Halaman

Minggu, 20 Januari 2013

JONGKEY / YAOI / MISUNDERSTANDING (PART 2)

Jonghyun telah sampai di depan rumahnya, badannya basah kuyup kehujanan karena langit mendadak gelap dan memuntahkan isinya.

“Hufft, hari ini aku sangat sial. Harus menahan malu dan kehujanan. Ck. Menyebalkan!” rutuk jonghyun, yang tak henti-hentinya mengomel sejak turun dari bis dan harus berlari karena hujan tak mendengar permohonannya untuk menunda barang beberapa menit untuknya sampai kerumah.

Diputarnya knop pintu dan segera ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Gelap. Apa mungkin karena suasana di luar yang mendung? Padahal waktu baru menunjukkan pukul 4 sore. Jonghyun melepas jaket kulitnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Terlebih dahulu ia menghidupkan saklar lampu agar lebih terang. Mendadak kakinya terasa lemas, matanya melotot hingga hampir keluar. Wajahnya terlihat panik. Bagaimana tidak? Key tak ada. Hanya menyisakan borgol yang masih menempel pada kursi. Jonghyun menjambak rambutnya frustasi, apa yang di khawatirkannya terjadi sudah. KEY MELARIKAN DIRI!

“KEY!! DIMANA KAU!?” jonghyun berteriak seperti orang gila, tak lagi mempedulikan badannya yang masih basah kuyup. Tubuhnya ambruk ke lantai. Beberapa cairan bening lolos dari matanya, jatuh menyapu permukaan kulit wajahnya yang sedikit pucat karena kedinginan.

“Kembali. .jangan tinggalkan aku key” lirih jonghyun nyaris seperti berbisik.

“Ceklek” terdengar suara knop pintu terbuka, muncullah sesosok namja kurus dengan handuk tergantung di lehernya. Rambutnya basah, menyisakan beberapa bulir air dipermukaan kulitnya yang putih pucat. Terlihat lebih bersih dan segar. Jonghyun mendongak, terbelalak kaget mendapati sesosok namja yang tak lain adalah key, keluar dari kamar mandi.

“Key” lirih jonghyun seolah tak percaya pada pandangan matanya.

“Apa yang kau lakukan disitu? Kenapa kau duduk di lantai dengan badan basah kuyup?” tanya key polos, tak paham dengan apa yang telah terjadi. Diamatinya keadaan jonghyun yang berantakan dari ujung kaki hingga rambut.

“Aku menemukan kunci borgol yang tergeletak di atas meja. Jadi ku gunakan saja untuk membuka borgol. Kuputuskan untuk mandi, bukankah kau akan membelikan aku baju baru. Tak mungkinkan aku memakainya dalam kondisi badan yang bau?” jelas key panjang lebar, sambil berjalan melewati jonghyun dan duduk di sofa berhadapan dengannya.

“Lalu kau sendiri kenapa? Kenapa terlihat berantakan seperti itu? Apa kau takut aku pergi meninggalkan mu, merasa kehilangan eum??” ledek key menatap wajah jonghyun yang masih belum sepenuhnya sadar. Tak lupa senyuman nakal seolah menggoda.

Ditatapnya lekat-lekat wajah key, tanpa berkedip. Segera di palingkan arah pandangnya, untuk menutupi wajahnya yang bersemu merah. Malu.

“Anni, siapa yang takut? A. .aku tak takut kau tinggalkan!’ sanggah jonghyun dengan terbata, hal itu justru membuat key tertawa terbahak-bahak.

**********

Kini jonghyun dan key kembali pada kondisi seperti kemarin malam, terborgol dalam satu ikatan. Saat ini mereka sedang membersihkan rumah bersama-sama. Key menyapu dan jonghyun mengepel. Terlihat sedikit bersusah payah, karena tangan mereka yang terborgol satu sama lain menyusahkan untuk bergerak. Jonghyun sebenarnya enggan melakukan ini, tapi key mengomel tak henti-hentinya ketika berceramah tentang kondisi rumahnya yang kotor dan berantakan. Sekali lagi, entah mengapa jonghyun merasa tak berdaya dengan segala titah dari sang kucing.

“Hey, kenapa kau tak melarikan diri saja ketika berhasil membuka borgol?” tanya jonghyun di sela-sela kesibukannya mengepel.

“Apa kau menginginkan aku pergi?” key bertanya balik.

“Aku bertanya padamu, kenapa kau bertanya balik” sungut jonghyun, terlihat sebal.

“Entahlah. Walau ku tau kau menculikku. Tapi ku merasa kau tak berniat buruk padaku. Kau menjaga ku dengan baik. Dan. .aku merasa senang bersamamu” jawab key terus terang tapi terdengar lirih ketika mengatakan kalimat yang terakhir.

Jonghyun terdiam, entah mendengar atau tidak jawaban key seutuhnya. Tapi raut wajahnya berubah menjadi. .sulit diartikan. Biarlah menjadi rahasia, hanya Tuhan dan jonghyun yang tahu. Mendadak suasana hening, mereka sibuk dengan pikiran dan pekerjaan masing-masing. Hampir 2 jam lebih setelah kepulangan jonghyun tadi, mereka mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari melipat pakaian, menata kasur, membereskan barang yang berserakan, menyapu dan mengepel. Tak terasa waktu menunjukan pukul 18.30, waktunya makan malam. Apalagi seharian ini mereka berdua sudah bekerja keras, lelah itu sudah pasti.

“Hari ini kita makan apa?” ucap key duduk berhadapan dengan jonghyun, yang terlihat sedang berpikir.

“Entahlah, asal bukan mie. Aku bosan” ucap jonghyun datar sambil menopang dagu dengan tangan kanannya yang bebas tak terborgol.

“Ada apa saja di kulkas mu yang minimalis itu?” tanya key seolah meledek.

Jonghyun melirik key sekilas, merasa diremehkan. Walau pada kenyataannya kulkasnya itu memang tak pernah berisi makanan selain sayuran dan beberapa jamur terkadang baso atau sosis walau sangat jarang.

“Hanya ada sayur dan beberapa potong jamur” jawab jonghyun singkat.

“Baiklah akan ku buatkan makanan, tapi lepaskan dulu borgol ini” ucap key lagi, sambil mengibaskan ikatan borgol yang melekat pada tangan kanannya dengan tangan kiri jonghyun.

“Bisa apa kau? Apa ini alasan agar kau bisa lari dari ku?” tanya jonghyun sambil memicingkan kedua matanya seolah menyelidik tak percaya.

“Kalau aku ingin lari, sudah ku lakukan dari tadi. Sudahlah kalau tak mau tak apa-apa, ku bisa tidur lebih awal” jawab key jutek, sebal karena jonghyun tak juga percaya padanya.

“Yak, kenapa ketus sekali jawabanmu. Aku hanya bercanda” ucap jonghyun sambil merogoh saku celana yang berisi kunci borgol, sesaat kemudian memasukkan pada lubang dan terbukalah ikatan mereka berdua.

“Apa kau yakin? Hati-hati aku akan mencuri kesempatan untuk melarikan diri” ucap key cuek sambil berdiri menuju dapur setelah sebelumnya mengambil beberapa sayuran dan jamur dalam kulkas.

Jonghyun tertegun, terlihat menatap punggung key lekat-lekat hingga akhirnya ia berlari tergesa kearah pintu, dan menguncinya. Tak lupa disimpannya kunci itu di saku celana, di tempat yang sama dengan kunci borgol tadi.

“Kau tak bisa pergi dari ku key” gumam jonghyun, dengan tangan terkepal dan wajah waspada yang justru membuatnya terlihat konyol.

**********

“Apa ini kau yang membuatnya” tanya jonghyun tak percaya, setelah melihat sajian menu di atas meja. Menatap takjub.

Key berkacak pinggang seolah meremehkan jonghyun. Merasa puas dengan kreasinya saat ini. Ia menyulap sayur dan jamur menjadi hidangan yang tak kalah lezat dengan masakan restauran. Kemudian key duduk tepat dihadapan jonghyun dan mengambil posisi untuk makan, diikuti jonghyun yang segera mengambil sumpit dan mangkuk. Mereka makan malam berdua dengan khusyuk dan khidmat (?).

Beberapa jam setelah mereka makan malam bersama, kini mereka bersiap-siap untuk menjemput alam mimpi. Seperti biasa jonghyun tetap memborgol sebelah tangannya dengan tangan key, ritual wajib sebelum mereka tidur. Mereka telah berbaring bersebelahan, dengan pandangan kearah langit kamar. Untuk beberapa waktu suasana hening, hingga key memulai pembicaraan.

“Apa kau tau alasan kenapa aku di culik?” tanya key.

“Ne, karena kau kekasih dari seorang Choi Minho, jaksa terkenal itu. Karena itu kenapa kau tak putus saja dengannya, jadi kau tak harus mengalami hal ini” jawab jonghyun, dalam kata-katanya tersirat rasa cemburu pada sosok minho.

“Kau pasti kenal Keluarga Lee. Dia seorang pengusaha sukses dalam berbagai bidang, Ia tinggal berdua dengan adiknya yang bernama Lee Jinki. Mereka berdua mengambil alih perusahaan sejak kematian kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat. Tapi jalan yang mereka ambil salah, mereka justru terjerumus dalam lingkaran mafia perdagangan obat terlarang (narkoba). Beberapa bulan yang lalu tuan Lee Jinki, tertangkap dalam sebuah investigasi yang dilakukan oleh kekasihmu. Karena itulah sang kakak, Lee Joon mencoba menculik mu untuk menekan kekasihmu agar membatalkan tuntutan atas perkara yang menimpa adiknya” jelas jonghyun panjang lebar.

“Lalu apa yang akan di lakukan padaku bila minho tak bersedia?” tanya key lagi, kini mengalihkan pandangannya pada sosok jonghyun yang berada disampingnya.

“. . . . . . . .” tak ada jawaban, jonghyun hanya diam, pandangannya seolah menerawang jauh, entah apa yang dipikirkan, terlihat menyembunyikan suatu hal.

“Sebaiknya kita tidur, besok kita harus bangun pagi” ucap jonghyun mengabaikan pertanyaan key yang seharusnya ia jawab.

Mereka berdua mulai memejamkan mata, hingga beberapa saat kemudian keheningan tercipta. Hanya deru nafas teratur yang terdengar. Sudah tertidur mungkin? Tapi seorang namja cantik perlahan membuka matanya kembali, mengubah posisi tidurnya hingga berbaring menatap sosok namja yang tertidur disampingnya. Key, ia menatap jonghyun dengan pandangan sayu, seolah ingin mengatakan sesuatu yang selama ini mengganjal hatinya. Sebuah rahasia yang selama ini ia simpan rapat.

“Apa kau tau? Minho. .dia bukan kekasihku. Kami patner kerja, aku sebagai sekretaris sekaligus temannya, tak lebih seperti yang kau bayangkan” ucap key lirih hingga nyaris seperti berbisik, tepat di telinga jonghyun yang tengah tertidur. Kemudian ia semakin mendekat kewajah jonghyun, menatapnya untuk beberapa saat kemudian semakin dekat hingga hampir mencium keningnya. Tapi ia mengurungkan niatnya itu. Kembali pada posisi semula, membelai rambutnya perlahan dan kembali menutup mata. Beberapa saat setelah itu, sesosok namja kembali membuka mata, tak lain adalah jonghyun. . .Mungkinkah ia mendengar semuanya???

**********

Keesokan harinya.

Pukul 11.00 di sebuah ruang pengadilan, berkumpul banyak orang. Didominasi oleh banyak namja berpakaian serba hitam, setelan jas khas mafia-mafia. Apa lagi kalau bukan untuk memberi dukungan pada ketua mereka, Lee Jinki. Terlihat juga kakaknya, Lee Joon sedang duduk di kursi pengunjung beserta anak buahnya. Di muka pengadilan telah berjejer 3 hakim, seorang ketua dan 2 hakim anggota. Dihadapan hakim, seorang namja bermata sabit tengah duduk di kursi pesakitan dengan baju tahanan. Terlihat tenang tapi gurat kecemasan tetap terpahat diwajahnya yang tampan. Disampingnya, beberapa jaksa penuntut telah bersiap dengan segala keputusan yang akan di jatuhkan hakim pada terdakwa, Lee Jinki. Beberapa saat setelah hakim berunding, tiba saatnya untuk membacakan putusan.

**********

“Yak, apa yang kau lakukan, kenapa lama sekali berganti pakaiannya?” tanya jonghyun tak sabar di balik pintu kamar mandi. Wajahnya terlihat cemas, seolah berpacu dengan waktu.

“Ceklek” pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sesosok namja cantik dengan celana jeans dan kaos berwarna pink, key. Ia terlihat santai dan semakin cantik. Untuk beberapa saat jonghyun terpana, hingga teriakan key membuyarkan lamunannya.

“Berisik! Kenapa kau cerewet sekali. Memangnya kita mau pergi kemana, sampai kau tergesa-gesa seperti itu” ucap key sewot, setengah berteriak.

“Kita akan pergi jauh” ucap jonghyun kemudian setelah tersadar, dan menarik sebelah tangan key untuk segera pergi. Tapi belum sampai didepan pintu tiba-tiba pintu terbuka paksa, muncul 2 orang namja berpakaian hitam berbadan kekar, merangsek masuk tanpa permisi. Jonghyun dan key sangat terkejut, bahkan salah seorang namja kekar itu mendorong jonghyun hingga terjatuh. Key panik, dan membantu jonghyun untuk berdiri. Sesaat kemudian muncul namja lain yang disinyalir sebagai bosnya, tak lain adalah lee joon. Ia menatap key seolah binatang buas yang siap menerkam mangsanya. Dimatanya tergambar gurat kebencian yang teramat dalam. Key yang menyadari hal itu semakin takut, ia berusaha bersembunyi dibalik badan jonghyun. Jonghyun tak dapat berbuat banyak, niatnya untuk melarikan diri bersama key gagal. Pagi ini, ia berniat membawa kabur key ke manapun asal tak lagi berjumpa dengan bosnya itu, tapi jonghyun kalah cepat, hingga kini bosnya sudah berdiri dihadapannya beserta anak buahnya.

“Mau kemana kau?” tanya lee joon dengan wajah dingin, menatap jonghyun.

“Anni, aku tak ingin pergi kemana-mana. Hanya memberinya baju ganti, itu saja” sangkal jonghyun gugup, mencoba berbohong pada bosnya itu. Key yang berdiri dibelakang tubuh jonghyun menatap seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Padahal tadi jonghyun memaksanya untuk pergi, tapi sekarang ia menyangkalnya? Tapi key tak mengelak, ia tetap terdiam, seolah ingin melindungi kebohongan jonghyun.

“Bagus. Aku kira kau akan mengkhianatiku” ucap lee joon masih tetap dingin.

“Bawa dia” ucap lee joon lagi, pada anak buahnya. Diikuti kedua namja kekar tadi bergerak menyeret paksa key keluar rumah jonghyun. Key berontak, ditatapnya jonghyun yang masih terdiam ditempatnya, seolah ingin meminta tolong tanpa mampu berucap sepatah katapun. Jonghyun masih terdiam, dipandangnya key yang menatapnya haru, memohon perlindungan. Tapi jonghyun sendiri tak ada pilihan lain, ia tak mampu berbuat lebih. Buntu. Itulah yang terjadi pada otak jonghyun, ia tak mampu berpikir lagi. Ia takut sekaligus sedih. Ia tau apa yang akan terjadi pada key selanjutnya, oleh karena itu, malam ketika key menanyakan apa yang akan terjadi pada dirinya ia tak mampu menjelaskannya. Ia tak ingin melihat key terluka dan tersakiti.

“Ini bayaran untukmu” ucap lee joon sambil menyerahkan sebuah cek pada jonghyun, dan berlalu keluar rumah diikuti jonghyun dibelakangnya.

Dapat jonghyun lihat, key dipaksa masuk kesebuah van hitam bersama anak buah lee joon, sesaat sebelum pintu tertutup, jonghyun melihat tangan key berusaha menggapainya. Sesaat kemudian van tersebut telah meninggalkan jonghyun dalam kesendirian. Jonghyun mematung. Kini perasaan sakit menjalar keseluruh tubuhnya, terutama hatinya. Merasa bersalah pada key. Tak terasa sebuah kristal bening turun dari mata hazelnya, menyapu permukaan kulitnya yang kecoklatan. Kini ia menyadari, walau terlambat, suatu hal yang selama ini ia simpan dalam hati, tak mampu menyampaikannya secara terus terang pada sang empu yang kini telah pergi meninggalkannya. Ia menyesal, tak pernah punya keberanian untuk mengatakannya, hingga sekarang ia benar-benar tak punya kesempatan. Air matanya jatuh semakin deras.

**********

Di dalam mobil van, key tak henti-hentinya berontak mencoba melepaskan sekapan dari kedua namja kekar itu. Lee Joon yang berada disampingnya merasa jengah dan menampar pipi tirus key hingga semburat merah tercipta karena kerasnya tamparan. Sepertinya tamparan itu cukup untuk membuat key terdiam, berganti dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya yang tajam.

“Tak seharusnya kau mengalami hal seperti ini, kalau saja kekasihmu itu mau bekerja sama” ucap lee joon dingin, menatap sinis key yang tertunduk tak berdaya.

“Dia bukan kekasihku” ucap key lirih, mencoba menyangkal pernyataan lee joon.

“Hahaha, apa kau berniat menipuku dengan ucapan mu itu huh!!” teriak lee joon tepat dihadapan key.

“Apa pun kata-kata mu saat ini tak akan berarti. Tak akan mengubah kenyataan bahwa adik ku tetap masuk penjara” ucap lee joon dengan sinis, ia menatap mata key dalam seolah melampiaskan rasa bencinya pada sosok Minho, yang disangkanya sebagai kekasih key.

>Flashback on<

“Berdasarkan segala bukti dan keterangan saksi, menyatakan saudara Lee Jinki bersalah atas tindak penyelundupan dan pengedaran obat-obatan terlarang dan menjatuhkan pidana penjara selama 15 tahun kurungan. DOK. .DOK. .DOK!!!” pada akhirnya hakim membacakan putusan dan di sahkan dengan ketok palu hakim.

Suasana menjadi riuh, terdengar sorak sorai dari beberapa orang yang pro dengan putusan hakim, tapi aura berbeda terpancar dari pendukung lee jinki yang terlihat shock dengan putusan tersebut, terlebih lee joon. Ia menatap punggung adiknya dari belakang, terlihat tertunduk pasrah. Semburat kekecewaan terpancar jelas ketika lee jinki berpapasan dengan lee joon sesaat sebelum di arak masuk ke mobil tahanan. Ketika mobil tahanan yang membawa adiknya berlalu, lee joon mengalihkan pandangannya pada sosok minho yang berdiri tak jauh darinya, tersenyum meremehkan, seolah mengejek dan menertawakan kekalahan keluarga lee di persidangan.

“Kau akan membayarnya, ingat itu!!” ucap lee joon sambil berlalu masuk dalam mobilnya, diikuti seluruh anak buahnya. Sesaat sebelum mobilnya berlalu ia menatap sinis kearah minho, sorot matanya menusuk, tersirat rasa dendam yang teramat sangat.

>Flashback off<

“Kau yang akan membayar kelakuan kekasihmu itu” ucap lee joon lagi, dengan seringaian khasnya.

Kemudian ia memerintahkan anak buahnya untuk memasangkan sesuatu ke badan kurus key, terlihat seperti rompi anti peluru yang sering digunakan para aparat kepolisian, tapi ada yang sedikit berbeda, ada sebuah perangkat yang terlihat seperti jam digital yang tersambung dengan berbagai macam kabel berwarna-warni. Key kembali berontak, entah mengapa perasaannya mengatakan kalau akan terjadi hal buruk. Dan benar saja, mendadak tubuhnya lemas, seolah tulang-tulang dalam tubuhnya melunak setelah mendengar sesuatu yang dikatakan lee joon.

“Berhentilah berontak cantik, hari ini akan menjadi hari terakhirmu di dunia” ucap lee joon dengan senang, tertawa terbahak-bahak seolah menikmati ketakutan dari ekspresi wajah key.

“Andwe. .apa yang akan kau lakukan?” kata key dengan gugup, sorot matanya penuh dengan kecemasan, menatap intens lee joon yang kini menunjukan seringaiannya.

“Bila ku tekan tombol merah ini, maka kau akan segera pergi ke surga cantik. Tubuh mu akan hancur tak bersisa. Kau tau kenapa? Karena di tubuh mu saat ini terpasang bom yang dapat meledak setiap saat ketika ku menginginkannya. .hahaha” jelas lee joon sambil menunjukkan sebuah benda seperti remote yang di tengahnya ada sebuah tombol berwarna merah, mungkin itu tombol yang dimaksud lee joon.

“Andwe. .jangan lakukan itu padaku, ku mohon. .” melas key, kini air matanya benar-benar telah mengalir menganak pinak, tak dapat menyembunyikan rasa takutnya.

“Kau akan pergi dengan tenang. Ku beri kau kesempatan terakhir untuk melihat kekasihmu yang brengsek itu. Kau bisa mati dengan tenang dihadapannya. Dan aku ingin melihat ekspresi wajah kekasihmu ketika melihat tubuhmu hancur dihadapannya. Hahaha” kembali jee joon tertawa layaknya psikopat, yang bahagia menyiksa korbannya.

“Turunkan dia di gang dekat kantor kejaksaan, aku yakin si brengsek itu pasti akan terkejut dengan hadiah yang kita kirimkan” ucap lee joon lagi, kini pada anak buahnya. Tak lupa ia menyalakan timer yang berada di rompi key sebelumnya.

Tiba-tiba tubuh key di dorong keluar dari van, ia terjatuh terguling ke badan jalan, dan seketika menjadi pusat perhatian puluhan orang yang sedang berada disekitarnya. Di tubuhnya kini melekat sebuah bom, dengan timer waktu yang mulai berjalan, menimbulkan bunyi pada tiap detiknya ketika waktu mulai berjalan. Mobil van itu pun melaju dengan segera meninggalkan key di tengah keramaian. Tatapan aneh mulai ditujukan pada key. Beberapa orang mulai berbisik seolah mengintimidasi. Key mencoba bangkit, ketika dirasa kakinya terasa sakit untuk berjalan, ternyata lututnya terluka dan berdarah. Celana jeans yang ia gunakan ternyata tak cukup mampu menahan gesekan dengan aspal. Dengan tertatih ia mencoba berdiri dan meminta bantuan orang-orang disekitarnya, tapi tak satupun yang tergerak untuk menolongnya. Bahkan beberapa orang yang menyadari bom ditubuh key pun mulai berteriak, mengingatkan beberapa orang lainnya agar berhati-hati. Alhasil, semua orang pun mulai panik dan berlarian menjauh dari key. Ketika key mendekat, mereka berlari kearah lain seolah tak peduli. Mereka takut bom itu meledak dan melukai diri mereka sendiri, hanya tatapan iba yang didapat key. Mereka berempati pada kondisi key, tanpa mampu berbuat lebih. Key pun semakin frustasi karena tak seorang pun diantara mereka yang mau menolongnya. Ia berjalan terseok kearah bok telepon umum, ketika sampai ia masuk dan seketika tubuhnya ambruk. Kini ia merasa harapannya untuk hidup telah sirna, tinggal menunggu waktu ketika bom itu meledak dan menghancurkan tubuhnya. Key menangis tersedu-sedu ditengah berpuluh-puluh mata yang menatapnya iba. Suara sirine mobil polisi pun menggema semakin mendekat, dan dalam hitungan detik telah tiba tak jauh dari tempat key berada, seolah membuat barikade agar masyarakat sipil tidak mendekat. Kini daerah sekitar key mendadak sepi, beberapa petugas kepolisian bergerak mengevakuasi masyarakat ke tempat yang lebih aman. Tinggal key terduduk di dalam bok telepon dengan wajah pucat. Ia tak dapat berpikir lagi, bahkan untuk merespon keadaan sekitarnya. Tiap detik yang berlalu seperti pisau yang memutus tiap urat dalam tubuhnya satu-persatu. Dadanya terasa sesak, hampir tak bisa bernafas. Persendiannya terasa ngilu. Jantungnya berdetak berkali-kali lipat, aliran darahnya terasa panas. Gendang telinganya berdengung tak jelas, pandangan matanya mulai mengabur karena air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Tubuhnya tak berhenti bergetar, ketakutan. Sudah tibakah waktu untuknya mati???

Sesosok namja tampan nampak turun dari sebuah mobil, di ikuti beberapa orang di belakangnya. Minho, ia datang setelah menerima laporan dari warga bahwa ada seorang namja yang ditubuhnya terpasang bom tak jauh dari kejaksaan. Dengan segera, ia menghubungi pihak terkait, seperti kepolisian dan pasukan penanggulangan bom, dan beberapa snipper untuk berjaga-jaga kalau saja ini merupakan aksi terorisme. Terlihat ia mengkoordinasi beberapa pasukan yang ia bawa. Beberapa snipper telah di tempatkan di beberapa tempat strategis, seperti di atas gedung agar lebih mudah akses pengintaiannya.

“Dimana namja itu?” tanya minho pada beberapa petugas kepolisian yang mendampinginya.

“Didalam box telepon itu” jawab salah seorang petugas kepolisian sambil menunjuk kearah box telepon yang letaknya agak jauh dari mereka berdiri.

Minho pun berjalan mendekat kearah petugas itu menunjuk, dimana ada sebuah box telepon yang didalamnya sepintas terlihat seorang namja terduduk dengan menangkup kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya yang tertekuk. Siluet itu terlihat tak asing lagi bagi minho. Ia semakin mendekat tapi masih dalam jarak aman, memicingkan mata untuk mempertegas penglihatannya. Seketika matanya membulat seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. . .

“God, i. .i. .itu key” ucap minho terbata, menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Tiba-tiba tubuhnya menegang.

**********

TBC

2 komentar:

  1. Andweeee kenapa minhonya jahat sama key?? huks huks
    jangan bikin keynya mati ya thor u,u Part selanjutnya ditunggu...

    BalasHapus