Setelah selesai
membereskan meja makan, key beranjak membereskan seisi rumah.
Setelah selesai membereskan meja makan, key beranjak membereskan
seisi rumah. Dimulai dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dan terakhir
meja kerja jonghyun yang sedikit berantakan. Key mendekat, melihat sekilas meja
kerja jonghyun yang di penuhi kertas-kertas, yang apalah namanya, sangat
mengganggu penglihatan. Key sepertinya sedikit bimbang, ia takut jonghyun akan
memarahinya karena key tahu ‘kertas-kertas’ itu penting bagi jonghyun. Berfikir
sejenak. Kemudian tersungging senyum manis di sudut bibirnya.
2jam telah berlalu, sejak ia mulai membereskan ruang tamu dll, hingga yang terakhir meja kerja jonghyun, kini semua sudah bersih dan rapi. Kertas-kertas itu di kumpulkan key dalam satu map, di tata rapi dan di letakkan di samping meja bersamaan dengan segala berkas jonghyun.
“Selesai” ucap key sembari menepuk-nepuk kedua belah tangannya,
tak lupa sebuah senyum tergambar di wajahnya, matanya menjelajah ke setiap
sudut ruangan, menikmati hasil kerjanya barusan.
“Sebaiknya aku segera mandi, badanku lengket dan bau” kata key
hendak beranjak ke kamar mandi, tapi ketika hendak berjalan, kaki key
menyandung salah satu laci meja kerja jonghyun yang letaknya paling bawah.
Sedikit terbuka, menampakkan ruang gelap di dalamnya.
“Mmm, apa di dalamnya?” tanya key di dalam hati.
Karena penasaran ia memberanikan diri membuka lebih laci tersebut,
didapatinya kertas-kertas usang, yang disalah satu sudutnya berwarna kuning
kecoklatan.
“Owh kertas bekas, lebih tepatnya sampah” batin key.
“Bolehkan aku membuangnya?” tanya key dalam hati.
Kemudian key menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak menyetujui
pendapatnya sendiri, “Siapa tahu ini berharga bagi jjong” yakin key.
“Hufftt, sudahlah sebaiknya aku mandi sekarang” ucap key kemudian.
Saat hendak menutup laci, tangan key menyenggol sesuatu, hal ini disadari
key yang kemudian menghentikan aksinya, dibukanya kembali laci tersebut.
Disibakkannya satu persatu lembaran kertas tersebut hingga ia menemukan
‘sesuatu’ itu. . .
“Eoh, apa ini. . .?” tanya key, wajahnya terlihat terkejut,
matanya membulat dengan punggung tangan menutup mulutnya yang menganga.
**********
Pukul 17.00 @Kantor Pengacara Shinee
“Jonghyun, kau ikut kan? Kita akan pergi ke club” tawar kyuhyun,
rekan kerja jonghyun. Kepalanya menyembul di balik pintu ruang kerja Jonghyun,
di ikuti Nicole.
“Anni, aku ada urusan lain, aku mau pergi membeli HP” tolak
jonghyun, sambil membereskan tas kerjanya.
“Apa HP mu sudah rusak? Bukankah kau baru membelinya 3 bulan yang
lalu” heran Sekyung, saat jonghyun melewatinya hendak bergegas pulang.
“Molla” jawab jonghyun asal dengan tersenyum, berjalan
meninggalkan ke-3 rekannya yang saling bertatapan, bingung.
**********
Kini jonghyun sedang berada di mall, ia berencana membelikan key
sebuah HP baru, agar memudahkannya untuk menghubungi key, dan memantau keadaannya.
Entahlah jonghyun merasa khawatir terhadap key, terlebih ia sangat ingat
bagaimana ia menemukan key dulu, bahkan sampai saat ini jonghyun tak berniat
melapor polisi untuk mengabarkan bahwa ia telah menemukan ‘seseorang’. Ia
terlanjur sangat nyaman dengan keberadaan key dalam kehidupannya. Walau key
sedikit cerewet, tapi ia sangat mencintainya.
**********
Pukul
19.00
“Aku pulang” teriak jonghyun, sambil melepas sepatu kerjanya,
berjalan kedapur mengambil air mineral dan meneguknya hingga habis. Kemudian ia
merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Beberapa saat, ia tak kunjung mendapati
jawaban dari key. Ia beringsut menuju kamar tidurnya, kosong. Kemana dia? Batin
jonghyun.
“Jjong” sapa key dari belakang.
Seketika jonghyun berbalik dan terhuyung mundur beberapa langkah
dari hadapan key.
“K. .key? kau kah itu?” tanya jonghyun tak percaya, didapatinya
makhluk di hadapannya saat ini, dengan wajah putih hingga sebatas leher,
menyisakan area mata dan mulut.
“Iya ini aku, jjong! Kenapa wajahmu itu? tanya key dengan
bodohnya, melihat rona takut dan kaget diwajah jonghyun.
“Harusnya aku yang bertanya, ada apa dengan wajahmu key!?” sungut
jonghyun.
“Owh ini, aku sedang maskeran jjong” jawab key menunjukkkan wajah
polosnya.
O.O!!!!!
**********
Kini mereka sedang duduk bersama melihat televisi, setelah
sebelumnya makan malam terlebih dahulu. Tentu key lah yang memasak. Suasana
sedikit canggung. Jonghyun berinisiatif untuk mencairkan suasana di antara
mereka dengan membuka sebuah percakapan.
“Apa kau yang merapikan seisi rumah, key?” tanya jonghyun lembut
sambil menatap key yang duduk di sebelahnya.
“Kau menyadarinya, jjong?” tanya key balik, masih fokus pada acara
televisi yang di tontonnya.
“Aku bertanya lebih dulu, kenapa kau jawab dengan pertanyaan
juga?” sungut jonghyun.
Key pun menoleh kearah jonghyun, di dapatinya wajah kekasihnya
itu, wajahnya cemberut, bibirnya mengerucut, lucu.
“Hahahahaa. .kau sangat lucu jjong ketika sebal, terlihat manis”
ledek key, sambil memegangi perutnya karena terlalu keras tertawa.
Tiba-tiba di dorongnya tubuh key, hingga ia berbaring di sofa.
“A. .apa yang k. .kau la. .kukan jjong?” tanya key gugup,
mendapati wajah jonghyun semakin mendekat.
“Berani kau menertawaiku, ku hukum kau” ucap jonghyun tak lupa
menyertakan smirk andalannya.
Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari key, ia semakin
memperpendek jarak diantara mereka. Semakin dekat, jonghyun pun menutup
matanya. Hingga. .
“Cup”
“Akhirnya aku berhasil menciumnya” batin jonghyun senang.
“Tapi, apakah bibir key sekeras ini?” batin jonghyun penasaran.
Jonghyun
POV
Terdengar suara cekikikan pelan, aku pun membuka mata. Kudapati
key masih tertahan di bawah tubuhku, dengan salah satu punggung tangan menutup
mulutnya, menahan tawa mungkin. Seketika mata ku membulat mendapati bahwa
bibirku ternyata mencium remote tv yang digunakan key untuk menghalangiku
menciumnya. “Pantas saja keras!” maki ku dalam hati. Masih terkejut dengan apa
yang ku alami, tiba-tiba key mendorong tubuhku hingga aku terjengkang ke
belakang. Saat itulah key meloloskan diri dari ‘kuncian’ tubuhku. Kuberanjak
bangun untuk mengejarnya, kulirik key yang sudah bersiap untuk melarikan diri
lagi. “Dino pabo, kejar aku” ejek key, sambil memeletkan lidahnya. “Sial, anak ini
mempermainkanku!” rutukku dalam hati. Ku segera bangkit dan mengejarnya. Tak
perlu waktu lama untuk menangkap kucing cerewet itu. Setelah ku dapatkan, ku
pojokkan tubuhnya di dinding, lagi-lagi ku mengunci gerakannya dengan tubuhku.
“Kau tak bisa mengelak lagi, baby” kataku dengan tawa kemenangan.
Perlahan tapi pasti, ku mulai mendekatkan wajahku dengannya,
semakin dekat dan pada akhirnya aku berhasil. Yak ku ulangi, ‘AKU BERHASIL’
menciumnya. Kurasakan sedikit kegugupan di sela ciuman kami, tangan key tak
hentinya meremas kemeja bagian depanku. Mungkinkah ini ciuman pertamanya?
Sepertinya ia tak begitu berpengalaman, terlihat bibirnya pasif menerima
seranganku. Apa boleh buat, jadilah ku bergerilya sendiri.
**********
Author
POV
Setelah beberapa saat, ‘kegiatan’ mereka pun terhenti. Kini mereka
berada di dalam kamar dan tengah merebahkan diri di kasur.
“Key, apa kau sudah tidur?” tanya jonghyun, yang tidur dengan
memandangi langit-langit kamar.
“Belum, wae?” tanya key, yang tidur memunggungi jonghyun yang
berada di sampingnya.
“Emm. .maukan kau bercerita tentang kehidupanmu key? Sebelum
bertemu denganku tentunya” kata jonghyun senormal mungkin, walau tak dapat di
pungkiri ia sangat takut menanyakannya, takut menyinggung perasaan key.
Beberapa saat tak ada jawaban dari key, jonghyun berpikir bahwa
mungkin key tak ingin menjawabnya.
“Sudahlah jangan di pikirkan, aku minta maaf terlalu lancang”
sesal jonghyun.
Key pun mengubah posisi tidurnya, sama dengan jonghyun, menatap
langit-langit kamar.
“Aku yatim piatu, di besarkan di pantiasuhan. Hingga usia ku
beranjak dewasa, pihak panti melepasku untuk hidup mandiri. Aku putuskan
merantau ke Seoul untuk mencari pekerjaan. Aku ditawari bekerja sebagai pelayan
disebuah kapal oleh seseorang, dan akupun menyanggupinya. Hingga suatu malam,
aku diculik dan disekap, mereka akan membawaku pergi keluar negeri. Saat
dipelabuhan, terjadi razia. Mereka berniat membawaku kabur. Tapi polisi
menyadarinya. Terjadilah kejar-kejaran antara mobilku dengan mobil polisi.
Setelah itu entahlah, aku tak mengingatnya lagi, sepertinya mereka membiusku”
jelas key panjang lebar, sebutir cairan bening ikut menghiasi sudut mata
kucingnya.
Jonghyun terdiam, menyimak cerita key. Saat ia sadar, key hendak
menangis segera ia memiringkan posisi tidurnya hingga menghadap tubuh key.
Disekanya air mata key yang terlanjur menetes membasahi pipi tirusnya. Dengan
penuh kasih sayang jonghyun mengelus rambut key, memberinya kekuatan dan
ketenangan.
“Baby, jangan menangis lagi ne? Mulai sekarang aku akan menjaga
dan melindungimu, tak akan ku biarkan orang lain menyakitimu. Jadi berjanjilah
padaku jangan biarkan air matamu jatuh mulai saat ini, kan ku buat kau bahagia”
hibur jonghyun, sambil menautkan kelingkingnya dengan kelingking key, membuat
perjanjian diantara mereka.
Key pun tersenyum memandang wajah tulus kekasihnya itu, “gomawo
jjong, aku pegang janji mu itu” ucap key lirih sambil menyusrukkan wajahnya di
dada bidang jonghyun.
“Ne baby, saranghae” jawab jonghyun sambil mengelus punggung kurus
key.
Beberapa saat, mereka tidur dengan berpelukan. Jonghyun pun telah
sampai dialam mimpi. Sementara key, ia masih terjaga. Seperti ada yang
mengganggu pikirannya, terlihat resah. Bukan karena teringat cerita masa
lalunya tadi, tetapi. .
>Flashback on<
Key
POV
Setelah jonghyun pergi ke kantor, aku memutuskan untuk
bersih-bersih rumah, semua tempat tak terkecuali meja kerja jonghyun. Hingga ku
tak sengaja menyandung laci paling bawah dari meja kerja jonghyun. Kubuka laci
itu dan kulihat ternyata hanya kumpulan kertas usang. Saat hendak menutup laci,
tangan ku menyenggol sesuatu. Kusibakkan satu persatu lembaran kertas tersebut
hingga ku menemukan ‘sesuatu’ itu. . .
“Eoh, apa ini. . .?” tanyaku,
Aku terkejut, mataku membulat dengan punggung tangan menutup mulutku
yang menganga. . .
Kudapati sebuah foto, dengan kondisi berdebu, tampak tak terawat
dengan kondisi bekas tertekuk di berbagai tempat. Seperti habis diremas.
Bukan itu yang membuatku kaget, tapi foto orang didalamnya. Siapa
lagi kalau bukan jonghyun. Ia bersama seorang namja. ‘Manis’ itu kesan pertama
ku melihatnya. Pose mereka sangat intim, jonghyun memeluk namja manis itu dari
belakang, dengan senyum sumringah, begitu pula namja manis itu terlihat sangat
bahagia, dengan tangan didepan memegang tangan jonghyun yang memeluknya dari
belakang.
Air mataku menetes, siapa dia?? tanyaku dalam hati, seakan
tersakiti oleh apa yang kulihat.
Aku tahu, aku baru saja mengenal jonghyun. Tentu tak sepenuhnya
tahu tentang masa lalunya dahulu, apakah dia namjachingunya sebelum aku??
Kenapa jonghyun tak pernah menceritakannya padaku?? Banyak pertanyaan yang
berputar di otakku saat ini, meminta jawaban dengan segera. Kupegangi kepala ku
yang mendadak terasa nyeri. Kuhembuskan nafas perlahan mencoba mengatur
perasaanku saat ini. Sedikit lebih baik. Lalu kusimpan kembali foto itu di
balik tumpukan kertas-kertas usang tadi. Kututup laci dengan tangan sedikit
gemetar, berharap tak pernah melihatnya dari awal. Kembali, cairan bening lolos
dari pelupuk mataku. . .
>flashback
off<
“Jjong, benarkah hanya aku yang ada di dalam hatimu? tanya key lirih, memandang wajah damai kekasihnya yang telah tertidur pulas disampingnya.
Di raihnya rambut jonghyun yang jatuh menutupi matanya,
disibakkan. Dielusnya perlahan tiap inci wajah tampan jonghyun. Senyum tipis
tersungging disudut bibir key, “saranghae jjong” ucap key sesaat sebelum ia
benar-benar menutup mata, menyusul jonghyun kealam mimpi.
**********
Key
POV
Keesokan harinya,
Setelah mengantar jonghyun berangkat kerja, ku kembali ke kamar,
duduk di sofa melihat acara televisi. Beberapa saat, ku terhanyut dalam acara
yang ditayangkan. Setelah acara itu selesai, lalu ku coba mengganti cannel tv
lain, tapi tak ada yang menarik. Aku bosan. Kulirik jam dinding, menunjukkan pukul
09.12. Kubangkit dan segera mandi. Hari ini, kuputuskan untuk pergi jalan-jalan
saja.
**********
Author
POV
Taman Kota,
Udara disini sangat segar, karena masih banyak pohon yang tertanam
disekitarnya. Saat ini key sedang duduk di sebuah kursi panjang, yang menghadap
kearah danau. Masih pagi, tak terlalu banyak orang yang datang. Begitu pula,
hanya beberapa pedagang yang berjualan. Key mengenakan mantel bulunya, karena
udara sangat dingin. Tak lupa ia membawa HP yang diberikan jonghyun padanya
tempo hari, warnanya pink, warna kesukaannya. Key tersenyum mengingat segala
kenangan manis bersama jonghyun beberapa hari ini. Tak akan pernah terlupakan.
Key mendongakkan wajahnya, menatap langit dengan mentari yang bersinar cerah,
walaupun tak cukup menghangatkan badannya saat ini, tapi perasaan damainya saat
ini berganti kehangatan dihatinya.
“Tuhan, terima kasih. .Kau mengirimkan jonghyun padaku, aku akan
selalu menyayanginya” janji key dalam hati, senyum indah tak pernah pudar dari
wajah cantiknya.
Sementara itu. . .
Dibalik pohon, tak jauh dari tempat key duduk, sepasang mata
tengah memperhatikannya, dengan smirk penuh kemenangan.
“Akhirnya, ku temukan kau sayang” ucapnya dengan salah satu sudut
bibir terangkat keatas.
“Bos pasti sangat senang”
**********
Begitulah, hampir 1 bulan key tinggal bersama jonghyun. Semakin
banyak kenangan manis diantara mereka berdua. Jonghyun benar-benar
menyayanginya. Menepati janji yang dulu di ucapkannya. Hingga suatu hari, saat
cinta dan kesetiaan mereka di uji. . .
“Jjong, mian. .” ucap key lirih, menunduk dengan tangan meremas
ujung kemeja yang di kenakannya.
Jonghyun sendiri berdiri tepat di hadapan key, manik matanya
menatap tajam wajah key. Penuh kilat amarah. Tangannya mengepal, rahangnya
terkatup rapat, dengan gigi bergemeretak didalamnya.
“Kau. .kau keterlaluan key!” ucap jonghyun, mencoba menahan emosi
yang meliputinya saat ini.
“Kenapa kau bakar foto itu?” tanya jonghyun, dengan berlinang air
mata, wajahnya penuh kesedihan dan kekecewaan.
“Mian jjong, jeongmal mianhe” isak key tertahan, ia berusaha agar
tidak menangis sesuai janjinya pada jonghyun dulu.
“Kau tak pernah menceritakan padaku siapa namja di foto itu,
kenapa kalian terlihat sangat mesra, aku cemburu jjong” jelas key, mencoba
membela diri.
“Hah, cemburu?. .hanya karena alasan itu kau membakar foto itu?
Apa kau tau key, itu kenanganku satu-satunya dengannya yang tersisa” jonghyun
sedikit meninggikan suaranya.
“Jadi foto itu jauh lebih berharga daripada aku?” tanya key, mulai
terpancing emosi.
Key mulai berani menatap kedalam mata jonghyun, walau sedikit
gentar, karena kilatan emosi yang membara di manik mata hazelnya, yang biasanya
teduh.
“Harusnya sejak dulu, sejak pertama ku menemukannya, ku bakar saja
foto itu!” teriak key sengit.
“KEY!!!” bentak jonghyun, yang seketika membuat key terhenyak
kaget, untuk pertama kalinya jonghyun membentaknya sekeras ini.
Dada jonghyun naik turun, nafasnya tak beraturan. Matanya
terpejam, mencoba mengatur emosinya yang telah naik ke ubun-ubun.
“Baik key, terserah padamu” ucap jonghyun, sembari bergegas
meninggalkan key.
Sesaat sebelum jonghyun menutup pintu, ia berbalik dan berkata
pada key, “kau bertanya mana yang lebih penting, ‘kau atau foto’ itu, jawabanku
adalah. . .” kata jonghyun menggantung, menelan ludahnya dengan susah payah,
mengumpulkan keberaniannya dan melanjutkan perkataannya “. . .foto, foto itu
lebih berharga” ucap jonghyun kemudian, lalu menutup pintu. Meninggalkan suara
derap langkah yang semakin menjauh.
Seketika tubuh key melorot ke lantai, kini air matanya benar-benar
tertumpah. Hatinya sangat sakit atas perlakuan jonghyun padanya, terlebih
dengan ucapannya barusan. Sungguh, key menyesal kenapa ia lancang membakar foto
itu, ia berfikir akan lebih baik jika jonghyun tak mengingat masa lalunya,
karena key berharap dialah masa depannya jonghyun kelak. Saat ini penyesalan
key sudah terlambat. Jonghyun marah dan meninggalkannya.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya key disela isak tangisnya.
**********
Jonghyun
POV
Aku meninggalkan key sendiri di rumah, setelah pertengkaran kami
tadi. Saat ini ku berada di kantor, mencoba menenangkan diri. Aku menyesal
telah membentak key tadi, hanya saja sikap key kali ini sangat keterlaluan. Ia
membakar foto kenanganku satu-satunya dengan ‘dia’, namja yang aku cintai
sebelum key datang dalam kehidupanku. ‘dia’ yang 4 tahun lalu menghilang,
meninggalkan ku. .
>flashback on<
Jonghyun
POV
“Minnie, besok kita kencan ne?” tawarku pada namjachinguku,
taemin.
Usia kami terpaut beberapa tahun. Ia lebih muda 3 tahun dariku.
Kami menjalin hubungan sejak di bangku perkuliahan, hingga akhirnya ku lulus
dan di terima bekerja di kantor pengacara “Shinee”. Hari-hari ku sebagai junior
sangatlah sibuk. Seperti di pelonco, ku mendapatkan banyak tugas mulai dari
mengumpulkan data hingga pemberkasan. Sungguh melelahkan. Hingga intensitas
pertemuanku dengan taemin berkurang, mengakibatkan hubungan kami sedikit
merenggang. Tapi tak pernah dirinya mengeluh, menuntut lebih. Setiap kali
bertemu, di sela kesibukkanku dia selalu meyambutku dengan senyuman. Sungguh,
dia bagai malaikat. Wajahnya cantik untuk ukuran namja, dia juga sopan dan
sedikit pemalu. Ketika berdua dengannya, tak pernah bosan ku memandang
wajahnya, mengagumi lukisan indah yang terpahat sempurna. Terkadang ia menjadi
salah tingkah, di saat aku terus memandanginya. Seperti saat ini, di jam
istirahat aku menghubungi taemin, memintanya untuk datang ke cafe langganan
kami.
“Bagaimana tawaranku?” tanyaku lagi.
“Kencan? Apa kau tak sibuk hyung?” tanyanya memastikan.
“Tidak, karena itu ku mengajak mu kencan, aku merindukanmu” kataku
sedikit malu.
“Baiklah hyung” ucap taemin kemudian, wajahnya tampak merona,
entah karena malu atau bahagia.
“Kalau begitu kita bertemu ditaman kota ne?” ucapku sambil
menyeruput grande javalatte yang sedari tadi nongkrong di atas meja, menutupi
kegugupanku saat ini. Sebenarnya ini bukan kencan perdana kami, hanya saja ini
kencan pertama setelah sekian lama kami sempat break karena kesibukkan ku.
**********
Author
POV
Keesokan harinya, di Taman kota.
“Apa hyung tidak jadi datang ya? Sudah lebih 30 menit dari waktu
yang di janjikan” ucap taemin sambil melirik jam tangannya.
Wajahnya terlihat cemas. Berjalan mondar-mandir tak tentu arah.
Matanya terkadang berpendar mencari-cari sesosok namja yang di nantinya.
“Minnie!” teriak jonghyun mencoba mengagetkan taemin yang saat ini
sedang duduk karena lelah menunggu jonghyun.
Sang empunya nama, segera mendongak dan mendapati namja yang di
nantinya tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
“Kau terlambat hyung, hampir 1 jam” kata taemin sambil cemberut.
“Akh, mianhe minnie, tadi ku ada urusan sebentar, ini terimalah.
.” kata jonghyun sambil meyerahkan kotak berwarna kuning pada taemin.
“Apa ini hyung?” tanya taemin bingung.
“Lihatlah” perintah jonghyun, di ikuti taemin dengan membuka
bungkusan itu perlahan.
“OMO, hyung ini. . .” kata taemin tertahan.
“Ne, kau suka? Itu ipod, didalamnya ada banyak lagu, bisa kau
gunakan untuk berlatih menari” kata jonghyun sambil tersenyum. Ia sangat tahu
kalau taemin hobi menari, karena itulah di universitas ia mengambil kelas seni.
“Gomawo hyung” kata taemin sambil memeluk jonghyun, dibalas
jonghyun dengan membelai kepalanya lembut.
“Ne chagi” ucap jonghyun singkat, masih memeluk taemin.
**********
Saat ini mereka, sedang duduk berdua di bangku taman, suasana
makin meremang karena mentari beranjak pulang keperaduan. Lampu di sekitar
taman pun mulai menyala, menambah suasana romantis diantara keduanya.
“Hyung, kelak apakah kau akan terus mencintaiku?” tanya taemin
lugu, bersandar pada bahu kekar jonghyun.
“Tentu chagi. .hari ini, besok, lusa, dan selamanya. .aku akan
selalu mencintai mu” jawab jonghyun mantap.
Terukir senyum tipis di wajah taemin, bahagia mendengar penuturan
jonghyun yang membuatnya bagai terbang ke angkasa.
Tiba-tiba jonghyun menjauhkan tubuh taemin dari pundaknya.
Dipegangnya kedua belah pundak taemin, kiri dan kanan. Ditatapnya sepasang
manik mata dari Minnie-nya itu. Jonghyun hendak mencium taemin. Sedikit lagi,
kedua bibir namja itu menyatu tapi tiba-tiba. . .
“Bughh” sebuah pukulan tepat mendarat dibelakang kepalanya.
Jonghyun tersungkur, kepalanya sakit. Ia berusaha membuka matanya, tapi dunia
yang dilihatnya seakan-akan berputar. Ia pun mulai kehilangan kesadaran. Sesaat
sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia masih bisa mendengar teriakan
taemin, “hyuuunngggg tolooong”.
**********
Jonghyun
POV
“Ahjushi, dimana temanku?” tanyaku pada petugas kepolisian yang
kuperkirakan usianya sekitar 48 tahun itu.
Saat ini aku berada di kantor polisi, setelah beberapa saat lalu
aku pingsan dan di temukan petugas kebersihan yang tak sengaja lewat. Kepalaku
pun baru saja selesai diperban dan di beri obat merah.
“Tenanglah nak, luka di kepala mu itu masih baru, sebaiknya kau
istirahat” kata petugas itu berusaha menenangkan ku.
“Anni, dimana temanku??” tanya ku lagi pada paman polisi, kali ini
kupegang erat tangannnya dengan sedikit gemetar, meminta kepastian darinya.
Paman polisi itu memandang ku sekilas, menatapku iba. Seketika
wajahnya menunduk, ada raut kesedihan yang terpancar. Beberapa saat dia diam,
mungkin mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaanku.
“Nak, maaf. .kami tak bisa menemukan teman mu. .kemungkinan dia
diculik. Berdasarkan data yang kami terima dari Badan Intel Kepolisian
Internasional, saat ini sedang marak kasus penculikan remaja asia yang akan
diperjual-belikan di pasar eropa. Mungkin. .teman mu itu salah satu dari target
penculikan, dengan kata lain dia menjadi korban ‘human trafficking’ jelas paman
polisi itu panjang lebar.
**********
Auntor
POV
Saat ini jonghyun sedang duduk di halte, yang berjarak hanya 200
meter dari kantor polisi, tempatnya tadi diperikasa. Pandangannya menerawang
jauh, kosong. Saraf-saraf di tubuhnya seperti tak lagi berfungsi. Bibirnya
kering, dan wajahnya pucat. Angin bertiup perlahan menyapu rambut brunette itu
tak tentu arah. Layaknya zombie, antara hidup dan mati.
“Minnie. .mianhe” lirih jonghyun yang nyaris seperti berbisik,
Buliran air mata berlomba untuk segera turun kepermukaan bumi. Tak
ada suara isak, hanya bahu berguncang tersirat asa yang merana. Malam semakin
larut, kini kegelapan merajai dunia. Angin sepoi-sepoi berhembus membisikkan
nyanyian syahdu. Tubuh namja itu perlahan bangkit, berjalan gontai menuju
pusaran kegelapan yang menyelimuti malam, perlahan kegelapan itu telah menelan
sosoknya, menyeretnya masuk dalam lubang ‘penyesalan’.
>flashback
off<
Author
POV
“Minnie. .mianhe, aku tak bisa melindungi mu” ucap jonghyun sambil
menyeka air matanya.
Tiba-tiba HP jonghyun berbunyi. Tak ia hiraukan, ia mengira key
yang menghubunginya. Ia masih asik melamun, memandangi kota Seoul di malam hari
dari balik kaca ruang kerjanya.
HP jonghyun kembali berbunyi untuk ke-2 kalinya. Masih tak ia
hiraukan. Ia benar-benar marah pada key. Marah dengan keadaan. Dan lebih
tepatnya, marah pada dirinya sendiri, karena tak bisa melindungi taemin. Hingga
ia diliputi penyesalan hingga saat ini.
Lagi. .ke-3 kalinya, HP jonghyun kembali berbunyi. Merasa jengah,
jonghyun pun beranjak mengambil HP nya. Sepintas ia melihat ke layar, ‘privat
number’. Dahi jonghyun mengkerut, bertanya-tanya siapa yang menelephone nya
malam-malam dan menggunakan privat number. Mungkinkah key? Segera ia
menggelengkan kepalanya, ia tak mau ambil pusing dengan key, jonghyun
benar-benar malas.
“Yeoboseo” kata jonghyun, setelah menekan tombol hijau di layar HP
nya.
“Why
did you take the abandoned boy in a plastic bag and make my situation bad?” tanya seseorang
dibalik telepon menggunakan bahasa inggris, jonghyun pun paham, karena
profesinya sebagai pengacara menuntutnya untuk fasih berbahasa asing, terlebih
inggris. Karena banyak klien nya yang juga berasal dari luar korea.
“Who
is this?” tanya jonghyun, mengerti bahwa saat ini, Key lah yang menjadi
topik pembicaraan.
“Just
listen to me” sergah namja misterius itu.
“I
know you had a boyfriend who went missing four years ago, I have your
boyfriend” ucap namja itu lagi.
“Lets
change, I need that boy now” jelasnya memberi pilihan.
“Tuut. .tuut. .tuut. .” namja misterius itu memutus sambungan
telepon dengan jonghyun.
Tubuh jonghyun pun ambruk ke sofa, terduduk lemas. Ia masih belum
sepenuhnya bisa mencerna maksud namja misterius itu.
“Apa ini artinya mereka tahu keberadaan taemin?”
“Taemin akan segera kembali padaku?”
Saat ini kepala jonghyun penuh dengan pertanyaan yang membuatnya bingung. Antara bahagia dan sedih. Ia tak bodoh untuk sekedar memahami maksud namja misterius itu. Namja misterius itu memberi pilihan pada jonghyun, untuk memilih. .’kembali bertemu taemin’ atau ‘mempertahankan key’. Jonghyun mendesah frustasi, di urut keningnya yang terasa berat. Memejamkan matanya, seolah berfikir dan memantapkan hati atas pilihan yang akan ia buat.
**********
TBC
hhuuuaaa jonghyun mau nyerahin key ya?? Andwweeee *inget MV davichi
BalasHapus