Jonghyun telah sampai di
depan rumahnya, badannya basah kuyup kehujanan karena langit mendadak gelap dan
memuntahkan isinya.
“Hufft, hari ini aku
sangat sial. Harus menahan malu dan kehujanan. Ck. Menyebalkan!” rutuk
jonghyun, yang tak henti-hentinya mengomel sejak turun dari bis dan harus berlari
karena hujan tak mendengar permohonannya untuk menunda barang beberapa menit
untuknya sampai kerumah.
Diputarnya knop pintu
dan segera ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Gelap. Apa mungkin
karena suasana di luar yang mendung? Padahal waktu baru menunjukkan pukul 4
sore. Jonghyun melepas jaket kulitnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Terlebih dahulu ia menghidupkan saklar lampu agar lebih terang. Mendadak
kakinya terasa lemas, matanya melotot hingga hampir keluar. Wajahnya terlihat
panik. Bagaimana tidak? Key tak ada. Hanya menyisakan borgol yang masih
menempel pada kursi. Jonghyun menjambak rambutnya frustasi, apa yang di
khawatirkannya terjadi sudah. KEY MELARIKAN DIRI!
“KEY!! DIMANA KAU!?”
jonghyun berteriak seperti orang gila, tak lagi mempedulikan badannya yang
masih basah kuyup. Tubuhnya ambruk ke lantai. Beberapa cairan bening lolos dari
matanya, jatuh menyapu permukaan kulit wajahnya yang sedikit pucat karena
kedinginan.
“Kembali. .jangan
tinggalkan aku key” lirih jonghyun nyaris seperti berbisik.
“Ceklek” terdengar suara
knop pintu terbuka, muncullah sesosok namja kurus dengan handuk tergantung di
lehernya. Rambutnya basah, menyisakan beberapa bulir air dipermukaan kulitnya
yang putih pucat. Terlihat lebih bersih dan segar. Jonghyun mendongak,
terbelalak kaget mendapati sesosok namja yang tak lain adalah key, keluar dari
kamar mandi.
“Key” lirih jonghyun
seolah tak percaya pada pandangan matanya.
“Apa yang kau lakukan
disitu? Kenapa kau duduk di lantai dengan badan basah kuyup?” tanya key polos,
tak paham dengan apa yang telah terjadi. Diamatinya keadaan jonghyun yang
berantakan dari ujung kaki hingga rambut.
“Aku menemukan kunci
borgol yang tergeletak di atas meja. Jadi ku gunakan saja untuk membuka borgol.
Kuputuskan untuk mandi, bukankah kau akan membelikan aku baju baru. Tak mungkinkan
aku memakainya dalam kondisi badan yang bau?” jelas key panjang lebar, sambil
berjalan melewati jonghyun dan duduk di sofa berhadapan dengannya.
“Lalu kau sendiri
kenapa? Kenapa terlihat berantakan seperti itu? Apa kau takut aku pergi
meninggalkan mu, merasa kehilangan eum??” ledek key menatap wajah jonghyun yang
masih belum sepenuhnya sadar. Tak lupa senyuman nakal seolah menggoda.
Ditatapnya lekat-lekat
wajah key, tanpa berkedip. Segera di palingkan arah pandangnya, untuk menutupi
wajahnya yang bersemu merah. Malu.
“Anni, siapa yang takut?
A. .aku tak takut kau tinggalkan!’ sanggah jonghyun dengan terbata, hal itu
justru membuat key tertawa terbahak-bahak.
**********
Kini jonghyun dan key
kembali pada kondisi seperti kemarin malam, terborgol dalam satu ikatan. Saat
ini mereka sedang membersihkan rumah bersama-sama. Key menyapu dan jonghyun
mengepel. Terlihat sedikit bersusah payah, karena tangan mereka yang terborgol
satu sama lain menyusahkan untuk bergerak. Jonghyun sebenarnya enggan melakukan
ini, tapi key mengomel tak henti-hentinya ketika berceramah tentang kondisi
rumahnya yang kotor dan berantakan. Sekali lagi, entah mengapa jonghyun merasa
tak berdaya dengan segala titah dari sang kucing.
“Hey, kenapa kau tak
melarikan diri saja ketika berhasil membuka borgol?” tanya jonghyun di
sela-sela kesibukannya mengepel.
“Apa kau menginginkan
aku pergi?” key bertanya balik.
“Aku bertanya padamu,
kenapa kau bertanya balik” sungut jonghyun, terlihat sebal.
“Entahlah. Walau ku tau
kau menculikku. Tapi ku merasa kau tak berniat buruk padaku. Kau menjaga ku
dengan baik. Dan. .aku merasa senang bersamamu” jawab key terus terang tapi terdengar
lirih ketika mengatakan kalimat yang terakhir.
Jonghyun terdiam, entah
mendengar atau tidak jawaban key seutuhnya. Tapi raut wajahnya berubah menjadi.
.sulit diartikan. Biarlah menjadi rahasia, hanya Tuhan dan jonghyun yang tahu.
Mendadak suasana hening, mereka sibuk dengan pikiran dan pekerjaan
masing-masing. Hampir 2 jam lebih setelah kepulangan jonghyun tadi, mereka
mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari melipat pakaian, menata kasur,
membereskan barang yang berserakan, menyapu dan mengepel. Tak terasa waktu
menunjukan pukul 18.30, waktunya makan malam. Apalagi seharian ini mereka
berdua sudah bekerja keras, lelah itu sudah pasti.
“Hari ini kita makan
apa?” ucap key duduk berhadapan dengan jonghyun, yang terlihat sedang berpikir.
“Entahlah, asal bukan
mie. Aku bosan” ucap jonghyun datar sambil menopang dagu dengan tangan kanannya
yang bebas tak terborgol.
“Ada apa saja di kulkas
mu yang minimalis itu?” tanya key seolah meledek.
Jonghyun melirik key
sekilas, merasa diremehkan. Walau pada kenyataannya kulkasnya itu memang tak
pernah berisi makanan selain sayuran dan beberapa jamur terkadang baso atau
sosis walau sangat jarang.
“Hanya ada sayur dan
beberapa potong jamur” jawab jonghyun singkat.
“Baiklah akan ku buatkan
makanan, tapi lepaskan dulu borgol ini” ucap key lagi, sambil mengibaskan
ikatan borgol yang melekat pada tangan kanannya dengan tangan kiri jonghyun.
“Bisa apa kau? Apa ini
alasan agar kau bisa lari dari ku?” tanya jonghyun sambil memicingkan kedua
matanya seolah menyelidik tak percaya.
“Kalau aku ingin lari,
sudah ku lakukan dari tadi. Sudahlah kalau tak mau tak apa-apa, ku bisa tidur
lebih awal” jawab key jutek, sebal karena jonghyun tak juga percaya padanya.
“Yak, kenapa ketus
sekali jawabanmu. Aku hanya bercanda” ucap jonghyun sambil merogoh saku celana
yang berisi kunci borgol, sesaat kemudian memasukkan pada lubang dan terbukalah
ikatan mereka berdua.
“Apa kau yakin?
Hati-hati aku akan mencuri kesempatan untuk melarikan diri” ucap key cuek
sambil berdiri menuju dapur setelah sebelumnya mengambil beberapa sayuran dan
jamur dalam kulkas.
Jonghyun tertegun,
terlihat menatap punggung key lekat-lekat hingga akhirnya ia berlari tergesa
kearah pintu, dan menguncinya. Tak lupa disimpannya kunci itu di saku celana,
di tempat yang sama dengan kunci borgol tadi.
“Kau tak bisa pergi dari
ku key” gumam jonghyun, dengan tangan terkepal dan wajah waspada yang justru
membuatnya terlihat konyol.
**********
“Apa ini kau yang
membuatnya” tanya jonghyun tak percaya, setelah melihat sajian menu di atas meja.
Menatap takjub.
Key berkacak pinggang
seolah meremehkan jonghyun. Merasa puas dengan kreasinya saat ini. Ia menyulap
sayur dan jamur menjadi hidangan yang tak kalah lezat dengan masakan restauran.
Kemudian key duduk tepat dihadapan jonghyun dan mengambil posisi untuk makan,
diikuti jonghyun yang segera mengambil sumpit dan mangkuk. Mereka makan malam
berdua dengan khusyuk dan khidmat (?).
Beberapa jam setelah
mereka makan malam bersama, kini mereka bersiap-siap untuk menjemput alam
mimpi. Seperti biasa jonghyun tetap memborgol sebelah tangannya dengan tangan
key, ritual wajib sebelum mereka tidur. Mereka telah berbaring bersebelahan,
dengan pandangan kearah langit kamar. Untuk beberapa waktu suasana hening,
hingga key memulai pembicaraan.
“Apa kau tau alasan
kenapa aku di culik?” tanya key.
“Ne, karena kau kekasih
dari seorang Choi Minho, jaksa terkenal itu. Karena itu kenapa kau tak putus
saja dengannya, jadi kau tak harus mengalami hal ini” jawab jonghyun, dalam
kata-katanya tersirat rasa cemburu pada sosok minho.
“Kau pasti kenal
Keluarga Lee. Dia seorang pengusaha sukses dalam berbagai bidang, Ia tinggal
berdua dengan adiknya yang bernama Lee Jinki. Mereka berdua mengambil alih
perusahaan sejak kematian kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat. Tapi
jalan yang mereka ambil salah, mereka justru terjerumus dalam lingkaran mafia
perdagangan obat terlarang (narkoba). Beberapa bulan yang lalu tuan Lee Jinki,
tertangkap dalam sebuah investigasi yang dilakukan oleh kekasihmu. Karena itulah
sang kakak, Lee Joon mencoba menculik mu untuk menekan kekasihmu agar
membatalkan tuntutan atas perkara yang menimpa adiknya” jelas jonghyun panjang
lebar.
“Lalu apa yang akan di
lakukan padaku bila minho tak bersedia?” tanya key lagi, kini mengalihkan pandangannya
pada sosok jonghyun yang berada disampingnya.
“. . . . . . . .” tak
ada jawaban, jonghyun hanya diam, pandangannya seolah menerawang jauh, entah
apa yang dipikirkan, terlihat menyembunyikan suatu hal.
“Sebaiknya kita tidur,
besok kita harus bangun pagi” ucap jonghyun mengabaikan pertanyaan key yang
seharusnya ia jawab.
Mereka berdua mulai
memejamkan mata, hingga beberapa saat kemudian keheningan tercipta. Hanya deru
nafas teratur yang terdengar. Sudah tertidur mungkin? Tapi seorang namja cantik
perlahan membuka matanya kembali, mengubah posisi tidurnya hingga berbaring
menatap sosok namja yang tertidur disampingnya. Key, ia menatap jonghyun dengan
pandangan sayu, seolah ingin mengatakan sesuatu yang selama ini mengganjal
hatinya. Sebuah rahasia yang selama ini ia simpan rapat.
“Apa kau tau? Minho.
.dia bukan kekasihku. Kami patner kerja, aku sebagai sekretaris sekaligus
temannya, tak lebih seperti yang kau bayangkan” ucap key lirih hingga nyaris
seperti berbisik, tepat di telinga jonghyun yang tengah tertidur. Kemudian ia
semakin mendekat kewajah jonghyun, menatapnya untuk beberapa saat kemudian
semakin dekat hingga hampir mencium keningnya. Tapi ia mengurungkan niatnya
itu. Kembali pada posisi semula, membelai rambutnya perlahan dan kembali menutup
mata. Beberapa saat setelah itu, sesosok namja kembali membuka mata, tak lain
adalah jonghyun. . .Mungkinkah ia mendengar semuanya???
**********
Keesokan harinya.
Pukul 11.00 di sebuah
ruang pengadilan, berkumpul banyak orang. Didominasi oleh banyak namja
berpakaian serba hitam, setelan jas khas mafia-mafia. Apa lagi kalau bukan
untuk memberi dukungan pada ketua mereka, Lee Jinki. Terlihat juga kakaknya,
Lee Joon sedang duduk di kursi pengunjung beserta anak buahnya. Di muka
pengadilan telah berjejer 3 hakim, seorang ketua dan 2 hakim anggota. Dihadapan
hakim, seorang namja bermata sabit tengah duduk di kursi pesakitan dengan baju
tahanan. Terlihat tenang tapi gurat kecemasan tetap terpahat diwajahnya yang
tampan. Disampingnya, beberapa jaksa penuntut telah bersiap dengan segala
keputusan yang akan di jatuhkan hakim pada terdakwa, Lee Jinki. Beberapa saat
setelah hakim berunding, tiba saatnya untuk membacakan putusan.
**********
“Yak, apa yang kau
lakukan, kenapa lama sekali berganti pakaiannya?” tanya jonghyun tak sabar di
balik pintu kamar mandi. Wajahnya terlihat cemas, seolah berpacu dengan waktu.
“Ceklek” pintu kamar
mandi terbuka, menampilkan sesosok namja cantik dengan celana jeans dan kaos
berwarna pink, key. Ia terlihat santai dan semakin cantik. Untuk beberapa saat
jonghyun terpana, hingga teriakan key membuyarkan lamunannya.
“Berisik! Kenapa kau
cerewet sekali. Memangnya kita mau pergi kemana, sampai kau tergesa-gesa
seperti itu” ucap key sewot, setengah berteriak.
“Kita akan pergi jauh”
ucap jonghyun kemudian setelah tersadar, dan menarik sebelah tangan key untuk
segera pergi. Tapi belum sampai didepan pintu tiba-tiba pintu terbuka paksa,
muncul 2 orang namja berpakaian hitam berbadan kekar, merangsek masuk tanpa
permisi. Jonghyun dan key sangat terkejut, bahkan salah seorang namja kekar itu
mendorong jonghyun hingga terjatuh. Key panik, dan membantu jonghyun untuk
berdiri. Sesaat kemudian muncul namja lain yang disinyalir sebagai bosnya, tak
lain adalah lee joon. Ia menatap key seolah binatang buas yang siap menerkam
mangsanya. Dimatanya tergambar gurat kebencian yang teramat dalam. Key yang
menyadari hal itu semakin takut, ia berusaha bersembunyi dibalik badan jonghyun.
Jonghyun tak dapat berbuat banyak, niatnya untuk melarikan diri bersama key
gagal. Pagi ini, ia berniat membawa kabur key ke manapun asal tak lagi berjumpa
dengan bosnya itu, tapi jonghyun kalah cepat, hingga kini bosnya sudah berdiri
dihadapannya beserta anak buahnya.
“Mau kemana kau?” tanya
lee joon dengan wajah dingin, menatap jonghyun.
“Anni, aku tak ingin
pergi kemana-mana. Hanya memberinya baju ganti, itu saja” sangkal jonghyun
gugup, mencoba berbohong pada bosnya itu. Key yang berdiri dibelakang tubuh
jonghyun menatap seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Padahal tadi
jonghyun memaksanya untuk pergi, tapi sekarang ia menyangkalnya? Tapi key tak
mengelak, ia tetap terdiam, seolah ingin melindungi kebohongan jonghyun.
“Bagus. Aku kira kau
akan mengkhianatiku” ucap lee joon masih tetap dingin.
“Bawa dia” ucap lee joon
lagi, pada anak buahnya. Diikuti kedua namja kekar tadi bergerak menyeret paksa
key keluar rumah jonghyun. Key berontak, ditatapnya jonghyun yang masih terdiam
ditempatnya, seolah ingin meminta tolong tanpa mampu berucap sepatah katapun.
Jonghyun masih terdiam, dipandangnya key yang menatapnya haru, memohon
perlindungan. Tapi jonghyun sendiri tak ada pilihan lain, ia tak mampu berbuat
lebih. Buntu. Itulah yang terjadi pada otak jonghyun, ia tak mampu berpikir
lagi. Ia takut sekaligus sedih. Ia tau apa yang akan terjadi pada key selanjutnya,
oleh karena itu, malam ketika key menanyakan apa yang akan terjadi pada dirinya
ia tak mampu menjelaskannya. Ia tak ingin melihat key terluka dan tersakiti.
“Ini bayaran untukmu”
ucap lee joon sambil menyerahkan sebuah cek pada jonghyun, dan berlalu keluar
rumah diikuti jonghyun dibelakangnya.
Dapat jonghyun lihat,
key dipaksa masuk kesebuah van hitam bersama anak buah lee joon, sesaat sebelum
pintu tertutup, jonghyun melihat tangan key berusaha menggapainya. Sesaat kemudian
van tersebut telah meninggalkan jonghyun dalam kesendirian. Jonghyun mematung.
Kini perasaan sakit menjalar keseluruh tubuhnya, terutama hatinya. Merasa
bersalah pada key. Tak terasa sebuah kristal bening turun dari mata hazelnya,
menyapu permukaan kulitnya yang kecoklatan. Kini ia menyadari, walau terlambat,
suatu hal yang selama ini ia simpan dalam hati, tak mampu menyampaikannya
secara terus terang pada sang empu yang kini telah pergi meninggalkannya. Ia
menyesal, tak pernah punya keberanian untuk mengatakannya, hingga sekarang ia
benar-benar tak punya kesempatan. Air matanya jatuh semakin deras.
**********
Di dalam mobil van, key
tak henti-hentinya berontak mencoba melepaskan sekapan dari kedua namja kekar
itu. Lee Joon yang berada disampingnya merasa jengah dan menampar pipi tirus
key hingga semburat merah tercipta karena kerasnya tamparan. Sepertinya
tamparan itu cukup untuk membuat key terdiam, berganti dengan air mata yang
mulai menggenang di sudut matanya yang tajam.
“Tak seharusnya kau
mengalami hal seperti ini, kalau saja kekasihmu itu mau bekerja sama” ucap lee
joon dingin, menatap sinis key yang tertunduk tak berdaya.
“Dia bukan kekasihku”
ucap key lirih, mencoba menyangkal pernyataan lee joon.
“Hahaha, apa kau berniat
menipuku dengan ucapan mu itu huh!!” teriak lee joon tepat dihadapan key.
“Apa pun kata-kata mu
saat ini tak akan berarti. Tak akan mengubah kenyataan bahwa adik ku tetap
masuk penjara” ucap lee joon dengan sinis, ia menatap mata key dalam seolah
melampiaskan rasa bencinya pada sosok Minho, yang disangkanya sebagai kekasih
key.
>Flashback on<
“Berdasarkan segala
bukti dan keterangan saksi, menyatakan saudara Lee Jinki bersalah atas tindak penyelundupan
dan pengedaran obat-obatan terlarang dan menjatuhkan pidana penjara selama 15
tahun kurungan. DOK. .DOK. .DOK!!!” pada akhirnya hakim membacakan putusan dan
di sahkan dengan ketok palu hakim.
Suasana menjadi riuh,
terdengar sorak sorai dari beberapa orang yang pro dengan putusan hakim, tapi
aura berbeda terpancar dari pendukung lee jinki yang terlihat shock dengan
putusan tersebut, terlebih lee joon. Ia menatap punggung adiknya dari belakang,
terlihat tertunduk pasrah. Semburat kekecewaan terpancar jelas ketika lee jinki
berpapasan dengan lee joon sesaat sebelum di arak masuk ke mobil tahanan.
Ketika mobil tahanan yang membawa adiknya berlalu, lee joon mengalihkan
pandangannya pada sosok minho yang berdiri tak jauh darinya, tersenyum
meremehkan, seolah mengejek dan menertawakan kekalahan keluarga lee di
persidangan.
“Kau akan membayarnya,
ingat itu!!” ucap lee joon sambil berlalu masuk dalam mobilnya, diikuti seluruh
anak buahnya. Sesaat sebelum mobilnya berlalu ia menatap sinis kearah minho,
sorot matanya menusuk, tersirat rasa dendam yang teramat sangat.
>Flashback off<
“Kau yang akan membayar
kelakuan kekasihmu itu” ucap lee joon lagi, dengan seringaian khasnya.
Kemudian ia
memerintahkan anak buahnya untuk memasangkan sesuatu ke badan kurus key,
terlihat seperti rompi anti peluru yang sering digunakan para aparat
kepolisian, tapi ada yang sedikit berbeda, ada sebuah perangkat yang terlihat
seperti jam digital yang tersambung dengan berbagai macam kabel berwarna-warni.
Key kembali berontak, entah mengapa perasaannya mengatakan kalau akan terjadi
hal buruk. Dan benar saja, mendadak tubuhnya lemas, seolah tulang-tulang dalam
tubuhnya melunak setelah mendengar sesuatu yang dikatakan lee joon.
“Berhentilah berontak
cantik, hari ini akan menjadi hari terakhirmu di dunia” ucap lee joon dengan
senang, tertawa terbahak-bahak seolah menikmati ketakutan dari ekspresi wajah
key.
“Andwe. .apa yang akan
kau lakukan?” kata key dengan gugup, sorot matanya penuh dengan kecemasan,
menatap intens lee joon yang kini menunjukan seringaiannya.
“Bila ku tekan tombol
merah ini, maka kau akan segera pergi ke surga cantik. Tubuh mu akan hancur tak
bersisa. Kau tau kenapa? Karena di tubuh mu saat ini terpasang bom yang dapat
meledak setiap saat ketika ku menginginkannya. .hahaha” jelas lee joon sambil
menunjukkan sebuah benda seperti remote yang di tengahnya ada sebuah tombol
berwarna merah, mungkin itu tombol yang dimaksud lee joon.
“Andwe. .jangan lakukan
itu padaku, ku mohon. .” melas key, kini air matanya benar-benar telah mengalir
menganak pinak, tak dapat menyembunyikan rasa takutnya.
“Kau akan pergi dengan
tenang. Ku beri kau kesempatan terakhir untuk melihat kekasihmu yang brengsek
itu. Kau bisa mati dengan tenang dihadapannya. Dan aku ingin melihat ekspresi
wajah kekasihmu ketika melihat tubuhmu hancur dihadapannya. Hahaha” kembali jee
joon tertawa layaknya psikopat, yang bahagia menyiksa korbannya.
“Turunkan dia di gang
dekat kantor kejaksaan, aku yakin si brengsek itu pasti akan terkejut dengan
hadiah yang kita kirimkan” ucap lee joon lagi, kini pada anak buahnya. Tak lupa
ia menyalakan timer yang berada di rompi key sebelumnya.
Tiba-tiba tubuh key di
dorong keluar dari van, ia terjatuh terguling ke badan jalan, dan seketika
menjadi pusat perhatian puluhan orang yang sedang berada disekitarnya. Di
tubuhnya kini melekat sebuah bom, dengan timer waktu yang mulai berjalan,
menimbulkan bunyi pada tiap detiknya ketika waktu mulai berjalan. Mobil van itu
pun melaju dengan segera meninggalkan key di tengah keramaian. Tatapan aneh
mulai ditujukan pada key. Beberapa orang mulai berbisik seolah mengintimidasi.
Key mencoba bangkit, ketika dirasa kakinya terasa sakit untuk berjalan,
ternyata lututnya terluka dan berdarah. Celana jeans yang ia gunakan ternyata
tak cukup mampu menahan gesekan dengan aspal. Dengan tertatih ia mencoba
berdiri dan meminta bantuan orang-orang disekitarnya, tapi tak satupun yang
tergerak untuk menolongnya. Bahkan beberapa orang yang menyadari bom ditubuh
key pun mulai berteriak, mengingatkan beberapa orang lainnya agar berhati-hati.
Alhasil, semua orang pun mulai panik dan berlarian menjauh dari key. Ketika key
mendekat, mereka berlari kearah lain seolah tak peduli. Mereka takut bom itu
meledak dan melukai diri mereka sendiri, hanya tatapan iba yang didapat key.
Mereka berempati pada kondisi key, tanpa mampu berbuat lebih. Key pun semakin
frustasi karena tak seorang pun diantara mereka yang mau menolongnya. Ia
berjalan terseok kearah bok telepon umum, ketika sampai ia masuk dan seketika
tubuhnya ambruk. Kini ia merasa harapannya untuk hidup telah sirna, tinggal
menunggu waktu ketika bom itu meledak dan menghancurkan tubuhnya. Key menangis
tersedu-sedu ditengah berpuluh-puluh mata yang menatapnya iba. Suara sirine
mobil polisi pun menggema semakin mendekat, dan dalam hitungan detik telah tiba
tak jauh dari tempat key berada, seolah membuat barikade agar masyarakat sipil
tidak mendekat. Kini daerah sekitar key mendadak sepi, beberapa petugas
kepolisian bergerak mengevakuasi masyarakat ke tempat yang lebih aman. Tinggal
key terduduk di dalam bok telepon dengan wajah pucat. Ia tak dapat berpikir lagi,
bahkan untuk merespon keadaan sekitarnya. Tiap detik yang berlalu seperti pisau
yang memutus tiap urat dalam tubuhnya satu-persatu. Dadanya terasa sesak,
hampir tak bisa bernafas. Persendiannya terasa ngilu. Jantungnya berdetak
berkali-kali lipat, aliran darahnya terasa panas. Gendang telinganya berdengung
tak jelas, pandangan matanya mulai mengabur karena air mata yang tak
henti-hentinya mengalir. Tubuhnya tak berhenti bergetar, ketakutan. Sudah
tibakah waktu untuknya mati???
Sesosok namja tampan
nampak turun dari sebuah mobil, di ikuti beberapa orang di belakangnya. Minho,
ia datang setelah menerima laporan dari warga bahwa ada seorang namja yang
ditubuhnya terpasang bom tak jauh dari kejaksaan. Dengan segera, ia menghubungi
pihak terkait, seperti kepolisian dan pasukan penanggulangan bom, dan beberapa
snipper untuk berjaga-jaga kalau saja ini merupakan aksi terorisme. Terlihat ia
mengkoordinasi beberapa pasukan yang ia bawa. Beberapa snipper telah di
tempatkan di beberapa tempat strategis, seperti di atas gedung agar lebih mudah
akses pengintaiannya.
“Dimana namja itu?”
tanya minho pada beberapa petugas kepolisian yang mendampinginya.
“Didalam box telepon
itu” jawab salah seorang petugas kepolisian sambil menunjuk kearah box telepon yang
letaknya agak jauh dari mereka berdiri.
Minho pun berjalan
mendekat kearah petugas itu menunjuk, dimana ada sebuah box telepon yang
didalamnya sepintas terlihat seorang namja terduduk dengan menangkup kedua
lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya yang tertekuk.
Siluet itu terlihat tak asing lagi bagi minho. Ia semakin mendekat tapi masih
dalam jarak aman, memicingkan mata untuk mempertegas penglihatannya. Seketika
matanya membulat seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. . .
“God, i. .i. .itu key”
ucap minho terbata, menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Tiba-tiba
tubuhnya menegang.
**********
TBC
Andweeee kenapa minhonya jahat sama key?? huks huks
BalasHapusjangan bikin keynya mati ya thor u,u Part selanjutnya ditunggu...
masih dlm proses chingu, he
BalasHapus