Halaman

Minggu, 20 Januari 2013

JONGKEY / YAOI / DONT SAY GOODBYE TO ME (PART 1)


Title        : Don’t Say Goodbye To Me

Author    : Aquamarine

Cash       : Jongkey

Genre     : Silahkan temukan sendiri ^^



Ini FF pertamaku, jadi maaf bila banyak typo. Pada awalnya ni FF terinspirasi dari MV nya Davichi, lalu alur berkembang sesuai kehendak Author :D. Ditunggu kritik dan saran yang bersifat membangun. Cerita ini hanya fiktif belaka. Semua pencitraan tokoh berdasar kehendak penulis, tak ada sangkutpautnya dalam kenyataan. Hehehe. Selamat membaca.

 ---------------------------------------------------------------------------------


Jonghyun POV



Huftt. .kuregangkan otot-otot kaku di tubuh ku setelah seharian bekerja di kantor pengacara “SHinee”. Hari ini ada banyak kasus yang harus segera dipelajari berkas-berkasnya. Ku tarik kursi duduk ku kebelakang menjauh dari meja kerja agar menyisakan sedikit ruang untuk bernafas lebih luas. Ku putar kursi ku 180 derajat hingga kini menghadap kejendela menyuguhkan pemandangan kota Seoul dimalam hari, dengan menyisakan lampu beraneka warna yang berkedip-kedip bila di lihat dari kejauhan seperti saat ini. Mata ku menerawang jauh ke hamparan langit hitam berhiaskan titik-titik bintang. “indah. .” gumam ku yang nyaris seperti berbisik sembari mulai memejamkan mata.



Author POV 


Waktu menunjukan pukul 01.13 dini hari, dan sesosok namja masih asik dalam dunia mimpinya, tertidur dengan posisi duduk mengadap kaca transparan yang sangat lebar, membatasi dengan kondisi di luar sana, dimana Seoul telah masuk musim dingin. “Enghh”. .dia mulai menggeliat, matanya mulai mengerjap menyesuaikan dengan kondisi ruang yang terang. Setelah semua nyawanya terkumpul dia pun mendesah pelan “huftt, aku ketiduran”.



Jonghyun POV



“Huftt, aku ketiduran”, itulah kata pertama saat mendapati diriku masih di kantor dengan segala berkas yang acak di meja kerjaku. Ku lirik jam dipergelangan tangan, menunjukan pukul 01.13, “aku harus pulang” gumam ku. Aku pun sedikit tergesa membereskan tumpukan kertas ‘sial’ itu, merapikan dan mengatur agar mudah kucari saat lusa masuk kerja lagi. Yahh, tepat sekali besuk aku libur, sedikit senyum tersungging di bibir ku. “aku bisa istirahat sepuasnya” batin ku. Setelah semua berkas ku simpan dan dimasukan ke laci meja, beberapa lembar lainnya ku masukan ke dalam tas kerjaku, karena tetap saja walaupun libur aku harus mempelajari kasus yang ku tangani. “selesai. .” ucap ku senang seraya menjinjing tas kerja dan beringsut meninggalkan ruangan ku. Kupencet angka 1 pada tombol lift, ku langkahkan kaki masuk kedalam hingga pintu lift tertutup rapat. Sampai di lantai 1, ku masuk kedalam area parkir dimana Black Audi R8 V10 ku menanti. Senyumku selalu terkembang setiap melihat sahabat hitam ku ini, karena ini adalah hasil jerih payahku selama hampir 5 tahun bekerja sebagai pengacara. Banyak hal yang ku korbankan selama itu, waktu, tenaga, pikiran dan “. . .” senyumku sedikit memudar, “anni. .” kugeleng-gelengkan kepala ku ke kiri dan kekanan seolah mengusir pikiran buruk yang baru saja terlintas. Segera ku masuk dan ku tancap gas keluar area perkantoran. Kini si hitam sedang menerjang jalanan kota seoul yang lengang.



Sampailah di sebuah jalanan yang sepi, tiba-tiba mata ku terusik dengan keberadaan sebuah plastik hitam besar yang tergeletak di pinggir jalan di dekat tempat pembuangan sampah, sepintas ku melihatnya seperti bergerak-gerak. Kuhentikan laju mobilku, kuparkiran beberapa meter di dekatnya. Lalu ku turun untuk mengecek sekaligus menjawab rasa penasaran di hati. Dengan perlahan ku dekati bungkusan itu, ku amati dengan seksama dari pangkal ikatan hingga kebawah. Sedikit takut memang. Ku tendang pelan, dan ‘isi’ plastik itu bereaksi yang membuat ku memundurkan langkah beberapa meter untuk antisipasi. Mata ku tak lelah menyelidik, ternyata rasa penasaranku lebih besar dari rasa takut yang ku punya. Hingga ku beranikan diri untuk mendekat lagi dan mencoba untuk membuka ikatan dari plastik tersebut. Kedua kaki ku membuat ancang-ancang untuk berlari sewaktu-waktu bila terjadi hal-hal yang tak di inginkan. Perlahan ikatan plastik mulai terurai, kupertajam indra pengelihatan ku dan. . .



“Huaahhh. .” teriak ku sembari mundur beberapa langkah karena kaget, hingga keseimbangan ku roboh, tubuh ku terjungkal kebelakang, dengan pantat terduduk di terotoar. Mata ku membulat. Masih mencoba mencerna hal apa yang baru saja kulihat, mengatur nafas ku yang tersengal tak beraturan “hosh. .hosh. .hosh”. Mengerjapkan mataku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat, lalu dengan sedikit gemetar ku dekati bungkusan itu lagi. Kutelan ludah ku dengan susah payah, lalu membuka bungkusan itu agar lebih lebar, menampakan ‘isi’ di dalamnya. Yahh. .di dalam bungkusan itu ada seorang namja dengan tubuh kurus dan kotor dengan kondisi lemah tak berdaya, sepertinya tak sadarkan diri. Ku tolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, melihat situasi di sekitar. Sepi. Lalu ku jambak rambut ku frustasi, apa yang harus ku lakukan?? tanyaku dalam hati, masih dengan menggigit kecil bibir bawah ku. Tak lucu kan kalau aku sampai ketahuan orang menemukan “bungkusan” di jalan? “lalu apa kata masyarakat, jika aku seorang pengacara muda terkenal di tuduh melakukan tindakan pidana?”

“Heyy. .ini tak seperti yang kalian bayangkan!” jerit ku dalam hati.

Kulihat sosok itu lagi, menatapnya lama. .”tapi aku tak bisa membawanya ke Rumah Sakit ato Kantor Polisi sekarang, pasti urusannya akan menjadi panjang, aku tak mau. .karir ku bisa hancur” gumam ku seraya menggelengkan kepala.

“Arrgghhh. .” teriak ku tertahan, karena takut membuat keributan.

“Tak ada jalan lain. .” gumamku.




**********




Author POV



Sang Raja Pagi pun mulai beriring naik kesinggasana, berbagi sedikit kehangatan di musim dingin ini. Pendar cahaya jingga melesat keseluruh permukaan bumi. Disebuah rumah dengan gaya modern minimalis, sesosok namja masih terlelap dengan balutan selimut yang hangat dan lembut. Terbungkus lucu seperti seorang bayi. Di sekitarnya seorang namja lain sedang berkutat dengan sebuah berkas dengan laptop dihadapannya dan terduduk di kursi kerjanya dengan segelas kopi panas yang masih menyisakan uap yang mengepul. Sorot matanya menampakan keseriusan terhadap apa yang di bacanya. Terkadang kepalanya manggut-manggut tanda mengerti atas apa yang menjadi perhatiannya saat ini.

“Eungh. .” terdengar lenguhan dari bibir mungil seorang namja yang sedang tertidur sambil sedikit menggeliat kecil, namja lain yang sedang fokus pada pekerjaannya menoleh melihat kearah tempat tidurnya yang berukuran king size tersebut. Ia pun mulai berjalan mendekati namja cantik itu, sembari memperhatikan tingkahnya ketika bangun tidur. Namja yang menjadi pusat perhatian itu pun perlahan membuka mata, menampakan sepasang biji mata yang indah dan bening. Mengerjap lucu, dengan bibir sedikit mengerucut.

“Yeppeo” gumam jonghyun dalam hati.

Kemudian sesosok namja cantik itu pun menoleh kearah jonghyun berada, sedikit terkejut.

“Tampan” itulah kata pertama yang keluar dari bibir manisnya, namun tak cukup terdengar oleh jonghyun.

“Anyeonghaseyo” ucap jonghyun ketika mata mereka beradu untuk pertama kalinya.

Namja cantik itu tak menjawab, masih betah menatap wajah jonghyun, yang semakin terlihat kebingungan.



Jonghyun POV



“Yeppeo” gumam ku dalam hati, ketika melihat sesosok namja yang kutemukan kemarin malam dalam keadaan tak sadarkan diri, kini telah bangun dan membuka matanya yang indah, entah mengapa ku sangat mengagumi makhluk Tuhan ini, matanya tajam seperti mata kucing. Dia menatap ku lekat tak berkedip membuatku sedikit bingung, bahkan ketika ku menyapanya.




**********




Author POV



Kini mereka berdua sedang duduk berhadapan di sebuah sofa empuk, dengan seporsi makanan yang lezat tentunya. Namja cantik itu pun makan dengan lahapnya. Jonghyun yang melihatnya hanya tersenyum memperhatikan. Kemudian ia bangkit dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Ia kembali duduk dihadapan namja cantik itu, yang masih sibuk dengan makanannya. Merasa di perhatikan terus menerus oleh namja yang menurutnya tampan, ia sedikit salah tingkah dan menjadi tersedak. Dengan segera jonghyun mengulurkan gelas yang berisi air minum. Namja cantik itu pun menerima dan meminumnya hingga habis. Diletakkannya gelas itu di meja sembari menatap ragu jonghyun. Jonghyun pun tersenyum lembut.

“Ireumi mwoyeyo (Siapa nama mu)?” tanya jonghyun.

“Key” jawab namja cantik itu sedikit menunduk.

“Nama yang cantik, seperti dirimu” ucap jonghyun terus terang membuat namja yang bernama key itu sedikit merona wajahnya.

“Kamu tinggal dimana?” tanya jonghyun lagi, yang hanya di jawab dengan gelengan kepala key yang mengisyaratkan bahwa ia tidak punya tempat tinggal saat ini.

Sementara jonghyun hanya diam terlihat seperti berpikir,

“Bagaimana kalau kamu tinggal disini? Aku sendirian, kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Kalau kamu mau kita bisa menjadi teman” kata jonghyun mantap.

“Eoh. .ne, gomawo” kata key sembari tersenyum.

Jonghyun terperanjat saat melihat senyum key untuk pertama kalinya, ia merasa jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya dari wajah key, dan berdiri untuk menutupi rasa gugupnya. Kemudian ia berjalan ke almari pakaiannya, dan mengambil kemeja putih yang terletak di bagian bawah, kemeja itu lama tak pernah di pakai karena sedikit kekecilan. Jonghyun pikir itu sedikit pas dengan badan key yang kecil. Kemudian ia menghampiri key, dan memberikannya.

“Ambil, dan mandilah agar kau lebih segar” ucap jonghyun menyerahkan kemeja putihnya, sembari menunjukan letak kamar mandinya.

“Owh, ne. .gomawo” kata key sembari bangkit dari duduknya dan sedikit membungkukkan badannya untuk menunjukan rasa hormat dan terima kasihnya pada namja tampan tersebut.

Jonghyun hanya tersenyum. Kemudian key berjalan menuju arah kamar mandi. Sesaat sebelum masuk kamar mandi, key berbalik dan bertanya “boleh aku tahu, siapa nama mu?”



Jonghyun POV



“Boleh aku tahu, siapa nama mu?”

Dia bertanya padaku sesaat sebelum masuk kamar mandi,

“Jonghyun” jawabku singkat.

Setelah mendengarnya, ia kembali tersenyum dan segera masuk kamar mandi, meninggalkan aku yang sedikit grogi melihat senyumannya (lagi).




**********




Author POV



Saat ini jonghyun kembali ke meja kerjanya, berpacaran dengan berkas-berkas yang untuk sejenak tadi di lupakannya. Kini perhatiannya terfokus pada lembaran kertas di hadapannya dan sesekali mengetik sesuatu di laptopnya. Bahkan tak menyadari ketika pintu kamar mandi terbuka, dan menampakkan sesosok namja yang telah berbeda kondisinya dari semula. Ia tampak lebih bersih, segar dan cantik. Key berjalan ke sofa tempatnya duduk tadi, yang letaknya berhadapan dengan meja kerja jonghyun. Yang artinya Key harus melewati jonghyun untuk sampai ke sofa. Key yang malu berjalan dengan menunduk, ia merasa malu dan sedikit tidak nyaman dengan bajunya saat ini. Bagaimana tidak, ia hanya menggunakan kemeja putih yang jonghyun berikan tanpa ada pakaian lain yang melekat di tubuhnya (tenang masih pakai CD kok #plak). Ragu, ia mulai berjalan hingga ia tersandung pot tanaman yang berada di samping kursi sofa. Mendengar kegaduhan, reflek jonghyun mendongakkan kepala.

“Mianhae” ucap key gugup masih dengan kepala tertunduk, menyadari bahwa jonghyun kini menatapnya.

“. . . . . . . .”

Tak ada balasan dari jonghyun, hati key mulai sedikit panik, ia takut jonghyun akan menganggapnya aneh. Ia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya melihat ke tempat jonghyun berada. Ketika pandangan mereka bertemu tiba-tiba jonghyun menunduk dan kembali fokus pada pekerjaannya.



Jonghyun POV



“Duk”

Terdengar suara seperti tersandung sesuatu. Karena kaget aku pun mendongakkan kepala menoleh kearah sumber suara berasal.

“Mianhae” itu kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dan aku tegaskan disini, bahwa aku masih bisa mendengarnya mengucapkan itu. Tapi entah mengapa mulutku tak sinkron dengan kinerja otak ku. Otak ku memproses lain, menikmati pemandangan luar biasa di hadapan ku saat ini, dimana sesosok namja dengan kulit putih, pipi tirus, dan bibir merah muda merekah sedang tertunduk. Tak kusia-siakan kesempatan saat ini, ku pandangi tiap bagian tubuhnya dari bawah hingga atas. Kakinya yang jenjang terekspos jelas, karena aku memang hanya memberikan dia kemeja tanpa celana, aku benar-benar lupa (modus #plak). Sungguh-sungguh lukisan yang tergambar sempurna, dengan detail-detail indah pada tiap bagiannya. Tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan menatapku dengan bingung, aku pun tersadar dari lamunan ku.

“Gwenchana” ucapku kembali menunduk dan pura-pura fokus pada pekerjaan ku lagi. Entah bagaimana kondisi wajahku saat ini, bisa di pastikan merah seperti udang rebus. Aku malu. . .



Author POV



Setelah “acara” tadi, key menghabiskan waktu dengan melihat televisi. Sedangkan jonghyun menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali ia mencuri pandang ketempat key berada. Namun ia hanya mendapati punggungnya yang sedang menonton televisi dengan serius, bagaimana tidak bahkan key tidak menunjukkan pergerakan yang berarti, sesekali ia hanya berpidah posisi duduknya, mungkin pantatnya yang terasa panas karena sedari tadi hanya duduk tak ada kerjaan. Jonghyun pun melirik jam digital yang berada di meja kerjanya, tak terasa waktu menunjukan pukul 2 siang, ia hendak beranjak mendekati sofa tempat key berada, namun jonghyun tak melihat keberadaannya. Ia pun mengerutkan kening, pertanda bingung. Ia melangkah mendekat, dan didapatinya key sedang tertidur dengan merebahkan tubuhnya di sofa. Diamatinya key yang sedang tertidur, sesekali jonghyun tersenyum entah apa yang dipikirkannya. Ia mendekat dan dibopongnya tubuh kurus key ke tempat tidur, di baringkannya dengan sangat hati-hati takut kalau membangunkannya. Ditariknya selimut hingga menutupi sebagian tubuh key. Kemudian ia beranjak ke almari dan mengambil jaket kulit warna coklat kepunyaannya. Setelah memakainya dengan sempurna, ia pun mengambil kunci mobil di meja kerjanya dan melangkah keluar dari rumahnya, meninggalkan key sendiri.




**********



Jonghyun melajukan mobilnya kesebuah butik ternama langganannya, “AMIGO”. Sepanjang jalan jonghyun bernyanyi kecil, sepertinya hari ini moodnya sangat baik. Terkadang ia tersenyum namun tetap serius dengan kemudinya. Setelah beberapa saat ia pun sampai ketempat tujuan. Ia pun keluar dan memasuki butik mahal itu. Ia disambut oleh seorang pelayan wanita yang setelah melihat kehadirannya ia membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.

“Annyonghaseyo” ucap pelayan itu sembali tersenyum manis.

“Annyong” balasku dengan menunjukan senyum malaikat, yang konon kata teman-temanku dapat melelehkan hati setiap yeoja,

“Tuan mau membeli baju lagi?” tanya pelayan itu.

“Ah, anio. .bukan untukku, tapi temanku” jelasku.



Yah baru beberapa hari lalu, ku belanja beberapa stel baju kerja dan baju santai, sudah pasti pelayan itu heran kenapa aku kembali lagi. Mungkin pikirnya aku adalah orang yang hobi membuang uang. Siapa yang tidak tahu butik AMIGO yang terkenal seantero Seoul, tempat orang-orang berkelas membeli fashion dengan label “limited edition”, bahkan tak jarang beberapa aktris dan aktor juga menyempatkan untuk main ke sini. Jangan ditanya, sudah pasti harga tiap produknya juga ‘wow’. Sebagai seorang pengacara muda yang sedang naik daun, sudah pasti aku harus menunjukan ‘harga’ ku di mata masyarakat kan? Tidak hanya itu, tapi harus ku akui bahwa selera fashion butik ini sangat bagus. Dan bahan yang di pakai juga sangat nyaman. Jadi tak sia-sia mengeluarkan budget mahal untuk sebuah ‘pencitraan’. Baiklah ini bukan saatnya untuk menyombongkan diri.



Setelah memilih beberapa stel pakaian dan celana yang ukurannya cukup aku kira-kira dengan membayangkan tubuh key saja, aku memberikan credit card pada pelayan wanita tersebut. Sesaat kemudian pelayan wanita itu kembali untuk menyerahkan credit card ku dan hendak membawa kantong belanjaanku ke mobil.

“Tunggu, biar ku bawa sendiri” ucapku.

“Owh, benarkah? Silahkan tuan” ucapnya sambil menyerahkan kantong belanjaanku.

“Ne. .gomawo” ucapku sambil tersenyum dan beranjak keluar dari butik.

Kutaruh tas itu di jok samping kemudi. Lalu ku tancap gas menuju supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan berupa sayur-sayuran, daging, telur, ikan, jamur, dll. Sebagai seorang yang tinggal sendiri, ku di tuntut untuk dapat memasak sendiri, walau ku akui lebih sering pesan dari restaurant, karena bentuk masakan ku yang aneh dan rasanya yang sangat menakjubkan. (*Hahaha TT.TT) Tapi kali ini ku bersungguh-sungguh ingin memasakkan key sesuatu yang spesial, yang akan membuatnya menangis terharu.



2 jam kemudian. . .

Akirnya jonghyun sampai di rumahnya. Ia segera masuk, setelah memasukan mobilnya ke garasi, tak lupa mengunci pagar rumahnya terlebih dahulu. Ia melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 17.30, sambil memutar knop pintu. Gelap dan hening. Apa mungkin key masih tidur pikir jonghyun. Dirabanya dinding rumah untuk mencari tombol saklar dan menghidupkan lampu. Kemudian ia menaruh barang belanjaannya di dapur dan beranjak menuju kamarnya.

“Key? Apa kau sudah bangun?” tanya jonghyun menyelidik sambil matanya menjelajah ke semua sisi ruangan. Dilihatnya kasur tempat key tadi tertidur, sudah kosong. Apa mungkin key melarikan diri? Tanya jonghyun dalam hati. Kemudian jonghyun hendak berbalik untuk mencari key di ruang lain. Saat memutar tubuhnya, tiba-tiba. . .

“Aaaaaaaaaaaaaa” teriak jonghyun.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriak seseorang yang tak kalah kerasnya, tak lain adalah key.

“Key? Kenapa kau teriak sekeras itu? tanya jonghyun sambil menutup telinganya.

“Lalu kau sendiri kenapa berteriak jjong? Aku kan kaget dan reflek ikut berteriak” ucap key membela dirinya.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa tak menghidupkan lampunya? Ini kan menjelang malam? tanya jonghyun bertubi-tubi.

“Benarkah? Aku kira ini sudah pagi” jawab key dengan polosnya, sambil menggaruk kepalanya.

“Aishhh, kau ini benar-benar pabo, tak bisa kah kau membedakan antara pagi dan malam?” ledek jonghyun.

“Yak, kau. .aku benar-benar tak tahu, kenapa kau memarahiku” sanggah key sambil mengerucutkan bibirnya.

Sejenak jonghyun terdiam melihat kalakuan key yang menurutnya. .arghhh, lupakan. Dengan namja ini, ia sering merasa salah tingkah dan tak bisa membantah. Ting, seolah mengingat sesuatu yang penting,  hal yang menurutnya agak janggal.

“Tunggu, tadi kau memanggilku apa? Jjong? Apa aku tak salah dengar? Tanya jonghyun memastikan.

“Ne. .mulai sekarang aku akan memanggil mu jjong” ucap key mantap, mengedipkan matanya lucu.

“Wae?” tanya jonghyun sambil senyam-senyum geje.

“Biar lebih praktis, aku rasa nama ‘jonghyun’ memakan waktu yang lama untuk memanggilnya” ucap key tanpa rasa berdosa.

“MWO?? O.O” kata jonghyun sembari membulatkan mata tak percaya, pupus sudah harapannya, ia pikir itu panggilan sayang key terhadapnya.

Seenaknya saja dia mengubah nama seseorang yang baru di kenalnya, sopankah itu?? rutuk jonghyun dalam hati. Tapi ia tak berniat melanjutkan perdebatannya dengan key saat ini.

“Hufftt. .sudahlah aku menyerah berdebat dengan mu, itu aku belikan beberapa baju dan celana untuk mu, ku taruh di ruang tamu” kata jonghyun lemas.

“Benarkah?” kata key sumringah sambil berlari kearah ruang tamu.

“Yeah, ini benar-benar bagus jjong, ternyata kau memiliki selera fashion yang cukup bagus? ucap key dari ruang tamu.

Sementara itu kondisi jonghyun. . .

Ia hanya melongo, dengan background celotehan dan suara tawa key. Mematung sejenak, sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar melorot kelantai, bersimpuh.

“Ya Tuhan, sepertinya penilaian ku padanya salah besar, ku pikir dia pemalu dan sangat manis, ternyata. .mengerikan, dia bisa mendebat perkataanku. .Hhhuaaaaa” tangis jonghyun dalam hati.

Seperti adegan drama, ia bersujud dan memukul-mukulkan tangan kanannya pada lantai, seolah terdzolimi oleh keadaan.

“Aku. .sepertinya kehidupanku esok akan lebih ‘berwarna’ dengan kehadiran orang itu” ucap jonghyun lirih TT.TT




**********




Key masih sibuk dengan baju yang di belikan jonghyun padanya, sembari terkadang mematutkan diri di kaca, dan tersenyum manis.

Jonghyun sendiri setelah bangkit dari keterpurukannya, ia menuju dapur untuk memasak makanan. Ia masih berharap key kembali normal dan terharu pada perlakuannya. Ia membuat masakan berdasarkan feeling yang ia punyai, termasuk takaran bumbunya. Setelah 1 jam berlalu, ia menghidangkan masakannya itu di meja makan. Dan memanggil key untuk makan malam bersama.

“Key, kemari. .kita makan malam bersama” kata jonghyun

“Ne, jjong” jawab key, meletakkan baju-bajunya dan beranjak ke meja makan dimana jonghyun telah duduk menunggunya.

Key menarik kursi di hadapan jonghyun, lalu duduk, dan menatap hidangan di depannya. Ia mengerutkan kening. Hal itu di sadari jonghyun, yang mendapati gelagat aneh dari key.

“Wae?” tanya jonghyun.

“Em. .mmm. .” gumam key tak jelas.

“Ada apa?” tanya jonghyun lagi, mulai panik. .”akan kah dia. .” belum selesai jonghyun berkata dalam hati key sudah mendahuluinya berkata sesuatu yang membuatnya shock.

“Apa ini makanan? Bentuknya aneh sekali” kata key polos sambil mengedip-ngedipkan matanya lucu.

“. . . . . . . . . .” tak ada balasan dari jonghyun, ia hanya menunduk tak menampakan raut mukanya.

“Eh, biar kucoba. .siapa tahu rasanya lezat, bukankah kita tidak boleh menilai sesuatu dari luarnya, hehehe” kata key grogi mendapati keanehan pada jonghyun.

Beberapa saat kemudian. . .

“Hiks. .hiks. .hiks”

Terdengar suara seseorang menangis. Jonghyun pun tersadar dan mendongakkan kepalanya. Ia dapati key menangis sambil memakan masakannya. Jonghyun berpikir kalau key terharu.

“Sesuai dengan rencana” batin jonghyun tersenyum dan lebih tepatnya seperti smirk. Ia akan segera melancarkan aksinya, membuat key jauh lebih terharu, untuk menarik perhatiannya.

“Sudahlah key, aku tak apa-apa, ini ku buat dengan sepenuh hatiku, tak apa kau tadi sempat menghinanya, aku rasa ini sungguh lezat hingga kau menangis” kata jonghyun percaya diri sembari menatap wajah key yang memerah karena menangis, yeppeo.

“Jjong. .” ucap key terbata.

“Ne” balas jonghyun singkat masih dengan tersenyum.

“Aku minta maaf, tapi bisakah kau. .” kata key terputus.

“Ne, tentu bisa key, aku akan memasakan mu setiap hari” ucap jonghyun makin sumringah.

“Ah anio, bukan begitu jjong. .aku rasa cukup kali ini saja kau memasak untuk ku, aku bahkan tak mampu menjelaskan rasanya, sungguh. .ini benar-benar TIDAK ENAK!?” kata key menutup mulutnya, seperti menahan sesuatu yang akan keluar. Beberapa detik kemudian, ia berlari ke kamar mandi, dan terdengarlah. . .yah tepat sekali, key muntah! (hahahaa)

Sementara itu jonghyun bagai tertiban batu masa megalitikum, yang sangat besar, bugh!! Kepalanya berputar-putar, sedikit mencerna perkataan key barusan. Mulai saat ini sepertinya dia harus menyadari sesuatu, bahwa ‘sekeras apa pun ia berusaha memasak, rasanya tak akan pernah terduga’.




**********




Beberapa saat setelah kegiatan key di kamar mandi, ia kembali ke meja makan, tapi tak di dapatinya jonghyun beserta segala masakannya. Sepertinya telah di bereskan jonghyun pikir key. Ia pun mencari dan mendapatinya tertidur di kasur dengan posisi memunggunginya.

“Jjong?” panggil key untuk memastikan apakah ia sudah tertidur.

“Aku harus tidur sekarang, besuk aku masuk kerja” ucap jonghyun masih dalam posisi yang sama.

“Kau bisa tidur di samping ku, kalau kau mau” ucap jonghyun lagi.

“Baiklah, selamat malam jjong” kata key lirih merasa bersalah karena tragedi di meja makan tadi.

Key pun berjalan mencari saklar lampu dan mematikannya. Menyisakan lampu kecil di sudut ruangan dengan penerangan yang memancar redup. Ia beringsut merebahkan diri di samping jonghyun, menidurkan badannya untuk kembali ia bawa kealam mimpi. Tapi matanya masih setia menatap langit-langit kamar. Seperti berpikir. Mungkinkah menghitung domba? Sejenak sebelum ia benar-benar menutup matanya, ia menatap punggung jonghyun dan tersenyum. “gomawo” katanya lirih, nyaris seperti berbisik.




**********




Jam dinding menunjukan pukul 06.00 pagi, sesosok namja cantik sedang berkutat dengan kegiatannya, yaitu memasak. Sebagian masakannnya yang sudah selesai ia tata rapi di meja makan dan sebagian yang belum dengan teratur ia selesaikan. Kemudian ia menepuk jidatnya, pertanda ia mengingat sesuatu. Ia pun beranjak ke kamar dimana jonghyun masih pulas tertidur. Ditepuk-tepuknya pantat jonghyun, agar ia segera membuka mata.

“Jjong bangun, sudah pagi” kata key masih menepuk-nepuk pantatnya.

“Eunghh” gumam jonghyun sambil menggeliat lalu mengerjapkan matanya lucu.

“Key? Ada apa?” kata jonghyun lagi.

“Bukankah hari ini kau masuk kerja? Bangunlah dan segera mandi, aku menunggu mu di meja makan” perintah key, berjalan meninggalkan jonghyun dan kembali ke dapur.

“Katanya kemarin tak mau makan masakanku lagi” cibir jonghyun sembari bangkit. Ia berpikir kalau key memintanya untuk memasak makanan untuknya.

30 menit kemudian, jonghyun keluar dengan setelan jas rapi, menuju meja makan. Matanya terbelalak melihat berbagai hidangan di meja saat ini. Sungguh menggoda, tampilannya sangat menarik dan baunya menggugah selera. Yummy.

“Jjong, kau sudah selesai” ucap key, keluar dari dapur menuju meja makan, sambil meletakkan 2 cup chocolate hangat.

Wajah jonghyun terlihat bingung.

“Apa kau yang membuat ini semua?” tanya jonghyun tak percaya.

“Wae? Bukankah lebih bagus dari punya mu kemarin malam” ucap key to the point.

“Ck, kau ini sungguh menyebalkan!?” kata jonghyun sembari duduk di kursinya, berhadapan dengan key.

“Jjong, apa kau masih marah? Mian. .aku tak bermaksud menyakiti hati mu hanya. . .” ucap key tertahan, menundukkan kepala.

Jonghyun kaget dengan perkataan key barusan,

“Lupakan. .aku hanya malu, kemarin aku bermaksud membuatkan mu masakan dengan sepenuh hati agar kau terharu, tapi di luar dugaan ternyata masakanku sangat mengenaskan” kata jonghyun.

“dan untuk pertama kalinya ada orang yang mengkritikku secara langsung dan tajam, itu membuatku terluka. Bukan karena faktanya ‘aku tidak bisa memasak’ tetapi itu terucap dari mulut mu, entahlah tapi aku merasa sedih. .tak bisakah kau berbohong sedikit untuk menyenangkan hatiku? jelas jonghyun panjang lebar.

Key mendongakkan kepalanya, terperanjat dengan pengakuan jonghyun barusan. Mencoba mencernanya lebih dalam. Menatap lekat mata hazel jonghyun, mencari kejujuran dari manik matanya yang bening.

“Sepertinya aku menyukaimu, akh bukan lebih tepatnya aku mencintaimu. .key” jonghyun menelan ludahnya dengan susah payah, mulai menundukkan kepalanya karena sangat malu.

Krik. .krik. .krik. . *hening

1 menit

2 mneit

3 menit

4 menit

5 menit

Tak ada tanggapan dari key, jonghyun pun mulai gelisah. Ia memberanikan diri untuk melihat wajah key. Datar. Wajah key terlihat datar, sangat datar. Tak ada sebuah senyuman. Bahkan keningnya pun tak mengkerut seperti biasanya kalau dia bingung. Tapi matanya masih menatap lurus jonghyun. Jonghyun pun menjadi salah tingkah. Apa aku terlalu cepat mengatakannya? Atau dia sudah punya namjachingu? tanya jonghyun dalam hati.

“Mian, jeongmal mianhae key! Aku tak bermaksud seperti itu. Mungkin ini terlalu cepat bagimu. dasar pabo” rutukku panjang lebar dan memukul-mukul kepalaku.

“Apa barusan kau menyatakan cinta, jjong? Sejak kapan? tanya key datar.

Jonghyun menunduk, meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, “Aku juga tak tahu, sejak pertama mungkin. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku merasa nyaman bersamamu dan entahlah. .aku juga binggung”.

“Bisa kau ucapkan lagi perasaanmu jjong? tantang key.

“Mwo?’ tanya jonghyun bingung. “Ah, ne. .baiklah” ucap jonghyun lagi.

“Saranghae key” lirih jonghyun.

“Nado. .nado saranghae jjong” ucap key sembari tersenyum tulus.

“MWO??? O.O” teriak jonghyun dengan mata membulat dan mulut membentuk huruf ‘O’ penuh.

Tik. .tok. .tik. .tok. .*sekarang suara jam dinding merajai suasana makan pagi hari ini.

Key menjentikkan tangannya di depan wajah jonghyun, lalu mengibas-ngibaskan perlahan.

“Segera kembalilah ke alam sadar mu jjong, aku menunggu untuk segera makan pagi, aku lapar” ledek key mendapati jonghyun masih terbengong-bengong.

Tiba-tiba. . .

“Aaaaaaaaaa” teriak jonghyun.

“Aaaaaaaaaaaaa” key pun ikutan teriak, wajahnya terlihat panik.

“Wae jjong, kenapa kau berteriak?” tanya key bingung.

Lalu kenapa kau juga ikut berteriak key? tanya jonghyun.

“Aku kaget mendengar suaramu itu, dasar pabo” rutuk key.

“Aku senang key, sangat senang kau menerima cintaku” ucap jonghyun cengar-cengir.

“Saranghae keeeeyyyyyyyyyyyyy” teriak jonghyun sambil meloncat-loncat seperti anak anjing yang mendapat tulang dari tuannya.

Sementara key hanya memperhatikan kelakuan konyol jonghyun, pantaskah ia di sebut pengacara??

“Jjong?’ panggil key.

“Ah, ne key” jawab jonghyun masih dengan tangan terangkat ke udara dan senyum 3 jari menatap key.

“Bisa kita mulai makan pagi kita? Kau bisa terlambat berangkat kerja” ucap key jengkel.

Jonghyun pun melirik jam dindingnya, menunjukkan pukul 06.45. Jonghyun baru menyadari ia hanya punya waktu 15 menit untuk menyantap makanannya. Karena ia harus berangkat kerja tepat pukul 7 pagi, dan perjalanan menuju kantor memakan waktu 1 jam. Yak jam kerjanya di kantor di mulai pukul 8 pagi hingga jam 5 sore, tapi bila lembur bisa sampai jam 8 bahkan jam 11 malam.

“Siksa haseyo (Selamat makan)” teriak jonghyun riang, lalu mulai mengambil masakan yang tersaji. Terlihat ia sangat menikmatinya.

“Hemm, ini sangat enak key, sungguh. .” kata jonghyun dengan mulut penuh makanan.

“Makanlah dengan baik, jangan seperti anak kecil, banyak bicara kau bisa tersedak!” omel key.

“Baiklah baby” ucap jonghyun, sambil mengerling nakal pada key. Hal ini jelas membuat key merona karena malu dan juga sangat senang.




**********




“Aku berangkat dulu baby, kau baik-baik di rumah dan ini. . .” ucap jonghyun sambil menyerahkan credit card miliknya pada key.

“Apa ini jjong?” kenapa kau berikan padaku?” tanya key binggung.

“Ambillah, kau bisa menggunakannya untuk kebutuhan mu. .kau juga boleh pergi jalan-jalan ke mall, asal jangan pulang terlalu malam, arayo!?” kata jonghyun.

“Ne jjong” jawab key sambil tersenyum.

“Bye-bye baby” ucap jonghyun setelah masuk kedalam mobil, melambaikan tangannya. Dengan segera Black Audinya melesat menuju jalanan kota seoul yang ramai.




**********




Di lain tempat. . .

Disebuah gudang kumuh tak berpenghuni, di dalamnya bertumpuk mebel-mebel usang yang berlumut dan berdebu, di salah satu sudut ruangan, nampak 5 orang namja bertubuh kekar, dengan penampilan necis, 2 diantaranya lebih mirip bos besar, 3 lainnya menggunakan kaos hitam ketat menampakkan otot-otot ditubuhnya, mirip seorang algojo.

“Apa ada perkembangan?” tanya sesosok namja jangkung dengan setelas jas hitam mirip mafia-mafia, dengan cerutu menghiasi salah satu sudut bibirnya.

“Belum ada tuan, tapi kami akan segera mendapatkannya” jawab salah satu namja dengan mantel bulu berwarna coklat gelap.

“Baiklah, aku cukup bersabar kali ini, segera bawa pulang padaku atau. . .” ucapnya menggantung.

“Atau. .kau akan membayarnya dengan. .NYAWA mu” katanya lagi, menunjukkan smirk yang menyeramkan.

“Aku pergi dulu, bekerjalah dengan baik sayang” kata namja jangkung itu, berlalu sembari membelai pipi namja bermantel dengan sangat lembut, membuat si empunya bergidik ngeri, paham akan maksud sentuhannya itu.

“Aku harus segera membawanya pulang, apa pun yang terjadi!!” geram namja bermantel tersebut, dengan tangan terkepal dan gigi bergemeretak, tanda ia sedang menahan emosinya yang seakan segera meluap.

“Kalian!. .cari dia sampai ketemu!” bentak namja bermantel kepada 3 anak buahnya yang sedari tadi menganggur.

“Ba. .baik tuan” jawab mereka kompak.




**********




TBC



1 komentar:

  1. Suka sama alur ceritanya, Romantis sama comedynya dapet banget. kata-katanya juga mudah dibaca jadi ngga bosen baca tiap katanya thor hehe

    BalasHapus