“Drrrtttt. .drrttttt. .” HP key
bergetar di atas meja ruang tamu. Saat ini key sedang menata meja makan dengan
sangat indah, di hiasi lilin-lilin dan berbagai masakan yang menggugah selera.
Tak lupa bunga mawar putih yang beberapa jam sebelumnya ia beli di toko,
terpasang serasi dengan vas kristal bening. Ia berencana meminta maaf pada
jonghyun dengan mengajaknya makan malam romantis.
“Semua sudah siap” kata key puas,
mendapati kini meja makan telah disulap indah. Tersungging senyum tipis di
bibir mungilnya. Ia buru-buru berlari ke ruang tamu, karena HP nya terus
bergetar seakan tak sabar untuk segera diangkat.
“Yeoboseo” key mengangkat HPnya.
“Ku tunggu ditaman kota, sekarang”
kata seseorang dari seberang telepon, tak lain adalah jonghyun.
“Jjong, mian. .” belum selesai key
bicara, sambungan telepon telah terputus.
Key menunduk lesu. Merasa
bersalah. Mungkinkah jonghyun masih marah padanya? tanya key dalam hati. “Anni,
kalau dia masih marah tak mungkin menelepon dan menganjak ku bertemu” key
mencoba menghibur dirinya sendiri. Diliriknya
jam yang melingkar di tangan kirinya, pukul 23.37. Dengan segera, key berlali
ke luar rumah takut jonghyun menunggunya lama. Bahkan ia tak sempat memakai
mantelnya, ia hanya mengenakan kaos tipis dan jeans, padahal udara sangat
dingin. Benar saja, baru beberapa langkah dari keluar rumah tubuh key
menggigil, udara dingin tak segan menabrak kulitnya yang pucat. Key tak
menghiraukan keadaanya saat ini, ia hanya berharap segera sampai ke taman kota
bertemu jonghyun dan meminta maaf.
**********
“Hosh. .hosh. .hosh” uap putih mengepul
keluar dari mulut key, yang segera berpendar dan menyatu dengan udara dingin. Key
masih mengatur nafasnya yang tersengal. Ia berlari dari rumah jonghyun sampai
ke taman kota, karena ia tak menemukan taxi, mengingat ini sudah larut malam.
Bukannya tak ada taxi hanya saja itu memerlukan waktu untuk menunggu. Jarak
rumah jonghyun dengan taman tak begitu jauh, hanya perlu berjalan 30 menit
sudah sampai. Tapi kali ini berbeda, key menempuhnya dalam waktu 15 menit,
karena ia berlari. Tak mau mengecewakan jonghyun lagi, pikir key. Ia pendarkan
pandangannya menyapu setiap sudut taman, mencari sesosok namja yang ia cintai.
Mata key menyipit, seolah menemukan siluet yang ia cari. Siluet itu berdiri
memunggunginya. Hanya berjarak beberapa meter. Segera ia menghampiri.
**********
Key POV
“Jjong, apa kau lama menunggu ku?”
tanyaku setelah tepat berada di belakang namja, yang bisa kupastikan itu adalah
jonghyun. Jujur, kusedikit takut.
Seketika jonghyun menoleh, ia tersenyum.
Ya Tuhan mimpikah aku? tanyaku dalam hati.
“Anio key, ayo kita duduk” kata
jonghyun, mengajakku duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari tempat kami
berdiri saat ini.
Hening beberapa saat, kami sibuk
dengan pikiran masing-masing.
“Dulu. .sebelum aku bertemu dengan
mu, ku pernah punya namjachingu. Ia bernama taemin. Aku sangat menyayanginya.
Hingga suatu ketika karena kecerobohanku, ia menghilang” akirnya jonghyun
memulai pembicaraan.
Kumiringkan kepalaku menyimak
setiap ceritanya. Ia mengulum senyum, entah mengapa aku merasa aneh. Tak
seperti biasa.
“Tapi hari ini aku bahagia, karena
akan segera bertemu dengannya lagi” ucap jonghyun lagi.
Keningku mengkerut, benar-benar
tak paham dengan apa yang di bicarakan jonghyun saat ini, “apa maksud mu
jjong?” tanyaku.
Jonghyun menoleh, ia menatap
wajahku lama. Bibirnya terbuka, seperti akan mengatakan sesuatu. Hingga sebuah
mobil hitam terparkir di depan kami. Spontan kami berdua menoleh kearah mobil
itu. Aku tak bisa melihat siapa yang berada di dalam mobil, karena kaca mobil
yang gelap. Jonghyun bangkit dari duduknya, menatap lekat. Aku pun ikut
bangkit, mengikuti arah pandang jonghyun. Akhirnya 2 orang namja keluar dari
mobil itu. Salah seorang dari namja itu memakai setelan jas hitam, dan satunya
memakai jaket dengan hodie menutup kepalanya.
**********
Author POV
Key mempertajam matanya. Tiba-tiba
badan key bergetar, mundur beberapa langkah. Terlihat bias ketakutan
diwajahnya. Matanya tak lepas memandang namja jangkung yang memakai setelan jas
hitam. Dengan susah payah key menelan ludahnya. . .
“M. .minho” lirih key lemah.
**********
“Kajja” ucap jonghyun sembari
menggandeng tangan key.
“Shireo” tolak key.
Jonghyun pun menoleh kearah taemin
dan namja jangkung itu, ada perasaan ragu di hatinya. Benarkah ini akan menjadi
pilihannya? Dilihatnya taemin sepintas, terlihat lebih kurus, wajahnya juga
sedikit pucat. Tak ada ekspresi, wajahnya datar. Sementara namja jangkung itu
memeluk bahu kurus taemin dengan salah satu tangannya yang kekar. Tersenyum,
entah apa maksudnya. Terlihat mengerikan, walaupun wajahnya sangat tampan.
Jonghyun memejamkan matanya,
sepenggal bayangan masa lalunya kembali berputar dalam ingatannya. . .
“hyung, kelak apakah kau akan terus mencintaiku?” tanya taemin lugu,
bersandar pada bahu kekar jonghyun.
“tentu chagi, hari ini, besok, lusa, dan selamanya. .aku akan selalu
mencintai mu” jawab jonghyun mantap.
Dibuka matanya perlahan, kembali
pandangannya tertuju pada sosok key.
“Kajja” ucap jonghyun lagi.
“Shireo jjong” jawab key lagi,
kali ini di peganginya pergelangan tangan jonghyun erat, mencoba menahannya
agar tidak pergi.
Key menggelengkan kepala. Wajahnya
benar-benar pucat. Dipandanginya wajah jonghyun, menatap kedalam manik mata
hazelnya.
“Kau telah berjanji padaku jjong,
kau akan melindungiku. .membahagiakan ku” lirih key menahan isak tangisnya.
“Jjong, kumohon. .” key mengiba,
air matanya menggenang di sudut mata kucingnya.
Pandangan key dan jonghyun
bertemu, saling berbagi rahasia hati yang sulit di ungkapkan. Tapi di luar
dugaan, jonghyun melepaskan tangan key yang berusaha menahannya. Menyentaknya
dengan kasar, hingga tautan tangan mereka terlepas paksa. Jonghyun berbalik,
meninggalkannya. Menghampiri taemin, memeluknya erat. Seakan menumpahkan rasa
rindunya selama ini, dibelainya rambut taemin dengan mesra.
“J. .jj. .jjong. .” ucap key
terbata, tangannya memegang dada kirinya yang terasa sangat sakit.
**********
Jonghyun POV
Kupeluk bahu taemin, berjalan
beriringan meninggalkan key di belakangku, dengan namja jangkung yang
memaksanya masuk kedalam mobil. Key meronta, menjerit histeris. Masih bisa ku
dengar dia memanggilku, meneriakkan namaku. Sungguh, entah mengapa hatiku
terasa sangat sakit, mendengarnya menjerit pilu memanggil namaku. “Bukankah ini
pilihanku? Keinginanku? Yah. .ini yang terbaik, aku bisa menebus rasa bersalah
ku pada taemin” batinku. Ku menoleh untuk terakhir kalinya, kulihat key
berontak dalam pelukan namja jangkung itu. Dia memandangku sedih, dapat kulihat
jelas setetes air mata lolos menyapu kulit wajahnya. Tangannya terulur
kearahku, seakan ingin menggapaiku. Segera ku palingkan wajahku, tak ingin
melihatnya lebih. Tak lagi kudengar suaranya yang meneriakkan namaku, hanya
deru mobil yang semakin menjauh dari tempatku berada.
**********
Author POV
Jonghyun memapah tubuh taemin
masuk kedalam rumahnya. Didudukkannya tubuh kurus taemin di sofa ruang tamu. Ia
hendak ke dapur mengambil air minum, tiba-tiba pandangannya terhenti pada meja
makan. Lama, hanya terpaku. Diambilnya sebuah kartu berwarna merah muda
berbentuk hati, tak berniat membuka dan membacanya, hanya memandang sekilas
lalu di masukkannya lagi ke saku jaketnya. Dengan segera jonghyun menuang air
minum ke gelas dan kembali ke ruang tamu, menyerahkannya pada taemin.
**********
Dipandanginya taemin yang saat ini
tertidur pulas. Sejak awal bertemu taemin tak pernah bersuara, hanya terkadang
mendengungkan sesuatu yang tak jelas. Mungkin masih shock, pikir jonghyun.
Jonghyun beranjak bangkit dan menuju meja kerjanya, menyandarkan pantatnya pada
pinggiran meja. Matanya menerawang keluar jendela, menatap langit berhiaskan
bulan. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang.
**********
Keesokan harinya,
Jonghyun duduk berhadapan dengan
taemin. Tapi masih sama, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut taemin.
Pandangannya kosong. Bahkan makan pun, jonghyun yang menyuapinya, setelah
terlebih dulu delivery.
“Minnie. .mian, apa kau masih
marah hingga tak mau berbicara padaku? Aku tau, aku namja pabo yang tak bisa
menjaga namjachingunya sendiri” sesal jonghyun sambil menangkup wajahnya,
frustasi.
“Tapi. .tak bisakah kau memaafkan
ku, memberiku kesempatan untuk memperbaikinya? pinta jonghyun memelas.
Tak ada tanggapan. Jonghyun
menyadari, mungkin perlu waktu untuk taemin memaafkannya. Jonghyun bangkit dari
duduknya, menatap taemin sendu.
“Istirahatlah, aku akan
membereskan sisa makanan kita dulu” ucap jonghyun hendak meninggalkan taemin.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Jonghyun menoleh, didapatinya tangan
taemin menahan pergelangan tangannya.
“Hyung” lirih taemin, memandang
jonghyun dengan tatapan sendu.
“Minnie. .kau, kau memanggilku?”
tanya jonghyun tak percaya.
Tak ada jawaban, hanya sebuah
anggukan kecil dari taemin. Jonghyun segera menghambur, memeluk tubuh kurus
taemin, erat, seakan tak ingin kehilangannya lagi.
Sementara itu di lain tempat. . .
Sesosok namja tangannya terikat di
pegangan kursi, dengan mulut terbungkus plester. Matanya mengerjap menyesuaikan
dengan cahaya yang menyeruak masuk ke dalam pupil matanya. Beberapa saat, setelah
nyawanya terkumpul, menyadari keberadaan dirinya di sebuah gudang tua.
“Sweety, kau sudah bangun eum?”
tanya sesosok namja yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
“Mian. .kemarin aku terpaksa
membius mu karena kau terus berontak” ucapnya lagi.
Key menoleh, ekor matanya
mengikuti arah gerak namja itu. Mata key mendelik, marah. Ditatapnya sesosok
namja itu tanpa berkedip. Kini namja itu tepat dihadapan key, memandangnya
sesaat, lalu membuka plester di mulutnya.
“Kenapa matamu melotot sweety? Tak
rindukah kau dengan ku eum?” tanya namja itu sambil tersenyum.
“Aku merindukan mu. .mata, hidung,
pipi, dagu dan bibirmu” kata namja itu lagi, mengelus tiap bagian yang ia
sebutkan.
Perlahan namja itu mendekatkan
wajahnya, jaraknya hanya beberapa senti dari wajah key. Bahkan nafas hangatnya
terasa dipermukaaan kulit key. Key terhenyak dengan perbuatan namja itu.
Wajahnya melengos. Tapi dengan segera ditahan namja itu, agar kembali
memandangnya.
“Terutama bibir mu sweety” ucap
namja itu seduktif. Menahan dagu key, lalu memagut bibirnya.
Tak ada suara. Hanya tetes air
mata yang keluar dari sudut mata key. Namja itu menyadari, dan menghentikan
kegiatannya. Diusapnya lembut permukaaan wajah key yang basah dengan ibu
jarinya.
“Kenapa menangis sweety?” tanya
namja itu lembut.
“Apa kau masih marah? Baiklah aku
berjanji tak akan main-main dengan namja lain lagi. Kau sendiri lihat kan? Aku
sudah mengembalikan salah satu namja pada pemiliknya?” jelas namja itu panjang
lebar.
“Kau bilang apa? Salah satu? Lalu
bagaimana dengan namja lainnya yang masih kau sekap? Dan aku tak pernah
melupakan perbuatanmu terhadapku waktu itu!!” sengit key.
“Sweety. .‘mereka’ adalah asetku.
Tapi aku berjanji mulai sekarang hanya kau yang aku cintai, tak ada namja lain.
Kau juga bukan salah satu dari ‘mereka’, jadi aku tak berniat mengulanginya
lagi” ucap namja itu sambil mencium punggung tangan key yang terikat.
“Kita akan segera pergi dari korea
sweety, kita akan hidup bahagia bersama” ucap namja itu sembari bangkit dan
meninggalkan key.
“Kau. .b*jing*n! aku membenci mu
MINHO!!!” umpat key, mendelik tajam.
Namja yang merasa namanya
dipanggil, menoleh dengan senyum terkembang.
“Saranghae sweety” katanya, sebelum
benar-benar meninggalkan key sendiri.
Kembali, air mata menetes di wajah
cantik key.
“Kau gila minho” ucap key di sela
isak tangisnya.
>flashback on<
Key POV
“Minho, apa yang kau lakukan!!
Kenapa kau menjualku pada pria tua brengsek itu!! Teriak ku tepat di muka
minho.
“Ssssstttttt. .pelankan suara mu
sweety, kau bisa membuat rencana ku berantakan! bujuk minho.
“Kau bercanda kan? Kau tak
berencana menjual kekasihmu sendiri hanya karena tawaran uang dari pria
brengsek itu kan?? tanya ku, tapi lebih mirip seperti bentakan.
Yak, bahkan aku baru tau beberapa
waktu yang lalu kalau minho, namjachinguku ternyata seorang bos besar dalam
kasus perdagangan manusia. Ia sangat rapi menutupi identitasnya dariku. Aku
mengenalnya pertama saat tiba di seoul, dia menawariku bekerja sebagai pelayan
di sebuah kapal, yang ternyata adalah miliknya sendiri. Ia sendiri berpura-pura
sebagai ABK di kapal. Aku pun tak menaruh curiga. Hingga suatu hari ia
menyatakan cintanya padaku, dan bodohnya aku menerimanya hanya karena sikap
palsunya itu. Hingga suatu saat aku memergokinya disebuah kamar bersama namja
lain sedang melakukan ‘itu’, tak perlu ku jelaskan tentu kalian sudah mengerti
maksudku. Bahkan denganku sekalipun ia tak pernah melakukannya, bukan karena
aku iri. Aku merasa terkhianati. Seketika itu seluruh rasa cintaku menguap tak
bersisa, aku menyesal pernah mencintainya. Dia terlihat kaget ketika aku
memergokinya. Aku berlari meninggalkannya. Ia beranjak dan mengejarku setelah
sebelumnya memakai pakaiannya terlebih dulu. Entah bagaimana caranya, ia
berhasil mengejarku. Ia bersujud dan menangis dihadapanku, meminta maaf. Setan
apa yang merasuki pikiranku hingga dengan mudah ku terjerat kembali dalam
perangkapnya. Tapi sekarang beda kasusnya, ia menjualku pada rekan bisnisnya
dari prancis. Pria tua hidung belang.
“JAWAB AKU BR*NGS*K!! APA KAU BISU
HAH!!” umpatku, entah sejak kapan aku bisa memaki orang seperti ini, ini bukan
diriku .
“PLAKK!!” tiba-tiba minho
menamparku dengan sangat keras, membuat tubuhku terpelanting ke lantai.
“Jangan bicara kotor padaku
sweety, atau aku akan berbuat kasar padamu eum” seringai minho.
Kuseka ujung bibirku yang
berdarah, sobek karena tamparannya tadi. Kutersenyum padanya, berniat meremehkan.
“Apa sekarang kau puas, minho?
Hahahaa. . .” mungkin aku sudah gila, bukannya takut dan menangis, justru
sekarang aku menertawakannya.
“Apa karena tamparanku, kau
mendadak gila sweety?” hina minho padaku.
“Sepertinya begitu. .hahaha,
sekarang aku tau siapa dirimu, kau tak lebih dari KO-TO-RAN!! kata ku penuh
penekanan pada tiap bagiannya.
“Aku tak akan lagi tertipu, dan
masuk perangkapmu!!” bentak ku kemudian.
Kulihat raut wajahnya berubah.
Sorot matanya menatapku tajam, penuh kilat amarah. Rahangnya tertutup rapat.
Tangannya terkepal, seluruh badannya pun ikut menegang. Tapi tiba-tiba ia
tersenyum, membuatku sedikit ngeri.
“Bawa dia” perintah minho pada
salah satu anak buahnya disudut ruangan.
“Sweety. .akan ku jadikan kau
parsel untuk rekan kerjaku, aku yakin dia pasti sangat senang” ucap minho
kemudian dengan senyum terkembang.
“Tidak! dia benar-benar gila. Apa
maksud perkataannya barusan?” tanyaku dalam hati. Berganti, kini kurasakan
tubuhku yang menegang.
Minho meninggalkanku, menyisakan
kedua anak buahnya yang sekarang menatapku seolah ingin memakan ku hidup-hidup.
Mereka semakin mendekat dan. . .
“Tidaaaaaakkkkkk” teriak ku sekuat
tenaga.
>flashback off<
**********
Author POV
“Jjong. .”
“Jjong. .”
Kepala jonghyun bergerak kekiri
dan kekanan, tak tentu arah. Keringat di kening jonghyun terlihat jelas,
membanjiri permukaan kulit wajahnya yang kecoklatan. Terlihat mengkilap,
dibawah terpaan sinar bulan yang menerobos masuk lewat celah ventilasi dan
jendela yang tirainya dibiarkan terbuka. Keningnya mengkerut. Matanya masih
terpejam, seolah menyatu dengan alam bawah sadarnya.
“Jjong. .”, kembali
bisikan-bisikan itu terngiang di telinga jonghyun. Tak nyenyak. Bahkan dalam
tidur pun jonghyun tak pernah bisa lepas dari bayangan key. Bagai penjahat yang
di kejar rasa berdosa.
“Key. .” lirih jonghyun, masih
dengan mata terpejam.
“Hyung. .hyung bangun!” ucap
taemin yang tidur disamping jonghyun, sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya
perlahan.
Jonghyun terperanjat dan segera
membuka matanya, kembali ke dunia nyata. Dunia dimana tak ada lagi key
disampingnya. Tak ada lagi ocehannya. Tak ada lagi sikap manjanya. Tak ada
lagi. . .lenyap.
Jonghyun masih mengatur nafasnya
yang tersenggal. Sementara taemin terus memperhatikan wajah jonghyun. Kini
tangannya ia gunakan untuk menyeka keringat dipelipis jonghyun, kemudian turun
menggengam erat salah satu tangan jonghyun, memberikan ketenangan.
“Kau mimpi buruk lagi hyung” ucap
taemin.
**********
Sudah hampir seminggu jonghyun dan
taemin tinggal bersama. Namun suasana rumah tak seramai ketika key disana.
Walau begitu jonghyun tetap mencoba tersenyum, terlebih ia merasa sangat
bersalah pada taemin selama ini. Hingga ia menyadari suatu hal penting dalam
hidupnya, tapi sudah terlambat. . .
“Apa kau membenci ku hyung?” tanya
taemin dengan suara parau.
Jonghyun masih terdiam.
Pandangannya nanar. Tangannya membawa secarik kertas dengan kop bertuliskan “SAMSUNG
MEDICAL CENTER”.
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa
begini?” lirih jonghyun dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Punggungnya ia
sandarkan pada sofa.
“Selama aku diculik, aku tinggal
bersamanya. Ia sangat baik padaku. Ia memberikanku kamar terpisah, berbeda
dengan namja lain yang disekap. Bahkan ia sering mengajakku jalan-jalan. Ia
memperlakukan ku berbeda, sangat spesial. Bahkan aku merasa tidak sedang
diculik. Lambat laun, aku terbiasa akan kehadirannya dalam hidupku. Hingga ku
yakin bahwa aku. .” kata taemin tertahan, kemudian ia melanjutkan perkataannya.
.
“Aku. .aku mencintainya” taemin
mulai terisak.
Jonghyun menoleh, matanya melotot
seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
“Mian hyung, aku mengkhianati
cintamu. .tapi sungguh, aku tak mampu tanpanya” kini air mata taemin mulai
tertumpah.
“Bahkan, karena besarnya rasa
cintaku padanya. .aku rela dijual pada banyak pria, asal dia tetap bersamaku.
Entah sudah berapa banyak pria yang menyentuhku. Terkadang aku merasa marah dan
jijik pada diriku sendiri, tapi ketika melihatnya tersenyum padaku semua rasa
itu melebur. Hingga beberapa waktu lalu, ia bilang akan mengembalikanku padamu.
Aku tak mau, bukan karena aku membenci mu tapi aku jauh lebih mencintainya
dibanding dirimu hyung, egoiskah itu hyung?? mian. .” ucap taemin masih dengan
air mata berderai.
>flashback on<
“Hyung, ku mohon. .aku tak mau
kembali” bujuk taemin.
“Tapi aku tak punya pilihan lain
honey” jawab namja itu.
“Aku harus mengembalikanmu, karena
aku membutuhkan ‘orang’ itu. Dia sangat berharga” kata namja itu lagi.
“Tapi kenapa harus aku? Kenapa
harus di tukar denganku? Kenapa tidak dengan namja lainnya?” rengek taemin.
“Karena hanya kau, alasan terkuat
untuk memaksanya mengembalikan ‘orang’ itu pada ku lagi” jawab namja itu, kini
dengan senyum terkembang.
Taemin menggeleng, “tidak hyung,
aku tak mau. .aku janji akan bersikap lebih baik, aku akan menuruti perintahmu,
aku tak peduli kau menjualku pada siapapun asal aku tetap bisa bersamamu” bujuk
taemin lagi, kini air matanya mulai tertumpah mengharap iba dari namja yang
dicintainya.
“Mianhe honey” hanya kalimat itu
yang keluar dari mulut sang namja.
“Kau. .kau tega hyung, padahal aku
sangat mencintaimu, minho hyung” ucap taemin lirih.
>flashback off<
“Apa kau masih bisa mencintainya
Minnie? Setelah kau baca ini!” bentak jonghyun dengan mengangkat kertas yang
dipegangnya tadi keudara, tepat didepan wajah taemin.
Diambilnya kertas itu dari tangan
jonghyun, dibuka dan dilihatnya lagi. Mengulum senyum, miris. Matanya
berkaca-kaca. Entah sudah berapa kali lembaran kertas itu ia lihat sejak pulang
dari Rumah Sakit, hasilnya tetap sama, tak berubah.
“AIDS” lirih taemin, kembali air
matanya menetes.
“Tak banyak waktu yang kupunya
hyung” kini taemin telah menangis tersedu-sedu, seakan tak bisa lagi menahan
derita dan luka hatinya.
Jonghyun pun beranjak bangkit,
direngkuhnya tubuh kurus taemin. Dipeluknya erat hingga menempel pada perutnya.
Dielus perlahan helai rambutnya yang lurus. Air matapun berderai, seakan ikut
merasakan sakit yang teramat. Marah, bukan karena taemin tak mencintainya lagi.
Tapi kenapa takdir seolah mempermainkan hidup taemin, key dan dirinya?
“Aku akan menjagamu minnie” lirih
jonghyun masih memeluk taemin.
**********
Awal musim semi,
Jonghyun berjalan masuk ke sebuah
gerbang dengan ornament batu disisi kanan dan kirinya. Ia membawa sebuket mawar
merah dengan kelopak yang masih segar dan basah. Langkahnya sangat teratur,
sesekali ia tersenyum. Hingga tiba di tempat yang ia tuju, langkahnya terhenti.
Dibawah pohon besar, dedaunan yang lebat dan menjuntai, rimbun. Menatap
gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan ‘TAEMIN’. Ia berjongkok, salah satu
kakinya ia tekuk untuk menopang berat tubuhnya.
“Bagaimana kabarmu Minnie? Jauh
lebih bahagiakah?” sapa jonghyun dengan senyum tersimpul.
Tiba-tiba angin berhembus perlahan
menggerakkan dedaunan, bergesek satu sama lain, melambai-lambai. Menerpa permukaan
kulit jonghyun, seolah memberikan jawaban atas pertanyaan yang ia berikan.
Sesaat tak ada suara, suasana kembali hening, hanya terdengar kicau burung
samar-samar.
“Masih pantaskah aku, untuk
sekedar mencari dan memintanya kembali Minnie?” mendadak suara jonghyun menjadi
berat, menahan tangis mungkin.
>flashback on<
Jonghyun terduduk di kursi,
tempatnya biasa bekerja ketika di rumah. Dipandanginya kartu ucapan berbentuk
hati dan berwarna merah muda yang ia temukan di meja makan waktu itu.
Mengumpulkan keberanian yang tersisa darinya untuk membaca. Ya, sejak pertama
menemukan hingga saat ini jonghyun belum sekalipun membacanya. Ia takut. Takut
dengan kenyataan yang akan ia dapat. Ia takut menyadari suatu hal yang akan
membuatnya lebih terluka.
Dengan tangan gemetar ia
memberanikan diri membuka kartu ucapan itu perlahan,
“Jjong,
kau masih marah padaku? Aku tahu, aku keterlaluan. Tak seharusnya aku bersikap
kekanak-kanakan seperti tadi. Sungguh, aku menyesal. Aku tak bisa tanpa mu. Aku
tau kau sangat mencintaiku, jadi tak ada alasan untuk meragukan kesetiaanmu
padaku. Mianhae jjong. .saranghae”
Kepala jonghyun tertunduk.
Tangannya masih memegang erat kartu ucapan itu. Kini satu persatu air matanya
seakan berlomba untuk segera keluar dari wadah yang menampungnya.
“Key.
.mian, jeongmal mianhae” lirih jonghyun.
“Kau salah
key, aku bukan namja yang baik, aku mengkhianatimu. Tak hanya itu, aku bahkan
melupakan janjiku padamu”, mengingat lagi kata-kata yang pernah ia ucapkan pada
key. . .
“Baby, jangan menangis lagi ne? mulai sekarang
aku akan menjaga dan melindungimu, tak akan ku biarkan orang lain menyakitimu.
Jadi berjanjilah padaku jangan biarkan air matamu jatuh mulai saat ini, kan ku
buat kau bahagia”
“Justru akulah yang membuatmu
menangis key” sesal jonghyun, pundaknya berguncang, tangisnya pecah.
Disudut lain ruangan itu, tampak
sepasang mata memperhatikannya dari balik tembok tempatnya berdiri. Air matanya
pun ikut mengalir, dengan punggung tangan menutup mulutnya, menahan suara isak
tangis. Ia berjalan mendekat kearah jonghyun. . .
“Hyung. .” lirih taemin, saat
sampai di hadapan jonghyun.
Jonghyun mendongak, didapatinya
taemin menatapnya iba. Percuma untuk jonghyun menyembunyikan kondisinya saat
ini, taemin terlanjur melihatnya menangis.
“Mian minnie, aku. .” ucap
jonghyun sambil menyeka air matanya.
“Jujurlah hyung. .beberapa waktu
aku tinggal bersama mu, setiap malam kau selalu mengigau dan menyebut nama
‘key’. Apakah dia namja waktu itu?” tanya taemin tanpa basa-basi, mendekat
kearah jonghyun.
“Hyung, kau sangat mencintainya.
Hanya saja kau tak menyadari itu. Tak mau mengakui, karena rasa bersalah mu
padaku. Rasa bersalah yang membuat kau menutup hati dan melepaskannya” jelas
taemin lembut.
“Aku tau, bahkan sejak awal. Sejak
kau meninggalkannya waktu itu, walau kau tak bicara sepatah katapun, tapi
tatapan mu mewakili semua perasaanmu. .kau mencintainya”
“Sekarang kita tau perasaan
masing-masing, aku mencintai minho dan kau mencintai key. Belum terlambat
bagimu hyung, kembalilah padanya. .”
“Tidak seperti aku, aku tak punya
banyak waktu untuk memperjuangkan cintaku hyung. .seburuk apa pun pendapat
orang tentang minho, dia segalanya bagiku. Aku. .aku tak pernah menyesal
mencintainya” ucap taemin seraya membelai rambut jonghyun. Kembali air matanya
tertumpah, seolah meluapkan seluruh isi hatinya dengan jujur.
>flashback off<
**********
TBC
Taeminnya mati?? Yeaeayyyy *dilempar taemints JONGKEY bersatu!!
BalasHapus