam dalam keadaan tak sadarkan diri, kini telah bangun dan
membuka matanya yang indah, entah mengapa ku sangat mengagumi makhluk Tuhan
ini, matanya tajam seperti mata kucing. Dia menatap ku lekat tak berkedip
membuatku sedikit bingung, bahkan ketika ku menyapanya.
**********
Author POV
Kini mereka berdua sedang duduk berhadapan di sebuah sofa empuk,
dengan seporsi makanan yang lezat tentunya. Namja cantik itu pun makan dengan
lahapnya. Jonghyun yang melihatnya hanya tersenyum memperhatikan. Kemudian ia
bangkit dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Ia kembali duduk dihadapan
namja cantik itu, yang masih sibuk dengan makanannya. Merasa di perhatikan
terus menerus oleh namja yang menurutnya tampan, ia sedikit salah tingkah dan
menjadi tersedak. Dengan segera jonghyun mengulurkan gelas yang berisi air
minum. Namja cantik itu pun menerima dan meminumnya hingga habis. Diletakkannya
gelas itu di meja sembari menatap ragu jonghyun. Jonghyun pun tersenyum lembut.
“Ireumi mwoyeyo (Siapa nama mu)?” tanya jonghyun.
“Key” jawab namja cantik itu sedikit menunduk.
“Nama yang cantik, seperti dirimu” ucap jonghyun terus terang
membuat namja yang bernama key itu sedikit merona wajahnya.
“Kamu tinggal dimana?” tanya jonghyun lagi, yang hanya di jawab
dengan gelengan kepala key yang mengisyaratkan bahwa ia tidak punya tempat
tinggal saat ini.
Sementara jonghyun hanya diam terlihat seperti berpikir,
“Bagaimana kalau kamu tinggal disini? Aku sendirian, kedua orang
tuaku sudah lama meninggal. Kalau kamu mau kita bisa menjadi teman” kata
jonghyun mantap.
“Eoh. .ne, gomawo” kata key sembari tersenyum.
Jonghyun terperanjat saat melihat senyum key untuk pertama
kalinya, ia merasa jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Buru-buru ia
mengalihkan pandangannya dari wajah key, dan berdiri untuk menutupi rasa gugupnya.
Kemudian ia berjalan ke almari pakaiannya, dan mengambil kemeja putih yang
terletak di bagian bawah, kemeja itu lama tak pernah di pakai karena sedikit
kekecilan. Jonghyun pikir itu sedikit pas dengan badan key yang kecil. Kemudian
ia menghampiri key, dan memberikannya.
“Ambil, dan mandilah agar kau lebih segar” ucap jonghyun
menyerahkan kemeja putihnya, sembari menunjukan letak kamar mandinya.
“Owh, ne. .gomawo” kata key sembari bangkit dari duduknya dan
sedikit membungkukkan badannya untuk menunjukan rasa hormat dan terima kasihnya
pada namja tampan tersebut.
Jonghyun hanya tersenyum. Kemudian key berjalan menuju arah kamar
mandi. Sesaat sebelum masuk kamar mandi, key berbalik dan bertanya “boleh aku
tahu, siapa nama mu?”
Jonghyun POV
“Boleh aku tahu, siapa nama mu?”
Dia bertanya padaku sesaat sebelum masuk kamar mandi,
“Jonghyun” jawabku singkat.
Setelah mendengarnya, ia kembali tersenyum dan segera masuk kamar
mandi, meninggalkan aku yang sedikit grogi melihat senyumannya (lagi).
**********
Author POV
Saat ini jonghyun kembali ke meja kerjanya, berpacaran dengan
berkas-berkas yang untuk sejenak tadi di lupakannya. Kini perhatiannya terfokus
pada lembaran kertas di hadapannya dan sesekali mengetik sesuatu di laptopnya.
Bahkan tak menyadari ketika pintu kamar mandi terbuka, dan menampakkan sesosok
namja yang telah berbeda kondisinya dari semula. Ia tampak lebih bersih, segar
dan cantik. Key berjalan ke sofa tempatnya duduk tadi, yang letaknya berhadapan
dengan meja kerja jonghyun. Yang artinya Key harus melewati jonghyun untuk
sampai ke sofa. Key yang malu berjalan dengan menunduk, ia merasa malu dan
sedikit tidak nyaman dengan bajunya saat ini. Bagaimana tidak, ia hanya
menggunakan kemeja putih yang jonghyun berikan tanpa ada pakaian lain yang
melekat di tubuhnya (tenang masih pakai CD kok #plak). Ragu, ia mulai berjalan
hingga ia tersandung pot tanaman yang berada di samping kursi sofa. Mendengar
kegaduhan, reflek jonghyun mendongakkan kepala.
“Mianhae” ucap key gugup masih dengan kepala tertunduk, menyadari
bahwa jonghyun kini menatapnya.
“. . . . . . . .”
Tak ada balasan dari jonghyun, hati key mulai sedikit panik, ia
takut jonghyun akan menganggapnya aneh. Ia memberanikan diri untuk mengangkat
kepalanya melihat ke tempat jonghyun berada. Ketika pandangan mereka bertemu
tiba-tiba jonghyun menunduk dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Jonghyun POV
“Duk”
Terdengar suara seperti tersandung sesuatu. Karena kaget aku pun
mendongakkan kepala menoleh kearah sumber suara berasal.
“Mianhae” itu kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dan aku
tegaskan disini, bahwa aku masih bisa mendengarnya mengucapkan itu. Tapi entah
mengapa mulutku tak sinkron dengan kinerja otak ku. Otak ku memproses lain,
menikmati pemandangan luar biasa di hadapan ku saat ini, dimana sesosok namja
dengan kulit putih, pipi tirus, dan bibir merah muda merekah sedang tertunduk.
Tak kusia-siakan kesempatan saat ini, ku pandangi tiap bagian tubuhnya dari
bawah hingga atas. Kakinya yang jenjang terekspos jelas, karena aku memang
hanya memberikan dia kemeja tanpa celana, aku benar-benar lupa (modus #plak).
Sungguh-sungguh lukisan yang tergambar sempurna, dengan detail-detail indah
pada tiap bagiannya. Tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan menatapku dengan
bingung, aku pun tersadar dari lamunan ku.
“Gwenchana” ucapku kembali menunduk dan pura-pura fokus pada
pekerjaan ku lagi. Entah bagaimana kondisi wajahku saat ini, bisa di pastikan
merah seperti udang rebus. Aku malu. . .
Author POV
Setelah “acara” tadi, key menghabiskan waktu dengan melihat
televisi. Sedangkan jonghyun menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali ia mencuri
pandang ketempat key berada. Namun ia hanya mendapati punggungnya yang sedang
menonton televisi dengan serius, bagaimana tidak bahkan key tidak menunjukkan
pergerakan yang berarti, sesekali ia hanya berpidah posisi duduknya, mungkin
pantatnya yang terasa panas karena sedari tadi hanya duduk tak ada kerjaan.
Jonghyun pun melirik jam digital yang berada di meja kerjanya, tak terasa waktu
menunjukan pukul 2 siang, ia hendak beranjak mendekati sofa tempat key berada,
namun jonghyun tak melihat keberadaannya. Ia pun mengerutkan kening, pertanda
bingung. Ia melangkah mendekat, dan didapatinya key sedang tertidur dengan
merebahkan tubuhnya di sofa. Diamatinya key yang sedang tertidur, sesekali
jonghyun tersenyum entah apa yang dipikirkannya. Ia mendekat dan dibopongnya
tubuh kurus key ke tempat tidur, di baringkannya dengan sangat hati-hati takut
kalau membangunkannya. Ditariknya selimut hingga menutupi sebagian tubuh key.
Kemudian ia beranjak ke almari dan mengambil jaket kulit warna coklat
kepunyaannya. Setelah memakainya dengan sempurna, ia pun mengambil kunci mobil
di meja kerjanya dan melangkah keluar dari rumahnya, meninggalkan key sendiri.
**********
Jonghyun melajukan mobilnya kesebuah butik ternama langganannya,
“AMIGO”. Sepanjang jalan jonghyun bernyanyi kecil, sepertinya hari ini moodnya
sangat baik. Terkadang ia tersenyum namun tetap serius dengan kemudinya. Setelah
beberapa saat ia pun sampai ketempat tujuan. Ia pun keluar dan memasuki butik
mahal itu. Ia disambut oleh seorang pelayan wanita yang setelah melihat
kehadirannya ia membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.
“Annyonghaseyo” ucap pelayan itu sembali tersenyum manis.
“Annyong” balasku dengan menunjukan senyum malaikat, yang konon
kata teman-temanku dapat melelehkan hati setiap yeoja,
“Tuan mau membeli baju lagi?” tanya pelayan itu.
“Ah, anio. .bukan untukku, tapi temanku” jelasku.
Yah baru beberapa hari lalu, ku belanja beberapa stel baju kerja
dan baju santai, sudah pasti pelayan itu heran kenapa aku kembali lagi. Mungkin
pikirnya aku adalah orang yang hobi membuang uang. Siapa yang tidak tahu butik
AMIGO yang terkenal seantero Seoul, tempat orang-orang berkelas membeli fashion
dengan label “limited edition”, bahkan tak jarang beberapa aktris dan aktor
juga menyempatkan untuk main ke sini. Jangan ditanya, sudah pasti harga tiap
produknya juga ‘wow’. Sebagai seorang pengacara muda yang sedang naik daun,
sudah pasti aku harus menunjukan ‘harga’ ku di mata masyarakat kan? Tidak hanya
itu, tapi harus ku akui bahwa selera fashion butik ini sangat bagus. Dan bahan
yang di pakai juga sangat nyaman. Jadi tak sia-sia mengeluarkan budget mahal
untuk sebuah ‘pencitraan’. Baiklah ini bukan saatnya untuk menyombongkan diri.
Setelah memilih beberapa stel pakaian dan celana yang ukurannya
cukup aku kira-kira dengan membayangkan tubuh key saja, aku memberikan credit
card pada pelayan wanita tersebut. Sesaat kemudian pelayan wanita itu kembali
untuk menyerahkan credit card ku dan hendak membawa kantong belanjaanku ke
mobil.
“Tunggu, biar ku bawa sendiri” ucapku.
“Owh, benarkah? Silahkan tuan” ucapnya sambil menyerahkan kantong
belanjaanku.
“Ne. .gomawo” ucapku sambil tersenyum dan beranjak keluar dari
butik.
Kutaruh tas itu di jok samping kemudi. Lalu ku tancap gas menuju
supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan berupa sayur-sayuran, daging,
telur, ikan, jamur, dll. Sebagai seorang yang tinggal sendiri, ku di tuntut
untuk dapat memasak sendiri, walau ku akui lebih sering pesan dari restaurant,
karena bentuk masakan ku yang aneh dan rasanya yang sangat menakjubkan.
(*Hahaha TT.TT) Tapi kali ini ku bersungguh-sungguh ingin memasakkan key
sesuatu yang spesial, yang akan membuatnya menangis terharu.
2 jam kemudian. . .
Akirnya jonghyun sampai di rumahnya. Ia segera masuk, setelah
memasukan mobilnya ke garasi, tak lupa mengunci pagar rumahnya terlebih dahulu.
Ia melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 17.30, sambil memutar knop
pintu. Gelap dan hening. Apa mungkin key masih tidur pikir jonghyun. Dirabanya
dinding rumah untuk mencari tombol saklar dan menghidupkan lampu. Kemudian ia
menaruh barang belanjaannya di dapur dan beranjak menuju kamarnya.
“Key? Apa kau sudah bangun?” tanya jonghyun menyelidik sambil
matanya menjelajah ke semua sisi ruangan. Dilihatnya kasur tempat key tadi
tertidur, sudah kosong. Apa mungkin key melarikan diri? Tanya jonghyun dalam hati.
Kemudian jonghyun hendak berbalik untuk mencari key di ruang lain. Saat memutar
tubuhnya, tiba-tiba. . .
“Aaaaaaaaaaaaaa” teriak jonghyun.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriak seseorang yang tak kalah
kerasnya, tak lain adalah key.
“Key? Kenapa kau teriak sekeras itu? tanya jonghyun sambil menutup
telinganya.
“Lalu kau sendiri kenapa berteriak jjong? Aku kan kaget dan reflek
ikut berteriak” ucap key membela dirinya.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa tak menghidupkan lampunya? Ini kan
menjelang malam? tanya jonghyun bertubi-tubi.
“Benarkah? Aku kira ini sudah pagi” jawab key dengan polosnya,
sambil menggaruk kepalanya.
“Aishhh, kau ini benar-benar pabo, tak bisa kah kau membedakan
antara pagi dan malam?” ledek jonghyun.
“Yak, kau. .aku benar-benar tak tahu, kenapa kau memarahiku”
sanggah key sambil mengerucutkan bibirnya.
Sejenak jonghyun terdiam melihat kalakuan key yang menurutnya.
.arghhh, lupakan. Dengan namja ini, ia sering merasa salah tingkah dan tak bisa
membantah. Ting, seolah mengingat sesuatu yang penting, hal yang
menurutnya agak janggal.
“Tunggu, tadi kau memanggilku apa? Jjong? Apa aku tak salah
dengar? Tanya jonghyun memastikan.
“Ne. .mulai sekarang aku akan memanggil mu jjong” ucap key mantap,
mengedipkan matanya lucu.
“Wae?” tanya jonghyun sambil senyam-senyum geje.
“Biar lebih praktis, aku rasa nama ‘jonghyun’ memakan waktu yang
lama untuk memanggilnya” ucap key tanpa rasa berdosa.
“MWO?? O.O” kata jonghyun sembari membulatkan mata tak percaya,
pupus sudah harapannya, ia pikir itu panggilan sayang key terhadapnya.
Seenaknya saja dia mengubah nama seseorang yang baru di kenalnya,
sopankah itu?? rutuk jonghyun dalam hati. Tapi ia tak berniat melanjutkan
perdebatannya dengan key saat ini.
“Hufftt. .sudahlah aku menyerah berdebat dengan mu, itu aku
belikan beberapa baju dan celana untuk mu, ku taruh di ruang tamu” kata
jonghyun lemas.
“Benarkah?” kata key sumringah sambil berlari kearah ruang tamu.
“Yeah, ini benar-benar bagus jjong, ternyata kau memiliki selera
fashion yang cukup bagus? ucap key dari ruang tamu.
Sementara itu kondisi jonghyun. . .
Ia hanya melongo, dengan background celotehan dan suara tawa key.
Mematung sejenak, sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar melorot kelantai,
bersimpuh.
“Ya Tuhan, sepertinya penilaian ku padanya salah besar, ku pikir
dia pemalu dan sangat manis, ternyata. .mengerikan, dia bisa mendebat
perkataanku. .Hhhuaaaaa” tangis jonghyun dalam hati.
Seperti adegan drama, ia bersujud dan memukul-mukulkan tangan
kanannya pada lantai, seolah terdzolimi oleh keadaan.
“Aku. .sepertinya kehidupanku esok akan lebih ‘berwarna’ dengan
kehadiran orang itu” ucap jonghyun lirih TT.TT
**********
Key masih sibuk dengan baju yang di belikan jonghyun padanya,
sembari terkadang mematutkan diri di kaca, dan tersenyum manis.
Jonghyun sendiri setelah bangkit dari keterpurukannya, ia menuju
dapur untuk memasak makanan. Ia masih berharap key kembali normal dan terharu
pada perlakuannya. Ia membuat masakan berdasarkan feeling yang ia punyai,
termasuk takaran bumbunya. Setelah 1 jam berlalu, ia menghidangkan masakannya
itu di meja makan. Dan memanggil key untuk makan malam bersama.
“Key, kemari. .kita makan malam bersama” kata jonghyun
“Ne, jjong” jawab key, meletakkan baju-bajunya dan beranjak ke
meja makan dimana jonghyun telah duduk menunggunya.
Key menarik kursi di hadapan jonghyun, lalu duduk, dan menatap
hidangan di depannya. Ia mengerutkan kening. Hal itu di sadari jonghyun, yang
mendapati gelagat aneh dari key.
“Wae?” tanya jonghyun.
“Em. .mmm. .” gumam key tak jelas.
“Ada apa?” tanya jonghyun lagi, mulai panik. .”akan kah dia. .”
belum selesai jonghyun berkata dalam hati key sudah mendahuluinya berkata
sesuatu yang membuatnya shock.
“Apa ini makanan? Bentuknya aneh sekali” kata key polos sambil
mengedip-ngedipkan matanya lucu.
“. . . . . . . . . .” tak ada balasan dari jonghyun, ia hanya
menunduk tak menampakan raut mukanya.
“Eh, biar kucoba. .siapa tahu rasanya lezat, bukankah kita tidak
boleh menilai sesuatu dari luarnya, hehehe” kata key grogi mendapati keanehan
pada jonghyun.
Beberapa saat kemudian. . .
“Hiks. .hiks. .hiks”
Terdengar suara seseorang menangis. Jonghyun pun tersadar dan
mendongakkan kepalanya. Ia dapati key menangis sambil memakan masakannya.
Jonghyun berpikir kalau key terharu.
“Sesuai dengan rencana” batin jonghyun tersenyum dan lebih
tepatnya seperti smirk. Ia akan segera melancarkan aksinya, membuat key jauh
lebih terharu, untuk menarik perhatiannya.
“Sudahlah key, aku tak apa-apa, ini ku buat dengan sepenuh hatiku,
tak apa kau tadi sempat menghinanya, aku rasa ini sungguh lezat hingga kau
menangis” kata jonghyun percaya diri sembari menatap wajah key yang memerah
karena menangis, yeppeo.
“Jjong. .” ucap key terbata.
“Ne” balas jonghyun singkat masih dengan tersenyum.
“Aku minta maaf, tapi bisakah kau. .” kata key terputus.
“Ne, tentu bisa key, aku akan memasakan mu setiap hari” ucap
jonghyun makin sumringah.
“Ah anio, bukan begitu jjong. .aku rasa cukup kali ini saja kau
memasak untuk ku, aku bahkan tak mampu menjelaskan rasanya, sungguh. .ini
benar-benar TIDAK ENAK!?” kata key menutup mulutnya, seperti menahan sesuatu
yang akan keluar. Beberapa detik kemudian, ia berlari ke kamar mandi, dan
terdengarlah. . .yah tepat sekali, key muntah! (hahahaa)
Sementara itu jonghyun bagai tertiban batu masa megalitikum, yang
sangat besar, bugh!! Kepalanya berputar-putar, sedikit mencerna perkataan key
barusan. Mulai saat ini sepertinya dia harus menyadari sesuatu, bahwa ‘sekeras
apa pun ia berusaha memasak, rasanya tak akan pernah terduga’.
**********
Beberapa saat setelah kegiatan key di kamar mandi, ia kembali ke
meja makan, tapi tak di dapatinya jonghyun beserta segala masakannya.
Sepertinya telah di bereskan jonghyun pikir key. Ia pun mencari dan
mendapatinya tertidur di kasur dengan posisi memunggunginya.
“Jjong?” panggil key untuk memastikan apakah ia sudah tertidur.
“Aku harus tidur sekarang, besuk aku masuk kerja” ucap jonghyun
masih dalam posisi yang sama.
“Kau bisa tidur di samping ku, kalau kau mau” ucap jonghyun lagi.
“Baiklah, selamat malam jjong” kata key lirih merasa bersalah
karena tragedi di meja makan tadi.
Key pun berjalan mencari saklar lampu dan mematikannya. Menyisakan
lampu kecil di sudut ruangan dengan penerangan yang memancar redup. Ia
beringsut merebahkan diri di samping jonghyun, menidurkan badannya untuk
kembali ia bawa kealam mimpi. Tapi matanya masih setia menatap langit-langit
kamar. Seperti berpikir. Mungkinkah menghitung domba? Sejenak sebelum ia
benar-benar menutup matanya, ia menatap punggung jonghyun dan tersenyum. “gomawo”
katanya lirih, nyaris seperti berbisik.
**********
Jam dinding menunjukan pukul 06.00 pagi, sesosok namja cantik
sedang berkutat dengan kegiatannya, yaitu memasak. Sebagian masakannnya yang
sudah selesai ia tata rapi di meja makan dan sebagian yang belum dengan teratur
ia selesaikan. Kemudian ia menepuk jidatnya, pertanda ia mengingat sesuatu. Ia
pun beranjak ke kamar dimana jonghyun masih pulas tertidur. Ditepuk-tepuknya
pantat jonghyun, agar ia segera membuka mata.
“Jjong bangun, sudah pagi” kata key masih menepuk-nepuk pantatnya.
“Eunghh” gumam jonghyun sambil menggeliat lalu mengerjapkan
matanya lucu.
“Key? Ada apa?” kata jonghyun lagi.
“Bukankah hari ini kau masuk kerja? Bangunlah dan segera mandi, aku
menunggu mu di meja makan” perintah key, berjalan meninggalkan jonghyun dan
kembali ke dapur.
“Katanya kemarin tak mau makan masakanku lagi” cibir jonghyun
sembari bangkit. Ia berpikir kalau key memintanya untuk memasak makanan
untuknya.
30 menit kemudian, jonghyun keluar dengan setelan jas rapi, menuju
meja makan. Matanya terbelalak melihat berbagai hidangan di meja saat ini.
Sungguh menggoda, tampilannya sangat menarik dan baunya menggugah selera.
Yummy.
“Jjong, kau sudah selesai” ucap key, keluar dari dapur menuju meja
makan, sambil meletakkan 2 cup chocolate hangat.
Wajah jonghyun terlihat bingung.
“Apa kau yang membuat ini semua?” tanya jonghyun tak percaya.
“Wae? Bukankah lebih bagus dari punya mu kemarin malam” ucap key
to the point.
“Ck, kau ini sungguh menyebalkan!?” kata jonghyun sembari duduk di
kursinya, berhadapan dengan key.
“Jjong, apa kau masih marah? Mian. .aku tak bermaksud menyakiti
hati mu hanya. . .” ucap key tertahan, menundukkan kepala.
Jonghyun kaget dengan perkataan key barusan,
“Lupakan. .aku hanya malu, kemarin aku bermaksud membuatkan mu
masakan dengan sepenuh hati agar kau terharu, tapi di luar dugaan ternyata
masakanku sangat mengenaskan” kata jonghyun.
“dan untuk pertama kalinya ada orang yang mengkritikku secara
langsung dan tajam, itu membuatku terluka. Bukan karena faktanya ‘aku tidak
bisa memasak’ tetapi itu terucap dari mulut mu, entahlah tapi aku merasa sedih.
.tak bisakah kau berbohong sedikit untuk menyenangkan hatiku? jelas jonghyun
panjang lebar.
Key mendongakkan kepalanya, terperanjat dengan pengakuan jonghyun
barusan. Mencoba mencernanya lebih dalam. Menatap lekat mata hazel jonghyun,
mencari kejujuran dari manik matanya yang bening.
“Sepertinya aku menyukaimu, akh bukan lebih tepatnya aku
mencintaimu. .key” jonghyun menelan ludahnya dengan susah payah, mulai
menundukkan kepalanya karena sangat malu.
Krik. .krik. .krik. . *hening
1 menit
2 mneit
3 menit
4 menit
5 menit
Tak ada tanggapan dari key, jonghyun pun mulai gelisah. Ia
memberanikan diri untuk melihat wajah key. Datar. Wajah key terlihat datar,
sangat datar. Tak ada sebuah senyuman. Bahkan keningnya pun tak mengkerut
seperti biasanya kalau dia bingung. Tapi matanya masih menatap lurus jonghyun.
Jonghyun pun menjadi salah tingkah. Apa aku terlalu cepat mengatakannya? Atau
dia sudah punya namjachingu? tanya jonghyun dalam hati.
“Mian, jeongmal mianhae key! Aku tak bermaksud seperti itu.
Mungkin ini terlalu cepat bagimu. dasar pabo” rutukku panjang lebar dan
memukul-mukul kepalaku.
“Apa barusan kau menyatakan cinta, jjong? Sejak kapan? tanya key
datar.
Jonghyun menunduk, meletakkan kedua tangannya di atas pahanya,
“Aku juga tak tahu, sejak pertama mungkin. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku
merasa nyaman bersamamu dan entahlah. .aku juga binggung”.
“Bisa kau ucapkan lagi perasaanmu jjong? tantang key.
“Mwo?’ tanya jonghyun bingung. “Ah, ne. .baiklah” ucap jonghyun
lagi.
“Saranghae key” lirih jonghyun.
“Nado. .nado saranghae jjong” ucap key sembari tersenyum tulus.
“MWO??? O.O” teriak jonghyun dengan mata membulat dan mulut
membentuk huruf ‘O’ penuh.
Tik. .tok. .tik. .tok. .*sekarang suara jam dinding merajai
suasana makan pagi hari ini.
Key menjentikkan tangannya di depan wajah jonghyun, lalu
mengibas-ngibaskan perlahan.
“Segera kembalilah ke alam sadar mu jjong, aku menunggu untuk
segera makan pagi, aku lapar” ledek key mendapati jonghyun masih
terbengong-bengong.
Tiba-tiba. . .
“Aaaaaaaaaa” teriak jonghyun.
“Aaaaaaaaaaaaa” key pun ikutan teriak, wajahnya terlihat panik.
“Wae jjong, kenapa kau berteriak?” tanya key bingung.
Lalu kenapa kau juga ikut berteriak key? tanya jonghyun.
“Aku kaget mendengar suaramu itu, dasar pabo” rutuk key.
“Aku senang key, sangat senang kau menerima cintaku” ucap jonghyun
cengar-cengir.
“Saranghae keeeeyyyyyyyyyyyyy” teriak jonghyun sambil
meloncat-loncat seperti anak anjing yang mendapat tulang dari tuannya.
Sementara key hanya memperhatikan kelakuan konyol jonghyun,
pantaskah ia di sebut pengacara??
“Jjong?’ panggil key.
“Ah, ne key” jawab jonghyun masih dengan tangan terangkat ke udara
dan senyum 3 jari menatap key.
“Bisa kita mulai makan pagi kita? Kau bisa terlambat berangkat
kerja” ucap key jengkel.
Jonghyun pun melirik jam dindingnya, menunjukkan pukul 06.45.
Jonghyun baru menyadari ia hanya punya waktu 15 menit untuk menyantap
makanannya. Karena ia harus berangkat kerja tepat pukul 7 pagi, dan perjalanan
menuju kantor memakan waktu 1 jam. Yak jam kerjanya di kantor di mulai pukul 8
pagi hingga jam 5 sore, tapi bila lembur bisa sampai jam 8 bahkan jam 11 malam.
“Siksa haseyo (Selamat makan)” teriak jonghyun riang, lalu mulai
mengambil masakan yang tersaji. Terlihat ia sangat menikmatinya.
“Hemm, ini sangat enak key, sungguh. .” kata jonghyun dengan mulut
penuh makanan.
“Makanlah dengan baik, jangan seperti anak kecil, banyak bicara
kau bisa tersedak!” omel key.
“Baiklah baby” ucap jonghyun, sambil mengerling nakal pada key.
Hal ini jelas membuat key merona karena malu dan juga sangat senang.
**********
“Aku berangkat dulu baby, kau baik-baik di rumah dan ini. . .”
ucap jonghyun sambil menyerahkan credit card miliknya pada key.
“Apa ini jjong?” kenapa kau berikan padaku?” tanya key binggung.
“Ambillah, kau bisa menggunakannya untuk kebutuhan mu. .kau juga
boleh pergi jalan-jalan ke mall, asal jangan pulang terlalu malam, arayo!?”
kata jonghyun.
“Ne jjong” jawab key sambil tersenyum.
“Bye-bye baby” ucap jonghyun setelah masuk kedalam mobil,
melambaikan tangannya. Dengan segera Black Audinya melesat menuju jalanan kota
seoul yang ramai.
**********
Di lain tempat. . .
Disebuah gudang kumuh tak berpenghuni, di dalamnya bertumpuk
mebel-mebel usang yang berlumut dan berdebu, di salah satu sudut ruangan, nampak
5 orang namja bertubuh kekar, dengan penampilan necis, 2 diantaranya lebih
mirip bos besar, 3 lainnya menggunakan kaos hitam ketat menampakkan otot-otot
ditubuhnya, mirip seorang algojo.
“Apa ada perkembangan?” tanya sesosok namja jangkung dengan setelas
jas hitam mirip mafia-mafia, dengan cerutu menghiasi salah satu sudut bibirnya.
“Belum ada tuan, tapi kami akan segera mendapatkannya” jawab salah
satu namja dengan mantel bulu berwarna coklat gelap.
“Baiklah, aku cukup bersabar kali ini, segera bawa pulang padaku
atau. . .” ucapnya menggantung.
“Atau. .kau akan membayarnya dengan. .NYAWA mu” katanya lagi,
menunjukkan smirk yang menyeramkan.
“Aku pergi dulu, bekerjalah dengan baik sayang” kata namja
jangkung itu, berlalu sembari membelai pipi namja bermantel dengan sangat
lembut, membuat si empunya bergidik ngeri, paham akan maksud sentuhannya itu.
“Aku harus segera membawanya pulang, apa pun yang terjadi!!” geram
namja bermantel tersebut, dengan tangan terkepal dan gigi bergemeretak, tanda
ia sedang menahan emosinya yang seakan segera meluap.
“Kalian!. .cari dia sampai ketemu!” bentak namja bermantel kepada
3 anak buahnya yang sedari tadi menganggur.
“Ba. .baik tuan” jawab mereka kompak.
**********
TBC