Halaman

Minggu, 20 Januari 2013

JONGKEY / YAOI / DONT SAY GOODBYE TO ME (PART 1)


Title        : Don’t Say Goodbye To Me

Author    : Aquamarine

Cash       : Jongkey

Genre     : Silahkan temukan sendiri ^^



Ini FF pertamaku, jadi maaf bila banyak typo. Pada awalnya ni FF terinspirasi dari MV nya Davichi, lalu alur berkembang sesuai kehendak Author :D. Ditunggu kritik dan saran yang bersifat membangun. Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua pencitraan tokoh berdasar kehendak penulis, tak ada sangkutpautnya dalam kenyataan. Hehehe. Selamat membaca.

 ---------------------------------------------------------------------------------


Jonghyun POV



Huftt. .kuregangkan otot-otot kaku di tubuh ku setelah seharian bekerja di kantor pengacara “SHinee”. Hari ini ada banyak kasus yang harus segera dipelajari berkas-berkasnya. Ku tarik kursi duduk ku kebelakang menjauh dari meja kerja agar menyisakan sedikit ruang untuk bernafas lebih luas. Ku putar kursi ku 180 derajat hingga kini menghadap kejendela menyuguhkan pemandangan kota Seoul dimalam hari, dengan menyisakan lampu beraneka warna yang berkedip-kedip bila di lihat dari kejauhan seperti saat ini. Mata ku menerawang jauh ke hamparan langit hitam berhiaskan titik-titik bintang. “indah. .” gumam ku yang nyaris seperti berbisik sembari mulai memejamkan mata.



Author POV 


Waktu menunjukan pukul 01.13 dini hari, dan sesosok namja masih asik dalam dunia mimpinya, tertidur dengan posisi duduk mengadap kaca transparan yang sangat lebar, membatasi dengan kondisi di luar sana, dimana Seoul telah masuk musim dingin. “Enghh”. .dia mulai menggeliat, matanya mulai mengerjap menyesuaikan dengan kondisi ruang yang terang. Setelah semua nyawanya terkumpul dia pun mendesah pelan “huftt, aku ketiduran”.



Jonghyun POV



“Huftt, aku ketiduran”, itulah kata pertama saat mendapati diriku masih di kantor dengan segala berkas yang acak di meja kerjaku. Ku lirik jam dipergelangan tangan, menunjukan pukul 01.13, “aku harus pulang” gumam ku. Aku pun sedikit tergesa membereskan tumpukan kertas ‘sial’ itu, merapikan dan mengatur agar mudah kucari saat lusa masuk kerja lagi. Yahh, tepat sekali besuk aku libur, sedikit senyum tersungging di bibir ku. “aku bisa istirahat sepuasnya” batin ku. Setelah semua berkas ku simpan dan dimasukan ke laci meja, beberapa lembar lainnya ku masukan ke dalam tas kerjaku, karena tetap saja walaupun libur aku harus mempelajari kasus yang ku tangani. “selesai. .” ucap ku senang seraya menjinjing tas kerja dan beringsut meninggalkan ruangan ku. Kupencet angka 1 pada tombol lift, ku langkahkan kaki masuk kedalam hingga pintu lift tertutup rapat. Sampai di lantai 1, ku masuk kedalam area parkir dimana Black Audi R8 V10 ku menanti. Senyumku selalu terkembang setiap melihat sahabat hitam ku ini, karena ini adalah hasil jerih payahku selama hampir 5 tahun bekerja sebagai pengacara. Banyak hal yang ku korbankan selama itu, waktu, tenaga, pikiran dan “. . .” senyumku sedikit memudar, “anni. .” kugeleng-gelengkan kepala ku ke kiri dan kekanan seolah mengusir pikiran buruk yang baru saja terlintas. Segera ku masuk dan ku tancap gas keluar area perkantoran. Kini si hitam sedang menerjang jalanan kota seoul yang lengang.



Sampailah di sebuah jalanan yang sepi, tiba-tiba mata ku terusik dengan keberadaan sebuah plastik hitam besar yang tergeletak di pinggir jalan di dekat tempat pembuangan sampah, sepintas ku melihatnya seperti bergerak-gerak. Kuhentikan laju mobilku, kuparkiran beberapa meter di dekatnya. Lalu ku turun untuk mengecek sekaligus menjawab rasa penasaran di hati. Dengan perlahan ku dekati bungkusan itu, ku amati dengan seksama dari pangkal ikatan hingga kebawah. Sedikit takut memang. Ku tendang pelan, dan ‘isi’ plastik itu bereaksi yang membuat ku memundurkan langkah beberapa meter untuk antisipasi. Mata ku tak lelah menyelidik, ternyata rasa penasaranku lebih besar dari rasa takut yang ku punya. Hingga ku beranikan diri untuk mendekat lagi dan mencoba untuk membuka ikatan dari plastik tersebut. Kedua kaki ku membuat ancang-ancang untuk berlari sewaktu-waktu bila terjadi hal-hal yang tak di inginkan. Perlahan ikatan plastik mulai terurai, kupertajam indra pengelihatan ku dan. . .



“Huaahhh. .” teriak ku sembari mundur beberapa langkah karena kaget, hingga keseimbangan ku roboh, tubuh ku terjungkal kebelakang, dengan pantat terduduk di terotoar. Mata ku membulat. Masih mencoba mencerna hal apa yang baru saja kulihat, mengatur nafas ku yang tersengal tak beraturan “hosh. .hosh. .hosh”. Mengerjapkan mataku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat, lalu dengan sedikit gemetar ku dekati bungkusan itu lagi. Kutelan ludah ku dengan susah payah, lalu membuka bungkusan itu agar lebih lebar, menampakan ‘isi’ di dalamnya. Yahh. .di dalam bungkusan itu ada seorang namja dengan tubuh kurus dan kotor dengan kondisi lemah tak berdaya, sepertinya tak sadarkan diri. Ku tolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, melihat situasi di sekitar. Sepi. Lalu ku jambak rambut ku frustasi, apa yang harus ku lakukan?? tanyaku dalam hati, masih dengan menggigit kecil bibir bawah ku. Tak lucu kan kalau aku sampai ketahuan orang menemukan “bungkusan” di jalan? “lalu apa kata masyarakat, jika aku seorang pengacara muda terkenal di tuduh melakukan tindakan pidana?”

“Heyy. .ini tak seperti yang kalian bayangkan!” jerit ku dalam hati.

Kulihat sosok itu lagi, menatapnya lama. .”tapi aku tak bisa membawanya ke Rumah Sakit ato Kantor Polisi sekarang, pasti urusannya akan menjadi panjang, aku tak mau. .karir ku bisa hancur” gumam ku seraya menggelengkan kepala.

“Arrgghhh. .” teriak ku tertahan, karena takut membuat keributan.

“Tak ada jalan lain. .” gumamku.




**********




Author POV



Sang Raja Pagi pun mulai beriring naik kesinggasana, berbagi sedikit kehangatan di musim dingin ini. Pendar cahaya jingga melesat keseluruh permukaan bumi. Disebuah rumah dengan gaya modern minimalis, sesosok namja masih terlelap dengan balutan selimut yang hangat dan lembut. Terbungkus lucu seperti seorang bayi. Di sekitarnya seorang namja lain sedang berkutat dengan sebuah berkas dengan laptop dihadapannya dan terduduk di kursi kerjanya dengan segelas kopi panas yang masih menyisakan uap yang mengepul. Sorot matanya menampakan keseriusan terhadap apa yang di bacanya. Terkadang kepalanya manggut-manggut tanda mengerti atas apa yang menjadi perhatiannya saat ini.

“Eungh. .” terdengar lenguhan dari bibir mungil seorang namja yang sedang tertidur sambil sedikit menggeliat kecil, namja lain yang sedang fokus pada pekerjaannya menoleh melihat kearah tempat tidurnya yang berukuran king size tersebut. Ia pun mulai berjalan mendekati namja cantik itu, sembari memperhatikan tingkahnya ketika bangun tidur. Namja yang menjadi pusat perhatian itu pun perlahan membuka mata, menampakan sepasang biji mata yang indah dan bening. Mengerjap lucu, dengan bibir sedikit mengerucut.

“Yeppeo” gumam jonghyun dalam hati.

Kemudian sesosok namja cantik itu pun menoleh kearah jonghyun berada, sedikit terkejut.

“Tampan” itulah kata pertama yang keluar dari bibir manisnya, namun tak cukup terdengar oleh jonghyun.

“Anyeonghaseyo” ucap jonghyun ketika mata mereka beradu untuk pertama kalinya.

Namja cantik itu tak menjawab, masih betah menatap wajah jonghyun, yang semakin terlihat kebingungan.



Jonghyun POV



“Yeppeo” gumam ku dalam hati, ketika melihat sesosok namja yang kutemukan kemarin malam dalam keadaan tak sadarkan diri, kini telah bangun dan membuka matanya yang indah, entah mengapa ku sangat mengagumi makhluk Tuhan ini, matanya tajam seperti mata kucing. Dia menatap ku lekat tak berkedip membuatku sedikit bingung, bahkan ketika ku menyapanya.




**********




Author POV



Kini mereka berdua sedang duduk berhadapan di sebuah sofa empuk, dengan seporsi makanan yang lezat tentunya. Namja cantik itu pun makan dengan lahapnya. Jonghyun yang melihatnya hanya tersenyum memperhatikan. Kemudian ia bangkit dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Ia kembali duduk dihadapan namja cantik itu, yang masih sibuk dengan makanannya. Merasa di perhatikan terus menerus oleh namja yang menurutnya tampan, ia sedikit salah tingkah dan menjadi tersedak. Dengan segera jonghyun mengulurkan gelas yang berisi air minum. Namja cantik itu pun menerima dan meminumnya hingga habis. Diletakkannya gelas itu di meja sembari menatap ragu jonghyun. Jonghyun pun tersenyum lembut.

“Ireumi mwoyeyo (Siapa nama mu)?” tanya jonghyun.

“Key” jawab namja cantik itu sedikit menunduk.

“Nama yang cantik, seperti dirimu” ucap jonghyun terus terang membuat namja yang bernama key itu sedikit merona wajahnya.

“Kamu tinggal dimana?” tanya jonghyun lagi, yang hanya di jawab dengan gelengan kepala key yang mengisyaratkan bahwa ia tidak punya tempat tinggal saat ini.

Sementara jonghyun hanya diam terlihat seperti berpikir,

“Bagaimana kalau kamu tinggal disini? Aku sendirian, kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Kalau kamu mau kita bisa menjadi teman” kata jonghyun mantap.

“Eoh. .ne, gomawo” kata key sembari tersenyum.

Jonghyun terperanjat saat melihat senyum key untuk pertama kalinya, ia merasa jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya dari wajah key, dan berdiri untuk menutupi rasa gugupnya. Kemudian ia berjalan ke almari pakaiannya, dan mengambil kemeja putih yang terletak di bagian bawah, kemeja itu lama tak pernah di pakai karena sedikit kekecilan. Jonghyun pikir itu sedikit pas dengan badan key yang kecil. Kemudian ia menghampiri key, dan memberikannya.

“Ambil, dan mandilah agar kau lebih segar” ucap jonghyun menyerahkan kemeja putihnya, sembari menunjukan letak kamar mandinya.

“Owh, ne. .gomawo” kata key sembari bangkit dari duduknya dan sedikit membungkukkan badannya untuk menunjukan rasa hormat dan terima kasihnya pada namja tampan tersebut.

Jonghyun hanya tersenyum. Kemudian key berjalan menuju arah kamar mandi. Sesaat sebelum masuk kamar mandi, key berbalik dan bertanya “boleh aku tahu, siapa nama mu?”



Jonghyun POV



“Boleh aku tahu, siapa nama mu?”

Dia bertanya padaku sesaat sebelum masuk kamar mandi,

“Jonghyun” jawabku singkat.

Setelah mendengarnya, ia kembali tersenyum dan segera masuk kamar mandi, meninggalkan aku yang sedikit grogi melihat senyumannya (lagi).




**********




Author POV



Saat ini jonghyun kembali ke meja kerjanya, berpacaran dengan berkas-berkas yang untuk sejenak tadi di lupakannya. Kini perhatiannya terfokus pada lembaran kertas di hadapannya dan sesekali mengetik sesuatu di laptopnya. Bahkan tak menyadari ketika pintu kamar mandi terbuka, dan menampakkan sesosok namja yang telah berbeda kondisinya dari semula. Ia tampak lebih bersih, segar dan cantik. Key berjalan ke sofa tempatnya duduk tadi, yang letaknya berhadapan dengan meja kerja jonghyun. Yang artinya Key harus melewati jonghyun untuk sampai ke sofa. Key yang malu berjalan dengan menunduk, ia merasa malu dan sedikit tidak nyaman dengan bajunya saat ini. Bagaimana tidak, ia hanya menggunakan kemeja putih yang jonghyun berikan tanpa ada pakaian lain yang melekat di tubuhnya (tenang masih pakai CD kok #plak). Ragu, ia mulai berjalan hingga ia tersandung pot tanaman yang berada di samping kursi sofa. Mendengar kegaduhan, reflek jonghyun mendongakkan kepala.

“Mianhae” ucap key gugup masih dengan kepala tertunduk, menyadari bahwa jonghyun kini menatapnya.

“. . . . . . . .”

Tak ada balasan dari jonghyun, hati key mulai sedikit panik, ia takut jonghyun akan menganggapnya aneh. Ia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya melihat ke tempat jonghyun berada. Ketika pandangan mereka bertemu tiba-tiba jonghyun menunduk dan kembali fokus pada pekerjaannya.



Jonghyun POV



“Duk”

Terdengar suara seperti tersandung sesuatu. Karena kaget aku pun mendongakkan kepala menoleh kearah sumber suara berasal.

“Mianhae” itu kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dan aku tegaskan disini, bahwa aku masih bisa mendengarnya mengucapkan itu. Tapi entah mengapa mulutku tak sinkron dengan kinerja otak ku. Otak ku memproses lain, menikmati pemandangan luar biasa di hadapan ku saat ini, dimana sesosok namja dengan kulit putih, pipi tirus, dan bibir merah muda merekah sedang tertunduk. Tak kusia-siakan kesempatan saat ini, ku pandangi tiap bagian tubuhnya dari bawah hingga atas. Kakinya yang jenjang terekspos jelas, karena aku memang hanya memberikan dia kemeja tanpa celana, aku benar-benar lupa (modus #plak). Sungguh-sungguh lukisan yang tergambar sempurna, dengan detail-detail indah pada tiap bagiannya. Tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan menatapku dengan bingung, aku pun tersadar dari lamunan ku.

“Gwenchana” ucapku kembali menunduk dan pura-pura fokus pada pekerjaan ku lagi. Entah bagaimana kondisi wajahku saat ini, bisa di pastikan merah seperti udang rebus. Aku malu. . .



Author POV



Setelah “acara” tadi, key menghabiskan waktu dengan melihat televisi. Sedangkan jonghyun menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali ia mencuri pandang ketempat key berada. Namun ia hanya mendapati punggungnya yang sedang menonton televisi dengan serius, bagaimana tidak bahkan key tidak menunjukkan pergerakan yang berarti, sesekali ia hanya berpidah posisi duduknya, mungkin pantatnya yang terasa panas karena sedari tadi hanya duduk tak ada kerjaan. Jonghyun pun melirik jam digital yang berada di meja kerjanya, tak terasa waktu menunjukan pukul 2 siang, ia hendak beranjak mendekati sofa tempat key berada, namun jonghyun tak melihat keberadaannya. Ia pun mengerutkan kening, pertanda bingung. Ia melangkah mendekat, dan didapatinya key sedang tertidur dengan merebahkan tubuhnya di sofa. Diamatinya key yang sedang tertidur, sesekali jonghyun tersenyum entah apa yang dipikirkannya. Ia mendekat dan dibopongnya tubuh kurus key ke tempat tidur, di baringkannya dengan sangat hati-hati takut kalau membangunkannya. Ditariknya selimut hingga menutupi sebagian tubuh key. Kemudian ia beranjak ke almari dan mengambil jaket kulit warna coklat kepunyaannya. Setelah memakainya dengan sempurna, ia pun mengambil kunci mobil di meja kerjanya dan melangkah keluar dari rumahnya, meninggalkan key sendiri.




**********



Jonghyun melajukan mobilnya kesebuah butik ternama langganannya, “AMIGO”. Sepanjang jalan jonghyun bernyanyi kecil, sepertinya hari ini moodnya sangat baik. Terkadang ia tersenyum namun tetap serius dengan kemudinya. Setelah beberapa saat ia pun sampai ketempat tujuan. Ia pun keluar dan memasuki butik mahal itu. Ia disambut oleh seorang pelayan wanita yang setelah melihat kehadirannya ia membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.

“Annyonghaseyo” ucap pelayan itu sembali tersenyum manis.

“Annyong” balasku dengan menunjukan senyum malaikat, yang konon kata teman-temanku dapat melelehkan hati setiap yeoja,

“Tuan mau membeli baju lagi?” tanya pelayan itu.

“Ah, anio. .bukan untukku, tapi temanku” jelasku.



Yah baru beberapa hari lalu, ku belanja beberapa stel baju kerja dan baju santai, sudah pasti pelayan itu heran kenapa aku kembali lagi. Mungkin pikirnya aku adalah orang yang hobi membuang uang. Siapa yang tidak tahu butik AMIGO yang terkenal seantero Seoul, tempat orang-orang berkelas membeli fashion dengan label “limited edition”, bahkan tak jarang beberapa aktris dan aktor juga menyempatkan untuk main ke sini. Jangan ditanya, sudah pasti harga tiap produknya juga ‘wow’. Sebagai seorang pengacara muda yang sedang naik daun, sudah pasti aku harus menunjukan ‘harga’ ku di mata masyarakat kan? Tidak hanya itu, tapi harus ku akui bahwa selera fashion butik ini sangat bagus. Dan bahan yang di pakai juga sangat nyaman. Jadi tak sia-sia mengeluarkan budget mahal untuk sebuah ‘pencitraan’. Baiklah ini bukan saatnya untuk menyombongkan diri.



Setelah memilih beberapa stel pakaian dan celana yang ukurannya cukup aku kira-kira dengan membayangkan tubuh key saja, aku memberikan credit card pada pelayan wanita tersebut. Sesaat kemudian pelayan wanita itu kembali untuk menyerahkan credit card ku dan hendak membawa kantong belanjaanku ke mobil.

“Tunggu, biar ku bawa sendiri” ucapku.

“Owh, benarkah? Silahkan tuan” ucapnya sambil menyerahkan kantong belanjaanku.

“Ne. .gomawo” ucapku sambil tersenyum dan beranjak keluar dari butik.

Kutaruh tas itu di jok samping kemudi. Lalu ku tancap gas menuju supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan berupa sayur-sayuran, daging, telur, ikan, jamur, dll. Sebagai seorang yang tinggal sendiri, ku di tuntut untuk dapat memasak sendiri, walau ku akui lebih sering pesan dari restaurant, karena bentuk masakan ku yang aneh dan rasanya yang sangat menakjubkan. (*Hahaha TT.TT) Tapi kali ini ku bersungguh-sungguh ingin memasakkan key sesuatu yang spesial, yang akan membuatnya menangis terharu.



2 jam kemudian. . .

Akirnya jonghyun sampai di rumahnya. Ia segera masuk, setelah memasukan mobilnya ke garasi, tak lupa mengunci pagar rumahnya terlebih dahulu. Ia melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 17.30, sambil memutar knop pintu. Gelap dan hening. Apa mungkin key masih tidur pikir jonghyun. Dirabanya dinding rumah untuk mencari tombol saklar dan menghidupkan lampu. Kemudian ia menaruh barang belanjaannya di dapur dan beranjak menuju kamarnya.

“Key? Apa kau sudah bangun?” tanya jonghyun menyelidik sambil matanya menjelajah ke semua sisi ruangan. Dilihatnya kasur tempat key tadi tertidur, sudah kosong. Apa mungkin key melarikan diri? Tanya jonghyun dalam hati. Kemudian jonghyun hendak berbalik untuk mencari key di ruang lain. Saat memutar tubuhnya, tiba-tiba. . .

“Aaaaaaaaaaaaaa” teriak jonghyun.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriak seseorang yang tak kalah kerasnya, tak lain adalah key.

“Key? Kenapa kau teriak sekeras itu? tanya jonghyun sambil menutup telinganya.

“Lalu kau sendiri kenapa berteriak jjong? Aku kan kaget dan reflek ikut berteriak” ucap key membela dirinya.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa tak menghidupkan lampunya? Ini kan menjelang malam? tanya jonghyun bertubi-tubi.

“Benarkah? Aku kira ini sudah pagi” jawab key dengan polosnya, sambil menggaruk kepalanya.

“Aishhh, kau ini benar-benar pabo, tak bisa kah kau membedakan antara pagi dan malam?” ledek jonghyun.

“Yak, kau. .aku benar-benar tak tahu, kenapa kau memarahiku” sanggah key sambil mengerucutkan bibirnya.

Sejenak jonghyun terdiam melihat kalakuan key yang menurutnya. .arghhh, lupakan. Dengan namja ini, ia sering merasa salah tingkah dan tak bisa membantah. Ting, seolah mengingat sesuatu yang penting,  hal yang menurutnya agak janggal.

“Tunggu, tadi kau memanggilku apa? Jjong? Apa aku tak salah dengar? Tanya jonghyun memastikan.

“Ne. .mulai sekarang aku akan memanggil mu jjong” ucap key mantap, mengedipkan matanya lucu.

“Wae?” tanya jonghyun sambil senyam-senyum geje.

“Biar lebih praktis, aku rasa nama ‘jonghyun’ memakan waktu yang lama untuk memanggilnya” ucap key tanpa rasa berdosa.

“MWO?? O.O” kata jonghyun sembari membulatkan mata tak percaya, pupus sudah harapannya, ia pikir itu panggilan sayang key terhadapnya.

Seenaknya saja dia mengubah nama seseorang yang baru di kenalnya, sopankah itu?? rutuk jonghyun dalam hati. Tapi ia tak berniat melanjutkan perdebatannya dengan key saat ini.

“Hufftt. .sudahlah aku menyerah berdebat dengan mu, itu aku belikan beberapa baju dan celana untuk mu, ku taruh di ruang tamu” kata jonghyun lemas.

“Benarkah?” kata key sumringah sambil berlari kearah ruang tamu.

“Yeah, ini benar-benar bagus jjong, ternyata kau memiliki selera fashion yang cukup bagus? ucap key dari ruang tamu.

Sementara itu kondisi jonghyun. . .

Ia hanya melongo, dengan background celotehan dan suara tawa key. Mematung sejenak, sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar melorot kelantai, bersimpuh.

“Ya Tuhan, sepertinya penilaian ku padanya salah besar, ku pikir dia pemalu dan sangat manis, ternyata. .mengerikan, dia bisa mendebat perkataanku. .Hhhuaaaaa” tangis jonghyun dalam hati.

Seperti adegan drama, ia bersujud dan memukul-mukulkan tangan kanannya pada lantai, seolah terdzolimi oleh keadaan.

“Aku. .sepertinya kehidupanku esok akan lebih ‘berwarna’ dengan kehadiran orang itu” ucap jonghyun lirih TT.TT




**********




Key masih sibuk dengan baju yang di belikan jonghyun padanya, sembari terkadang mematutkan diri di kaca, dan tersenyum manis.

Jonghyun sendiri setelah bangkit dari keterpurukannya, ia menuju dapur untuk memasak makanan. Ia masih berharap key kembali normal dan terharu pada perlakuannya. Ia membuat masakan berdasarkan feeling yang ia punyai, termasuk takaran bumbunya. Setelah 1 jam berlalu, ia menghidangkan masakannya itu di meja makan. Dan memanggil key untuk makan malam bersama.

“Key, kemari. .kita makan malam bersama” kata jonghyun

“Ne, jjong” jawab key, meletakkan baju-bajunya dan beranjak ke meja makan dimana jonghyun telah duduk menunggunya.

Key menarik kursi di hadapan jonghyun, lalu duduk, dan menatap hidangan di depannya. Ia mengerutkan kening. Hal itu di sadari jonghyun, yang mendapati gelagat aneh dari key.

“Wae?” tanya jonghyun.

“Em. .mmm. .” gumam key tak jelas.

“Ada apa?” tanya jonghyun lagi, mulai panik. .”akan kah dia. .” belum selesai jonghyun berkata dalam hati key sudah mendahuluinya berkata sesuatu yang membuatnya shock.

“Apa ini makanan? Bentuknya aneh sekali” kata key polos sambil mengedip-ngedipkan matanya lucu.

“. . . . . . . . . .” tak ada balasan dari jonghyun, ia hanya menunduk tak menampakan raut mukanya.

“Eh, biar kucoba. .siapa tahu rasanya lezat, bukankah kita tidak boleh menilai sesuatu dari luarnya, hehehe” kata key grogi mendapati keanehan pada jonghyun.

Beberapa saat kemudian. . .

“Hiks. .hiks. .hiks”

Terdengar suara seseorang menangis. Jonghyun pun tersadar dan mendongakkan kepalanya. Ia dapati key menangis sambil memakan masakannya. Jonghyun berpikir kalau key terharu.

“Sesuai dengan rencana” batin jonghyun tersenyum dan lebih tepatnya seperti smirk. Ia akan segera melancarkan aksinya, membuat key jauh lebih terharu, untuk menarik perhatiannya.

“Sudahlah key, aku tak apa-apa, ini ku buat dengan sepenuh hatiku, tak apa kau tadi sempat menghinanya, aku rasa ini sungguh lezat hingga kau menangis” kata jonghyun percaya diri sembari menatap wajah key yang memerah karena menangis, yeppeo.

“Jjong. .” ucap key terbata.

“Ne” balas jonghyun singkat masih dengan tersenyum.

“Aku minta maaf, tapi bisakah kau. .” kata key terputus.

“Ne, tentu bisa key, aku akan memasakan mu setiap hari” ucap jonghyun makin sumringah.

“Ah anio, bukan begitu jjong. .aku rasa cukup kali ini saja kau memasak untuk ku, aku bahkan tak mampu menjelaskan rasanya, sungguh. .ini benar-benar TIDAK ENAK!?” kata key menutup mulutnya, seperti menahan sesuatu yang akan keluar. Beberapa detik kemudian, ia berlari ke kamar mandi, dan terdengarlah. . .yah tepat sekali, key muntah! (hahahaa)

Sementara itu jonghyun bagai tertiban batu masa megalitikum, yang sangat besar, bugh!! Kepalanya berputar-putar, sedikit mencerna perkataan key barusan. Mulai saat ini sepertinya dia harus menyadari sesuatu, bahwa ‘sekeras apa pun ia berusaha memasak, rasanya tak akan pernah terduga’.




**********




Beberapa saat setelah kegiatan key di kamar mandi, ia kembali ke meja makan, tapi tak di dapatinya jonghyun beserta segala masakannya. Sepertinya telah di bereskan jonghyun pikir key. Ia pun mencari dan mendapatinya tertidur di kasur dengan posisi memunggunginya.

“Jjong?” panggil key untuk memastikan apakah ia sudah tertidur.

“Aku harus tidur sekarang, besuk aku masuk kerja” ucap jonghyun masih dalam posisi yang sama.

“Kau bisa tidur di samping ku, kalau kau mau” ucap jonghyun lagi.

“Baiklah, selamat malam jjong” kata key lirih merasa bersalah karena tragedi di meja makan tadi.

Key pun berjalan mencari saklar lampu dan mematikannya. Menyisakan lampu kecil di sudut ruangan dengan penerangan yang memancar redup. Ia beringsut merebahkan diri di samping jonghyun, menidurkan badannya untuk kembali ia bawa kealam mimpi. Tapi matanya masih setia menatap langit-langit kamar. Seperti berpikir. Mungkinkah menghitung domba? Sejenak sebelum ia benar-benar menutup matanya, ia menatap punggung jonghyun dan tersenyum. “gomawo” katanya lirih, nyaris seperti berbisik.




**********




Jam dinding menunjukan pukul 06.00 pagi, sesosok namja cantik sedang berkutat dengan kegiatannya, yaitu memasak. Sebagian masakannnya yang sudah selesai ia tata rapi di meja makan dan sebagian yang belum dengan teratur ia selesaikan. Kemudian ia menepuk jidatnya, pertanda ia mengingat sesuatu. Ia pun beranjak ke kamar dimana jonghyun masih pulas tertidur. Ditepuk-tepuknya pantat jonghyun, agar ia segera membuka mata.

“Jjong bangun, sudah pagi” kata key masih menepuk-nepuk pantatnya.

“Eunghh” gumam jonghyun sambil menggeliat lalu mengerjapkan matanya lucu.

“Key? Ada apa?” kata jonghyun lagi.

“Bukankah hari ini kau masuk kerja? Bangunlah dan segera mandi, aku menunggu mu di meja makan” perintah key, berjalan meninggalkan jonghyun dan kembali ke dapur.

“Katanya kemarin tak mau makan masakanku lagi” cibir jonghyun sembari bangkit. Ia berpikir kalau key memintanya untuk memasak makanan untuknya.

30 menit kemudian, jonghyun keluar dengan setelan jas rapi, menuju meja makan. Matanya terbelalak melihat berbagai hidangan di meja saat ini. Sungguh menggoda, tampilannya sangat menarik dan baunya menggugah selera. Yummy.

“Jjong, kau sudah selesai” ucap key, keluar dari dapur menuju meja makan, sambil meletakkan 2 cup chocolate hangat.

Wajah jonghyun terlihat bingung.

“Apa kau yang membuat ini semua?” tanya jonghyun tak percaya.

“Wae? Bukankah lebih bagus dari punya mu kemarin malam” ucap key to the point.

“Ck, kau ini sungguh menyebalkan!?” kata jonghyun sembari duduk di kursinya, berhadapan dengan key.

“Jjong, apa kau masih marah? Mian. .aku tak bermaksud menyakiti hati mu hanya. . .” ucap key tertahan, menundukkan kepala.

Jonghyun kaget dengan perkataan key barusan,

“Lupakan. .aku hanya malu, kemarin aku bermaksud membuatkan mu masakan dengan sepenuh hati agar kau terharu, tapi di luar dugaan ternyata masakanku sangat mengenaskan” kata jonghyun.

“dan untuk pertama kalinya ada orang yang mengkritikku secara langsung dan tajam, itu membuatku terluka. Bukan karena faktanya ‘aku tidak bisa memasak’ tetapi itu terucap dari mulut mu, entahlah tapi aku merasa sedih. .tak bisakah kau berbohong sedikit untuk menyenangkan hatiku? jelas jonghyun panjang lebar.

Key mendongakkan kepalanya, terperanjat dengan pengakuan jonghyun barusan. Mencoba mencernanya lebih dalam. Menatap lekat mata hazel jonghyun, mencari kejujuran dari manik matanya yang bening.

“Sepertinya aku menyukaimu, akh bukan lebih tepatnya aku mencintaimu. .key” jonghyun menelan ludahnya dengan susah payah, mulai menundukkan kepalanya karena sangat malu.

Krik. .krik. .krik. . *hening

1 menit

2 mneit

3 menit

4 menit

5 menit

Tak ada tanggapan dari key, jonghyun pun mulai gelisah. Ia memberanikan diri untuk melihat wajah key. Datar. Wajah key terlihat datar, sangat datar. Tak ada sebuah senyuman. Bahkan keningnya pun tak mengkerut seperti biasanya kalau dia bingung. Tapi matanya masih menatap lurus jonghyun. Jonghyun pun menjadi salah tingkah. Apa aku terlalu cepat mengatakannya? Atau dia sudah punya namjachingu? tanya jonghyun dalam hati.

“Mian, jeongmal mianhae key! Aku tak bermaksud seperti itu. Mungkin ini terlalu cepat bagimu. dasar pabo” rutukku panjang lebar dan memukul-mukul kepalaku.

“Apa barusan kau menyatakan cinta, jjong? Sejak kapan? tanya key datar.

Jonghyun menunduk, meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, “Aku juga tak tahu, sejak pertama mungkin. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku merasa nyaman bersamamu dan entahlah. .aku juga binggung”.

“Bisa kau ucapkan lagi perasaanmu jjong? tantang key.

“Mwo?’ tanya jonghyun bingung. “Ah, ne. .baiklah” ucap jonghyun lagi.

“Saranghae key” lirih jonghyun.

“Nado. .nado saranghae jjong” ucap key sembari tersenyum tulus.

“MWO??? O.O” teriak jonghyun dengan mata membulat dan mulut membentuk huruf ‘O’ penuh.

Tik. .tok. .tik. .tok. .*sekarang suara jam dinding merajai suasana makan pagi hari ini.

Key menjentikkan tangannya di depan wajah jonghyun, lalu mengibas-ngibaskan perlahan.

“Segera kembalilah ke alam sadar mu jjong, aku menunggu untuk segera makan pagi, aku lapar” ledek key mendapati jonghyun masih terbengong-bengong.

Tiba-tiba. . .

“Aaaaaaaaaa” teriak jonghyun.

“Aaaaaaaaaaaaa” key pun ikutan teriak, wajahnya terlihat panik.

“Wae jjong, kenapa kau berteriak?” tanya key bingung.

Lalu kenapa kau juga ikut berteriak key? tanya jonghyun.

“Aku kaget mendengar suaramu itu, dasar pabo” rutuk key.

“Aku senang key, sangat senang kau menerima cintaku” ucap jonghyun cengar-cengir.

“Saranghae keeeeyyyyyyyyyyyyy” teriak jonghyun sambil meloncat-loncat seperti anak anjing yang mendapat tulang dari tuannya.

Sementara key hanya memperhatikan kelakuan konyol jonghyun, pantaskah ia di sebut pengacara??

“Jjong?’ panggil key.

“Ah, ne key” jawab jonghyun masih dengan tangan terangkat ke udara dan senyum 3 jari menatap key.

“Bisa kita mulai makan pagi kita? Kau bisa terlambat berangkat kerja” ucap key jengkel.

Jonghyun pun melirik jam dindingnya, menunjukkan pukul 06.45. Jonghyun baru menyadari ia hanya punya waktu 15 menit untuk menyantap makanannya. Karena ia harus berangkat kerja tepat pukul 7 pagi, dan perjalanan menuju kantor memakan waktu 1 jam. Yak jam kerjanya di kantor di mulai pukul 8 pagi hingga jam 5 sore, tapi bila lembur bisa sampai jam 8 bahkan jam 11 malam.

“Siksa haseyo (Selamat makan)” teriak jonghyun riang, lalu mulai mengambil masakan yang tersaji. Terlihat ia sangat menikmatinya.

“Hemm, ini sangat enak key, sungguh. .” kata jonghyun dengan mulut penuh makanan.

“Makanlah dengan baik, jangan seperti anak kecil, banyak bicara kau bisa tersedak!” omel key.

“Baiklah baby” ucap jonghyun, sambil mengerling nakal pada key. Hal ini jelas membuat key merona karena malu dan juga sangat senang.




**********




“Aku berangkat dulu baby, kau baik-baik di rumah dan ini. . .” ucap jonghyun sambil menyerahkan credit card miliknya pada key.

“Apa ini jjong?” kenapa kau berikan padaku?” tanya key binggung.

“Ambillah, kau bisa menggunakannya untuk kebutuhan mu. .kau juga boleh pergi jalan-jalan ke mall, asal jangan pulang terlalu malam, arayo!?” kata jonghyun.

“Ne jjong” jawab key sambil tersenyum.

“Bye-bye baby” ucap jonghyun setelah masuk kedalam mobil, melambaikan tangannya. Dengan segera Black Audinya melesat menuju jalanan kota seoul yang ramai.




**********




Di lain tempat. . .

Disebuah gudang kumuh tak berpenghuni, di dalamnya bertumpuk mebel-mebel usang yang berlumut dan berdebu, di salah satu sudut ruangan, nampak 5 orang namja bertubuh kekar, dengan penampilan necis, 2 diantaranya lebih mirip bos besar, 3 lainnya menggunakan kaos hitam ketat menampakkan otot-otot ditubuhnya, mirip seorang algojo.

“Apa ada perkembangan?” tanya sesosok namja jangkung dengan setelas jas hitam mirip mafia-mafia, dengan cerutu menghiasi salah satu sudut bibirnya.

“Belum ada tuan, tapi kami akan segera mendapatkannya” jawab salah satu namja dengan mantel bulu berwarna coklat gelap.

“Baiklah, aku cukup bersabar kali ini, segera bawa pulang padaku atau. . .” ucapnya menggantung.

“Atau. .kau akan membayarnya dengan. .NYAWA mu” katanya lagi, menunjukkan smirk yang menyeramkan.

“Aku pergi dulu, bekerjalah dengan baik sayang” kata namja jangkung itu, berlalu sembari membelai pipi namja bermantel dengan sangat lembut, membuat si empunya bergidik ngeri, paham akan maksud sentuhannya itu.

“Aku harus segera membawanya pulang, apa pun yang terjadi!!” geram namja bermantel tersebut, dengan tangan terkepal dan gigi bergemeretak, tanda ia sedang menahan emosinya yang seakan segera meluap.

“Kalian!. .cari dia sampai ketemu!” bentak namja bermantel kepada 3 anak buahnya yang sedari tadi menganggur.

“Ba. .baik tuan” jawab mereka kompak.




**********




TBC



JONGKEY / YAOI / MISUNDERSTANDING (PART 2)

Jonghyun telah sampai di depan rumahnya, badannya basah kuyup kehujanan karena langit mendadak gelap dan memuntahkan isinya.

“Hufft, hari ini aku sangat sial. Harus menahan malu dan kehujanan. Ck. Menyebalkan!” rutuk jonghyun, yang tak henti-hentinya mengomel sejak turun dari bis dan harus berlari karena hujan tak mendengar permohonannya untuk menunda barang beberapa menit untuknya sampai kerumah.

Diputarnya knop pintu dan segera ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Gelap. Apa mungkin karena suasana di luar yang mendung? Padahal waktu baru menunjukkan pukul 4 sore. Jonghyun melepas jaket kulitnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Terlebih dahulu ia menghidupkan saklar lampu agar lebih terang. Mendadak kakinya terasa lemas, matanya melotot hingga hampir keluar. Wajahnya terlihat panik. Bagaimana tidak? Key tak ada. Hanya menyisakan borgol yang masih menempel pada kursi. Jonghyun menjambak rambutnya frustasi, apa yang di khawatirkannya terjadi sudah. KEY MELARIKAN DIRI!

“KEY!! DIMANA KAU!?” jonghyun berteriak seperti orang gila, tak lagi mempedulikan badannya yang masih basah kuyup. Tubuhnya ambruk ke lantai. Beberapa cairan bening lolos dari matanya, jatuh menyapu permukaan kulit wajahnya yang sedikit pucat karena kedinginan.

“Kembali. .jangan tinggalkan aku key” lirih jonghyun nyaris seperti berbisik.

“Ceklek” terdengar suara knop pintu terbuka, muncullah sesosok namja kurus dengan handuk tergantung di lehernya. Rambutnya basah, menyisakan beberapa bulir air dipermukaan kulitnya yang putih pucat. Terlihat lebih bersih dan segar. Jonghyun mendongak, terbelalak kaget mendapati sesosok namja yang tak lain adalah key, keluar dari kamar mandi.

“Key” lirih jonghyun seolah tak percaya pada pandangan matanya.

“Apa yang kau lakukan disitu? Kenapa kau duduk di lantai dengan badan basah kuyup?” tanya key polos, tak paham dengan apa yang telah terjadi. Diamatinya keadaan jonghyun yang berantakan dari ujung kaki hingga rambut.

“Aku menemukan kunci borgol yang tergeletak di atas meja. Jadi ku gunakan saja untuk membuka borgol. Kuputuskan untuk mandi, bukankah kau akan membelikan aku baju baru. Tak mungkinkan aku memakainya dalam kondisi badan yang bau?” jelas key panjang lebar, sambil berjalan melewati jonghyun dan duduk di sofa berhadapan dengannya.

“Lalu kau sendiri kenapa? Kenapa terlihat berantakan seperti itu? Apa kau takut aku pergi meninggalkan mu, merasa kehilangan eum??” ledek key menatap wajah jonghyun yang masih belum sepenuhnya sadar. Tak lupa senyuman nakal seolah menggoda.

Ditatapnya lekat-lekat wajah key, tanpa berkedip. Segera di palingkan arah pandangnya, untuk menutupi wajahnya yang bersemu merah. Malu.

“Anni, siapa yang takut? A. .aku tak takut kau tinggalkan!’ sanggah jonghyun dengan terbata, hal itu justru membuat key tertawa terbahak-bahak.

**********

Kini jonghyun dan key kembali pada kondisi seperti kemarin malam, terborgol dalam satu ikatan. Saat ini mereka sedang membersihkan rumah bersama-sama. Key menyapu dan jonghyun mengepel. Terlihat sedikit bersusah payah, karena tangan mereka yang terborgol satu sama lain menyusahkan untuk bergerak. Jonghyun sebenarnya enggan melakukan ini, tapi key mengomel tak henti-hentinya ketika berceramah tentang kondisi rumahnya yang kotor dan berantakan. Sekali lagi, entah mengapa jonghyun merasa tak berdaya dengan segala titah dari sang kucing.

“Hey, kenapa kau tak melarikan diri saja ketika berhasil membuka borgol?” tanya jonghyun di sela-sela kesibukannya mengepel.

“Apa kau menginginkan aku pergi?” key bertanya balik.

“Aku bertanya padamu, kenapa kau bertanya balik” sungut jonghyun, terlihat sebal.

“Entahlah. Walau ku tau kau menculikku. Tapi ku merasa kau tak berniat buruk padaku. Kau menjaga ku dengan baik. Dan. .aku merasa senang bersamamu” jawab key terus terang tapi terdengar lirih ketika mengatakan kalimat yang terakhir.

Jonghyun terdiam, entah mendengar atau tidak jawaban key seutuhnya. Tapi raut wajahnya berubah menjadi. .sulit diartikan. Biarlah menjadi rahasia, hanya Tuhan dan jonghyun yang tahu. Mendadak suasana hening, mereka sibuk dengan pikiran dan pekerjaan masing-masing. Hampir 2 jam lebih setelah kepulangan jonghyun tadi, mereka mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari melipat pakaian, menata kasur, membereskan barang yang berserakan, menyapu dan mengepel. Tak terasa waktu menunjukan pukul 18.30, waktunya makan malam. Apalagi seharian ini mereka berdua sudah bekerja keras, lelah itu sudah pasti.

“Hari ini kita makan apa?” ucap key duduk berhadapan dengan jonghyun, yang terlihat sedang berpikir.

“Entahlah, asal bukan mie. Aku bosan” ucap jonghyun datar sambil menopang dagu dengan tangan kanannya yang bebas tak terborgol.

“Ada apa saja di kulkas mu yang minimalis itu?” tanya key seolah meledek.

Jonghyun melirik key sekilas, merasa diremehkan. Walau pada kenyataannya kulkasnya itu memang tak pernah berisi makanan selain sayuran dan beberapa jamur terkadang baso atau sosis walau sangat jarang.

“Hanya ada sayur dan beberapa potong jamur” jawab jonghyun singkat.

“Baiklah akan ku buatkan makanan, tapi lepaskan dulu borgol ini” ucap key lagi, sambil mengibaskan ikatan borgol yang melekat pada tangan kanannya dengan tangan kiri jonghyun.

“Bisa apa kau? Apa ini alasan agar kau bisa lari dari ku?” tanya jonghyun sambil memicingkan kedua matanya seolah menyelidik tak percaya.

“Kalau aku ingin lari, sudah ku lakukan dari tadi. Sudahlah kalau tak mau tak apa-apa, ku bisa tidur lebih awal” jawab key jutek, sebal karena jonghyun tak juga percaya padanya.

“Yak, kenapa ketus sekali jawabanmu. Aku hanya bercanda” ucap jonghyun sambil merogoh saku celana yang berisi kunci borgol, sesaat kemudian memasukkan pada lubang dan terbukalah ikatan mereka berdua.

“Apa kau yakin? Hati-hati aku akan mencuri kesempatan untuk melarikan diri” ucap key cuek sambil berdiri menuju dapur setelah sebelumnya mengambil beberapa sayuran dan jamur dalam kulkas.

Jonghyun tertegun, terlihat menatap punggung key lekat-lekat hingga akhirnya ia berlari tergesa kearah pintu, dan menguncinya. Tak lupa disimpannya kunci itu di saku celana, di tempat yang sama dengan kunci borgol tadi.

“Kau tak bisa pergi dari ku key” gumam jonghyun, dengan tangan terkepal dan wajah waspada yang justru membuatnya terlihat konyol.

**********

“Apa ini kau yang membuatnya” tanya jonghyun tak percaya, setelah melihat sajian menu di atas meja. Menatap takjub.

Key berkacak pinggang seolah meremehkan jonghyun. Merasa puas dengan kreasinya saat ini. Ia menyulap sayur dan jamur menjadi hidangan yang tak kalah lezat dengan masakan restauran. Kemudian key duduk tepat dihadapan jonghyun dan mengambil posisi untuk makan, diikuti jonghyun yang segera mengambil sumpit dan mangkuk. Mereka makan malam berdua dengan khusyuk dan khidmat (?).

Beberapa jam setelah mereka makan malam bersama, kini mereka bersiap-siap untuk menjemput alam mimpi. Seperti biasa jonghyun tetap memborgol sebelah tangannya dengan tangan key, ritual wajib sebelum mereka tidur. Mereka telah berbaring bersebelahan, dengan pandangan kearah langit kamar. Untuk beberapa waktu suasana hening, hingga key memulai pembicaraan.

“Apa kau tau alasan kenapa aku di culik?” tanya key.

“Ne, karena kau kekasih dari seorang Choi Minho, jaksa terkenal itu. Karena itu kenapa kau tak putus saja dengannya, jadi kau tak harus mengalami hal ini” jawab jonghyun, dalam kata-katanya tersirat rasa cemburu pada sosok minho.

“Kau pasti kenal Keluarga Lee. Dia seorang pengusaha sukses dalam berbagai bidang, Ia tinggal berdua dengan adiknya yang bernama Lee Jinki. Mereka berdua mengambil alih perusahaan sejak kematian kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat. Tapi jalan yang mereka ambil salah, mereka justru terjerumus dalam lingkaran mafia perdagangan obat terlarang (narkoba). Beberapa bulan yang lalu tuan Lee Jinki, tertangkap dalam sebuah investigasi yang dilakukan oleh kekasihmu. Karena itulah sang kakak, Lee Joon mencoba menculik mu untuk menekan kekasihmu agar membatalkan tuntutan atas perkara yang menimpa adiknya” jelas jonghyun panjang lebar.

“Lalu apa yang akan di lakukan padaku bila minho tak bersedia?” tanya key lagi, kini mengalihkan pandangannya pada sosok jonghyun yang berada disampingnya.

“. . . . . . . .” tak ada jawaban, jonghyun hanya diam, pandangannya seolah menerawang jauh, entah apa yang dipikirkan, terlihat menyembunyikan suatu hal.

“Sebaiknya kita tidur, besok kita harus bangun pagi” ucap jonghyun mengabaikan pertanyaan key yang seharusnya ia jawab.

Mereka berdua mulai memejamkan mata, hingga beberapa saat kemudian keheningan tercipta. Hanya deru nafas teratur yang terdengar. Sudah tertidur mungkin? Tapi seorang namja cantik perlahan membuka matanya kembali, mengubah posisi tidurnya hingga berbaring menatap sosok namja yang tertidur disampingnya. Key, ia menatap jonghyun dengan pandangan sayu, seolah ingin mengatakan sesuatu yang selama ini mengganjal hatinya. Sebuah rahasia yang selama ini ia simpan rapat.

“Apa kau tau? Minho. .dia bukan kekasihku. Kami patner kerja, aku sebagai sekretaris sekaligus temannya, tak lebih seperti yang kau bayangkan” ucap key lirih hingga nyaris seperti berbisik, tepat di telinga jonghyun yang tengah tertidur. Kemudian ia semakin mendekat kewajah jonghyun, menatapnya untuk beberapa saat kemudian semakin dekat hingga hampir mencium keningnya. Tapi ia mengurungkan niatnya itu. Kembali pada posisi semula, membelai rambutnya perlahan dan kembali menutup mata. Beberapa saat setelah itu, sesosok namja kembali membuka mata, tak lain adalah jonghyun. . .Mungkinkah ia mendengar semuanya???

**********

Keesokan harinya.

Pukul 11.00 di sebuah ruang pengadilan, berkumpul banyak orang. Didominasi oleh banyak namja berpakaian serba hitam, setelan jas khas mafia-mafia. Apa lagi kalau bukan untuk memberi dukungan pada ketua mereka, Lee Jinki. Terlihat juga kakaknya, Lee Joon sedang duduk di kursi pengunjung beserta anak buahnya. Di muka pengadilan telah berjejer 3 hakim, seorang ketua dan 2 hakim anggota. Dihadapan hakim, seorang namja bermata sabit tengah duduk di kursi pesakitan dengan baju tahanan. Terlihat tenang tapi gurat kecemasan tetap terpahat diwajahnya yang tampan. Disampingnya, beberapa jaksa penuntut telah bersiap dengan segala keputusan yang akan di jatuhkan hakim pada terdakwa, Lee Jinki. Beberapa saat setelah hakim berunding, tiba saatnya untuk membacakan putusan.

**********

“Yak, apa yang kau lakukan, kenapa lama sekali berganti pakaiannya?” tanya jonghyun tak sabar di balik pintu kamar mandi. Wajahnya terlihat cemas, seolah berpacu dengan waktu.

“Ceklek” pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sesosok namja cantik dengan celana jeans dan kaos berwarna pink, key. Ia terlihat santai dan semakin cantik. Untuk beberapa saat jonghyun terpana, hingga teriakan key membuyarkan lamunannya.

“Berisik! Kenapa kau cerewet sekali. Memangnya kita mau pergi kemana, sampai kau tergesa-gesa seperti itu” ucap key sewot, setengah berteriak.

“Kita akan pergi jauh” ucap jonghyun kemudian setelah tersadar, dan menarik sebelah tangan key untuk segera pergi. Tapi belum sampai didepan pintu tiba-tiba pintu terbuka paksa, muncul 2 orang namja berpakaian hitam berbadan kekar, merangsek masuk tanpa permisi. Jonghyun dan key sangat terkejut, bahkan salah seorang namja kekar itu mendorong jonghyun hingga terjatuh. Key panik, dan membantu jonghyun untuk berdiri. Sesaat kemudian muncul namja lain yang disinyalir sebagai bosnya, tak lain adalah lee joon. Ia menatap key seolah binatang buas yang siap menerkam mangsanya. Dimatanya tergambar gurat kebencian yang teramat dalam. Key yang menyadari hal itu semakin takut, ia berusaha bersembunyi dibalik badan jonghyun. Jonghyun tak dapat berbuat banyak, niatnya untuk melarikan diri bersama key gagal. Pagi ini, ia berniat membawa kabur key ke manapun asal tak lagi berjumpa dengan bosnya itu, tapi jonghyun kalah cepat, hingga kini bosnya sudah berdiri dihadapannya beserta anak buahnya.

“Mau kemana kau?” tanya lee joon dengan wajah dingin, menatap jonghyun.

“Anni, aku tak ingin pergi kemana-mana. Hanya memberinya baju ganti, itu saja” sangkal jonghyun gugup, mencoba berbohong pada bosnya itu. Key yang berdiri dibelakang tubuh jonghyun menatap seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Padahal tadi jonghyun memaksanya untuk pergi, tapi sekarang ia menyangkalnya? Tapi key tak mengelak, ia tetap terdiam, seolah ingin melindungi kebohongan jonghyun.

“Bagus. Aku kira kau akan mengkhianatiku” ucap lee joon masih tetap dingin.

“Bawa dia” ucap lee joon lagi, pada anak buahnya. Diikuti kedua namja kekar tadi bergerak menyeret paksa key keluar rumah jonghyun. Key berontak, ditatapnya jonghyun yang masih terdiam ditempatnya, seolah ingin meminta tolong tanpa mampu berucap sepatah katapun. Jonghyun masih terdiam, dipandangnya key yang menatapnya haru, memohon perlindungan. Tapi jonghyun sendiri tak ada pilihan lain, ia tak mampu berbuat lebih. Buntu. Itulah yang terjadi pada otak jonghyun, ia tak mampu berpikir lagi. Ia takut sekaligus sedih. Ia tau apa yang akan terjadi pada key selanjutnya, oleh karena itu, malam ketika key menanyakan apa yang akan terjadi pada dirinya ia tak mampu menjelaskannya. Ia tak ingin melihat key terluka dan tersakiti.

“Ini bayaran untukmu” ucap lee joon sambil menyerahkan sebuah cek pada jonghyun, dan berlalu keluar rumah diikuti jonghyun dibelakangnya.

Dapat jonghyun lihat, key dipaksa masuk kesebuah van hitam bersama anak buah lee joon, sesaat sebelum pintu tertutup, jonghyun melihat tangan key berusaha menggapainya. Sesaat kemudian van tersebut telah meninggalkan jonghyun dalam kesendirian. Jonghyun mematung. Kini perasaan sakit menjalar keseluruh tubuhnya, terutama hatinya. Merasa bersalah pada key. Tak terasa sebuah kristal bening turun dari mata hazelnya, menyapu permukaan kulitnya yang kecoklatan. Kini ia menyadari, walau terlambat, suatu hal yang selama ini ia simpan dalam hati, tak mampu menyampaikannya secara terus terang pada sang empu yang kini telah pergi meninggalkannya. Ia menyesal, tak pernah punya keberanian untuk mengatakannya, hingga sekarang ia benar-benar tak punya kesempatan. Air matanya jatuh semakin deras.

**********

Di dalam mobil van, key tak henti-hentinya berontak mencoba melepaskan sekapan dari kedua namja kekar itu. Lee Joon yang berada disampingnya merasa jengah dan menampar pipi tirus key hingga semburat merah tercipta karena kerasnya tamparan. Sepertinya tamparan itu cukup untuk membuat key terdiam, berganti dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya yang tajam.

“Tak seharusnya kau mengalami hal seperti ini, kalau saja kekasihmu itu mau bekerja sama” ucap lee joon dingin, menatap sinis key yang tertunduk tak berdaya.

“Dia bukan kekasihku” ucap key lirih, mencoba menyangkal pernyataan lee joon.

“Hahaha, apa kau berniat menipuku dengan ucapan mu itu huh!!” teriak lee joon tepat dihadapan key.

“Apa pun kata-kata mu saat ini tak akan berarti. Tak akan mengubah kenyataan bahwa adik ku tetap masuk penjara” ucap lee joon dengan sinis, ia menatap mata key dalam seolah melampiaskan rasa bencinya pada sosok Minho, yang disangkanya sebagai kekasih key.

>Flashback on<

“Berdasarkan segala bukti dan keterangan saksi, menyatakan saudara Lee Jinki bersalah atas tindak penyelundupan dan pengedaran obat-obatan terlarang dan menjatuhkan pidana penjara selama 15 tahun kurungan. DOK. .DOK. .DOK!!!” pada akhirnya hakim membacakan putusan dan di sahkan dengan ketok palu hakim.

Suasana menjadi riuh, terdengar sorak sorai dari beberapa orang yang pro dengan putusan hakim, tapi aura berbeda terpancar dari pendukung lee jinki yang terlihat shock dengan putusan tersebut, terlebih lee joon. Ia menatap punggung adiknya dari belakang, terlihat tertunduk pasrah. Semburat kekecewaan terpancar jelas ketika lee jinki berpapasan dengan lee joon sesaat sebelum di arak masuk ke mobil tahanan. Ketika mobil tahanan yang membawa adiknya berlalu, lee joon mengalihkan pandangannya pada sosok minho yang berdiri tak jauh darinya, tersenyum meremehkan, seolah mengejek dan menertawakan kekalahan keluarga lee di persidangan.

“Kau akan membayarnya, ingat itu!!” ucap lee joon sambil berlalu masuk dalam mobilnya, diikuti seluruh anak buahnya. Sesaat sebelum mobilnya berlalu ia menatap sinis kearah minho, sorot matanya menusuk, tersirat rasa dendam yang teramat sangat.

>Flashback off<

“Kau yang akan membayar kelakuan kekasihmu itu” ucap lee joon lagi, dengan seringaian khasnya.

Kemudian ia memerintahkan anak buahnya untuk memasangkan sesuatu ke badan kurus key, terlihat seperti rompi anti peluru yang sering digunakan para aparat kepolisian, tapi ada yang sedikit berbeda, ada sebuah perangkat yang terlihat seperti jam digital yang tersambung dengan berbagai macam kabel berwarna-warni. Key kembali berontak, entah mengapa perasaannya mengatakan kalau akan terjadi hal buruk. Dan benar saja, mendadak tubuhnya lemas, seolah tulang-tulang dalam tubuhnya melunak setelah mendengar sesuatu yang dikatakan lee joon.

“Berhentilah berontak cantik, hari ini akan menjadi hari terakhirmu di dunia” ucap lee joon dengan senang, tertawa terbahak-bahak seolah menikmati ketakutan dari ekspresi wajah key.

“Andwe. .apa yang akan kau lakukan?” kata key dengan gugup, sorot matanya penuh dengan kecemasan, menatap intens lee joon yang kini menunjukan seringaiannya.

“Bila ku tekan tombol merah ini, maka kau akan segera pergi ke surga cantik. Tubuh mu akan hancur tak bersisa. Kau tau kenapa? Karena di tubuh mu saat ini terpasang bom yang dapat meledak setiap saat ketika ku menginginkannya. .hahaha” jelas lee joon sambil menunjukkan sebuah benda seperti remote yang di tengahnya ada sebuah tombol berwarna merah, mungkin itu tombol yang dimaksud lee joon.

“Andwe. .jangan lakukan itu padaku, ku mohon. .” melas key, kini air matanya benar-benar telah mengalir menganak pinak, tak dapat menyembunyikan rasa takutnya.

“Kau akan pergi dengan tenang. Ku beri kau kesempatan terakhir untuk melihat kekasihmu yang brengsek itu. Kau bisa mati dengan tenang dihadapannya. Dan aku ingin melihat ekspresi wajah kekasihmu ketika melihat tubuhmu hancur dihadapannya. Hahaha” kembali jee joon tertawa layaknya psikopat, yang bahagia menyiksa korbannya.

“Turunkan dia di gang dekat kantor kejaksaan, aku yakin si brengsek itu pasti akan terkejut dengan hadiah yang kita kirimkan” ucap lee joon lagi, kini pada anak buahnya. Tak lupa ia menyalakan timer yang berada di rompi key sebelumnya.

Tiba-tiba tubuh key di dorong keluar dari van, ia terjatuh terguling ke badan jalan, dan seketika menjadi pusat perhatian puluhan orang yang sedang berada disekitarnya. Di tubuhnya kini melekat sebuah bom, dengan timer waktu yang mulai berjalan, menimbulkan bunyi pada tiap detiknya ketika waktu mulai berjalan. Mobil van itu pun melaju dengan segera meninggalkan key di tengah keramaian. Tatapan aneh mulai ditujukan pada key. Beberapa orang mulai berbisik seolah mengintimidasi. Key mencoba bangkit, ketika dirasa kakinya terasa sakit untuk berjalan, ternyata lututnya terluka dan berdarah. Celana jeans yang ia gunakan ternyata tak cukup mampu menahan gesekan dengan aspal. Dengan tertatih ia mencoba berdiri dan meminta bantuan orang-orang disekitarnya, tapi tak satupun yang tergerak untuk menolongnya. Bahkan beberapa orang yang menyadari bom ditubuh key pun mulai berteriak, mengingatkan beberapa orang lainnya agar berhati-hati. Alhasil, semua orang pun mulai panik dan berlarian menjauh dari key. Ketika key mendekat, mereka berlari kearah lain seolah tak peduli. Mereka takut bom itu meledak dan melukai diri mereka sendiri, hanya tatapan iba yang didapat key. Mereka berempati pada kondisi key, tanpa mampu berbuat lebih. Key pun semakin frustasi karena tak seorang pun diantara mereka yang mau menolongnya. Ia berjalan terseok kearah bok telepon umum, ketika sampai ia masuk dan seketika tubuhnya ambruk. Kini ia merasa harapannya untuk hidup telah sirna, tinggal menunggu waktu ketika bom itu meledak dan menghancurkan tubuhnya. Key menangis tersedu-sedu ditengah berpuluh-puluh mata yang menatapnya iba. Suara sirine mobil polisi pun menggema semakin mendekat, dan dalam hitungan detik telah tiba tak jauh dari tempat key berada, seolah membuat barikade agar masyarakat sipil tidak mendekat. Kini daerah sekitar key mendadak sepi, beberapa petugas kepolisian bergerak mengevakuasi masyarakat ke tempat yang lebih aman. Tinggal key terduduk di dalam bok telepon dengan wajah pucat. Ia tak dapat berpikir lagi, bahkan untuk merespon keadaan sekitarnya. Tiap detik yang berlalu seperti pisau yang memutus tiap urat dalam tubuhnya satu-persatu. Dadanya terasa sesak, hampir tak bisa bernafas. Persendiannya terasa ngilu. Jantungnya berdetak berkali-kali lipat, aliran darahnya terasa panas. Gendang telinganya berdengung tak jelas, pandangan matanya mulai mengabur karena air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Tubuhnya tak berhenti bergetar, ketakutan. Sudah tibakah waktu untuknya mati???

Sesosok namja tampan nampak turun dari sebuah mobil, di ikuti beberapa orang di belakangnya. Minho, ia datang setelah menerima laporan dari warga bahwa ada seorang namja yang ditubuhnya terpasang bom tak jauh dari kejaksaan. Dengan segera, ia menghubungi pihak terkait, seperti kepolisian dan pasukan penanggulangan bom, dan beberapa snipper untuk berjaga-jaga kalau saja ini merupakan aksi terorisme. Terlihat ia mengkoordinasi beberapa pasukan yang ia bawa. Beberapa snipper telah di tempatkan di beberapa tempat strategis, seperti di atas gedung agar lebih mudah akses pengintaiannya.

“Dimana namja itu?” tanya minho pada beberapa petugas kepolisian yang mendampinginya.

“Didalam box telepon itu” jawab salah seorang petugas kepolisian sambil menunjuk kearah box telepon yang letaknya agak jauh dari mereka berdiri.

Minho pun berjalan mendekat kearah petugas itu menunjuk, dimana ada sebuah box telepon yang didalamnya sepintas terlihat seorang namja terduduk dengan menangkup kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya yang tertekuk. Siluet itu terlihat tak asing lagi bagi minho. Ia semakin mendekat tapi masih dalam jarak aman, memicingkan mata untuk mempertegas penglihatannya. Seketika matanya membulat seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. . .

“God, i. .i. .itu key” ucap minho terbata, menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Tiba-tiba tubuhnya menegang.

**********

TBC